Advertisement

27.6.17

Gus Dur, Istana Merdeka benar benar menjadi istana rakyat.

 
Saat lebaran, Presiden Gus Dur ingin open house di Istana Merdeka. Menerima rakyat, siapapun dan dari manapun, dalam suasana Idul Fitri. Gus Dur ingin istana kepresidenan menjadi benar-benar istana rakyat.
Bagian kerumahtanggaan istana menyarankan agar presiden menerima rakyat di teras istana saja. Apa daya, Gus Dur malah bersikeras ingin agar Open House digelar di ruang utama (credential room), tempat presiden menerima presiden negara ─║ain, duta besar, dan tamu kehormatan negara lain.

Perkaranya, karpet di ruang utama masih kinyis-kinyis, masih baru. Gres.
"Lha karpet itu kan rakyat juga yang beli...." jawab Gus Dur menegaskan keinginannya.

Maka, jadilah momentum Idul Fitri tahun 2000 itu Lebaran Rakyat. Ribuan rakyat antri mengular ingin menikmati Istana Merdeka dari dekat. Ada yang bersepatu dan berpakaian rapi, ada yang bersarung, bahkan ada yang bercelana kumal bersandal jepit karet yang talinya disambung rafia karena putus. Yang terakhir ini berasal dari Lamongan, demikian pengakuan pria ini kepada wartawan. Ia berangkat khusus demi momentum ini.

Rombongan tuna netra juga hadir, tukang kebon dan pasukan kuning di Tugus Monas malah hadir dengan baju kebesaran berwarna oranye dan aroma yang khas sampah. Anak-anak jalanan juga datang diiringi orangtuanya. Semua diterima oleh Presiden Gus Dur.

Lucunya, Menteri Pertahanan Mahfud MD bersama istri yang datang telat memilih ikut antri, meski sebagai anggota kabinet ia bisa melewati jalur khusus. Pak Mahfud malah senyum-senyum meladeni rakyat yang ingin berjabat tangan dengannya.

Hari itu, istana megah benar-benar dikukuhkan Gus Dur sebagai istana rakyat dan mereka dijamu dengan spesial. Karpet istana yang mahal dan mewah, yang dibeli memakai uang rakyat, benar-benar dinikmati rakyat. Karpet berwarna biru tua dengan kembang-kembang kuning keemasan di sepanjang tepiannya itu telah kumal terinjak oleh kaki rakyat yang sebelumnya menjejak gerimis di tanah.
Hari itu, Istana Merdeka benar benar menjadi istana rakyat.
(Diolah dari "Presiden Gus Dur: The Untold Story", karya Pak Priyo Sambadha Wirowijoyo, hlm. 82-88)
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

24.6.17

As-Shirat al-Mustaqim: Kitab Fiqh Generasi Awal di Nusantara

 

Berkenalan dengan As-Shirat al-Mustaqim: Kitab Fiqh Generasi Awal di Nusantara
Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif Wan Nasyr PCNU Kota Surabaya)
Jika pengokohan Islam di Jawa diawali dengan penguatan nilai nilai Islam melalui ajaran tasawuf, di Sumatera lebih kental nuansa fiqh-nya. Syekh Nuruddin Ar-Raniri, mutfi Aceh era Sultan Iskandar Tsani memproteksi rakyat dari ajaran tasawuf falsafi-nya Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Syamsudin Sumatrani, yang sebelumnya mendapatkan panggung di era Sultan Iskandar Muda. Pengokohan aspek fiqh Madzhab Syafi'i ini lebih menguat tatkala ulama kelahiran India ini menyusun kitab fiqh, As-Shirath al-Mustaqim.

Inilah kitab yang ditengarai sebagai karya komprehensif pertama yang ditulis ulama (yang ada) di Nusantara (meskipun Arraniri lahir dan wafat di India) yang membahas fiqh Madzhab Syafi'i. Karya setebal 347 halaman ini ditulis menggunakan bahasa Melayu klasik, beraksara Arab-Melayu, dan diulas dengan cermat dan taktis untuk pemula non Arab atau dalam bahasa penulis "....liyantafi'a bihi man la yafhamu bilisanil Arabi".

Kitab ini merupakan hasil perasan dari Minhajut Thalibin-nya Imam Nawawi, Minhajut Thullab-nya Imam Zakariyya al-Anshari, Hidayatul Muhtaj Ibnu Hajar, kitab Anwar-nya Imam Ardabili, serta kitab 'Umdatus Salik, sebagaimana keterangan dalam pengantar kitab ini.

Yang luar biasa adalah upaya Syaikh Arraniri yang lahir di India, menjadi mufti di Aceh, lalu kembali ke tanah kelahirannya dalam membumikan Madzhab Syafi'i di Nusantara. Beliau menjadi "koki intelektual" yang meracik pelbagai kitab berbahasa Arab untuk disajikan menggunakan bahasa Melayu bagi orang-orang awam. Syaikh Nuruddin diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Ranir, India dan wafat pada 21 September 1658. Pada tahun 1637, ia datang ke Aceh, dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di sana hingga tahun 1644. Ar-Raniri, yang namanya diabadikan menjadi perguruan tinggi di Banda Aceh, juga terkenal karena menulis banyak karya. Total ada 30 kitab yang dia tulis. Adapun yang masyhur adalah As-Sirath Al-Mustaqim dan Bustan As-Salatin.

Bapak Ideologis Madzhab Syafi'i di Nusantara

Syaikh Arraniri bisa dikatakan menjadi bapak ideologis Madzhab Syafi'i di Nusantara karena murid-muridnya menjadi pengembang madzhab ini dan memberikan sumbangsih dalam pembumian madzhab ini. Misalnya, Syaikh Abdurrauf Assinkili memberi komentar atas kitab Sirath al-Mustaqim melalui karyanya, Mir'atut Thullab, yang kabarnya kemudian dikembangkan lagi oleh ulama top asal Banjar, Syaikh Arsyad al-Banjari, melalui kitab Sabilul Muhtadin. Bahkan sampai saat inipun, kitab Sabilul Muhtadin tetap menyertakan Sirath al-Mustaqim di halaman tengah.

Ditinjau dari segi teknis, pola penulisan aksara Pegon menggunakan bahasa Melayu ini sedikit berbeda dengan yang dipakai di pesantren. Misalnya di kitab ini, "bu-ku" ditulis menggunakan huruf (ba') dan (kaf), tanpa ada (waw) sama sekali. "Ma-ka" ditulis (mim) dan (kaf), bukan mim-alif-kaf-alif. Juga banyak sekali yang berbeda dengan pola penulisan aksara pegon seperti yang lazim digunakan di pesantren.

Bersama dengan adik-adik mahasiswa IAIN Jember, di akhir 2015 silam, saya mengalihaksarakan isi kitab ini menjadi latin. Agak rumit, memang, karena adik-adik mahasiswa PGMI ini mayoritas berasal dari pendidikan non-pesantren sehingga mereka harus belajar sejak nol mengenai pola penulisan Arab-Pegon maupun Arab-Melayu. Tidak masalah, mereka dengan sabar dan tekun dibimbing sahabat-sahabat mereka yang sudah menguasai teknis penulisan aksara yang lahir dari inovasi ulama kita ini.

Perbedaan ini memang dimaklumi, sebab Sirath al-Mustaqim ditulis pada pertengahan tahun 1600-an alias beberapa abad silam. Lagi pula, kitab ini tampaknya sudah lama tidak beredar di Nusantara, meski pada awal 1700-an dan pertengan 1800-an masih digunakan di beberapa kesultanan sebagai referensi para qadli.
Di antara keunikan kitab ini adalah, meski ditulis oleh ulama India, disebarkan di Nusantara pada eranya, namun cetakan terakhir kitab ini justru diterbitkan oleh penerbit Musthafa Babi el-Halabi, Mesir, pada 1356 H/1937 M. Ini membuktikan jika pada dasawarsa 1930-an karya berbahasa Melayu ini juga banyak dikaji di kawasan Timur Tengah. Yang lebih unik, Syaikh Arraniri menggunakan frasa "sembahyang" untuk menyebut "shalat". Sebuah strategi bahasa yang cukup cerdas sebagaimana dilakukan Walisongo. :-)
Wallahu A'lam Bisshawab

http://www.halaqoh.net/…/berkenalan-dengan-as-shirat-al-mus…
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Survey yang dilakukan Front Pembela IslaN (FPI)

 

Survey yang dilakukan Front Pembela IslaN (FPI) Cabang Gujarat membuktikan apabila Fitri dan Faizin adalah nama populer sejak hari ini dan beberapa hari mendatang.
#FrontPembelaIslaN
#SaveChelseaIslaN

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

merendahkan Prof. Al-Habib Quraish Shihab.

Sebulan silam, yang menyodorkan dalil mengenai hormat ulama maupun hormat dzurriyah Rasulullah untuk membela Sayyid Riziq Shihab, adalah yang saat ini terlibat dalam merendahkan dan mencacimaki Prof. Al-Habib Quraish Shihab.
Hahaha...embuhlah..

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

KH. Khoiron Syuaib : Kiainya PSK

 
KH. Khoiron Syuaib: Kiainya PSK
Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif Wan Nasyr PCNU Surabaya)
Akrab dengan dunia prostitusi, bukan berarti terlibat dalam dunia hitam ini, melainkan pada upaya mengentaskan penghuninya dan membimbingnya ke jalan yang benar. Di salah satu lokalisasi di Surabaya, sosok dai ini mengambil jalan moderat, tidak frontal. Di sana, ia melakukan pencerahan, tanpa cacian, tanpa pentungan. Berhasil.

Kiai Khoiron sudah populer sebagai kiainya para pelacur di Surabaya. Nama lengkapnya KH. Khoiron Syuaib. Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dan lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya. Semenjak belia, ia telah "akrab" dengan kawasan merah. Sebab, ayahnya adalah salah satu pemilik warung dan guru ngaji di Dupak Bangunsari, kawasan lokalisasi legendaris yang berdiri sejak zaman penjajahan.
Selepas mondok dan kuliah, ia harus melanjutkan tongkat estafet ayahnya. Saat itu, pertengahan 1980-an, ada sekitar 3500 WTS. Pada 2011, hanya tinggal sepuluh persennya saja. Saat ini malah hanya puluhan WTS yang tinggal di lokalisasi ini, itupun sudah menjelang masa “pensiun”. Bahkan pada tahun 2012 silam, Bangunsari, yang merupakan kawasan lokalisasi tertua di Surabaya, resmi ditutup dan dinyatakan sebagai kampung bebas prostitusi. Upaya ini dimotori oleh Pemprov Jatim, Pemkot Surabaya, MUI dan para dai yang berdakwah di lokalisasi.


“Jadi, semuanya harus dilakukan secara persuasif, lembut, dan tidak boleh ceroboh karena ini berkaitan dengan orang banyak,” kata Kiai Khoiron, ayah tiga orang putra ini. Pemkot Surabaya memberikan pelatihan kerja bagi para PSK, setelah itu mereka diarahkan agar kembali ke kampungnya dan bekerja sesuai keterampilan yang diperolehnya dari diklat keterampilan. Adapun modalnya disediakan sepenuhnya oleh Pemkot.


Di bawah kepemimpinan walikota Tri Rismaharini, upaya penutupan lokalisasi di Surabaya semakin giat dilaksanakan. Adapun Kiai Khoiron mengawal proses penutupan ini agar tidak menjadi gejolak di lingkungannya.


Sehari-hari ia menjadi guru ngaji, konsultan psikologi dan bapak, kakak, sahabat yang sangat akrab dengan gemuruh jiwa para pelacur yang bergolak.


Jika senja mulai tiba, gincu-gincu mengoles bibir para pelacur itu, dengan segala sapaan manja pada hidung belang, sementara suara musik keras mendentang memenuhi komplek pelacuran itu, di sudut komplek pelacuran itu terdengar suara bocah-bocah mengaji dan menyenandungkan shalawat Nabi Keduanya berjalan damai. Tapi itu dulu, kondisi saat ini sudah lain, tak ada dentuman musik yang memekakkan telinga.
"Saya tidak pernah menyuruh mereka berhenti kok,” jelas kiai yang berpenampilan kalem ini. Menurutnya, menurunnya kuota WTS di lokalisasi yang berjaya tahun 1950-1980-an itu atas kesadaran para penghuninya (PSK dan germo), dukungan warga masyarakat, dan upaya pemerintah. “Jadi atas upaya bersama,” katanya merendah.


Dalam proses pengentasan para PSK selama hampir tiga puluh tahun inilah, berbagai hinaan, cacian, dan fitnah sudah kenyang ia rasakan. Ia hanya sebagai "teman curhat" para PSK. Dalam posisi ini, toh ia tidak pernah menghinakan para PSK. "Apa Istri nggak cemburu, Kiai?" pancing saya.


Kiai Khoiron hanya tersenyum. "Namanya cinta, cemburu sih ada. Tapi alhamdulillah, istri dan anak-anak saya sudah siap lahir batin memahami," tandasnya.


Rumahnya terdiri dari dua lantai. Lantai bawah difungsikan sebagai ruang keluarga. Terkesan sempit dengan rak buku dan tumpukan kitab yang berjejalan. Sedangkan lantai atas difungsikan sebagai musalla. Di situlah selepas ashar, Kiai Khoiron menjadi bapak dan pendidik bagi anak-anak penghuni losmen maupun warga sekitar. Di situ pula, sehabis maghrib Kiai Khoiron menjadi sahabat orang-orang yang dicap nista, mengagungkan asma Allah, menebar kasih sayang. Berusaha mengembalikan fitrah kemanusiaan bagi jiwa yang gersang.


"Saya tidak pernah melarang mereka melacur. Saya juga tidak memarahi mereka. Saya hanya menyiapkan ruang jiwa mereka. Sebab mereka melacur paling lama sepuluh tahun. Setelah itu? Mereka pasti berhenti. Mereka perlu kesiapan mental, keimanan dan sikap optimis kepada Tuhan," katanya.
Ngaji di Gedung Bioskop


"Memang, pesantren ini saya konsentrasikan untuk membina anak-anak mereka yang tak berdosa. Mereka harus tumbuh dengan jiwa yang merdeka, tanpa konflik, tanpa masa lalu dan trauma-trauma," katanya menjelaskan rintisan pondok pesantren yang menyatu dengan rumahnya. Pesantren ini merupakan pengembangan dari TPQ Raudlatul Khoir yang ia bina selama puluhan tahun.


Bagi Kiai Khoiron, yang menjadi target pertama kali adalah anak-anak. Jika anak sudah rajin dan pandai mengaji, orang tua manapun akan bangga. Jika timbul rasa bangga, otomatis pula orang tua anak-anak itu—yang mayoritas berprofesi sebagai pelacur—akan merasa malu. Anaknya bisa mengaji, mengapa dia tidak? Strategi semacam ini sangat efektif.


Selain itu, saat era 1990-an, Kiai Khoiron nekat menggarap gedung bioskop jadi lokasi pengajian. Saat itu film yang digandrungi adalah India. Ia nekat menyampaikan sepatah dua patah kata setelah Amitabh Bachchan lenyap dari layar. Hanya dua orang yang mendengarkan uraiannya. Lainnya langsung balik ke rumah. Tak usah menghitung para penentangnya.


"Dasar wong edan, bioskop kok dijadikan tempat pengajian," tukasnya menirukan komentar para penentangnya. Ia kukuh, semakin mantap, tak peduli cemoohan.


Ia merasa santai saja, sebab Ketua RW daerah lokalisasi itu sudah mendukung langkahnya. Di setiap lokalisasi, Ketua RW adalah penguasa lokal. "Ketua RW di lokalisasi itu ibarat Walikota. Dialah yang punya 'kebijakan'. Karena merupakan lahan basah, kalau pemilihan Ketua RW baru, suasananya meriah," terangnya. Maka dari itu, jalinlah hubungan baik dengan penguasa lokal. Kalau kepala suku sudah dipegang, jalan terbuka lebar.


Karena sudah mendapatkan backing, langkah Kiai Khoiron semakin mantap. Dakwah di gedung bioskop terus dilakukan. Karena ceramahnya renyah dan humoris, peminatnya semakin banyak. Intinya, kalau menyampaikan pesan agama di wilayah seperti ini, jangan sekali-kali menyinggung perkara surga dan neraka.
"Mereka itu sensitif sekali dengan pembahasan itu," kata pria kelahiran 17 Agustus 1959 ini.


Kini, setelah dinyatakan sebagai kampung bebas prostitusi, Kiai Khoiron tetap melanjutkan kiprahnya di kawasan lain, seperti Dolly, Jarak, maupun Moroseneng; tiga lokalisasi lain di Surabaya, maupun lokalisasi di kabupaten lain. Upaya ini didukung oleh jaringan dai “spesialis” lokalisasi yang didukung oleh Pemprov Jatim.


Ketika sowan pada tahun 2014 silam, dengan didampingi oleh pria ramah ini, saya sempat berbincang dengan seorang mantan PSK. Ia memakai nama samaran Mira, berasal dari Jember, usianya masih 29 tahun. Ia menikah di usia belia, kemudian dihianati suaminya. Dalam kondisi labil ini dia diajak bekerja di Surabaya oleh tetangganya. Tak disangka ternyata ia dijual (human trafficking) ke mucikari sebagai PSK. Terpaksa ia menjalani kehidupan nista tersebut. Meskipun demikian, ia tetap mengikuti pengajian di rumah Kiai Khoiron maupun di balai RW.


“Pak Kiai Khoiron orangnya baik, santun, tidak pernah melukai perasaan PSK dengan ucapan-ucapan yang melecehkan profesi PSK. Kalau ceramah ada humornya, tapi tetap mengajak PSK ingat masa depan dan agar berhenti dari profesinya. Tetapi beliau itu tidak pernah memaksa kami kok.”
Semejak awal 2014, Mira berhenti dari profesinya. Ceramah Kiai Khoiron yang sejuk dan langsung merembes di hati adalah di antara penyebab ia memutuskan berhenti dari profesinya. Ia kemudian dinikahi oleh mantan pelanggannya. Usai berhenti dari pekerjaannya, Mira membuka usaha jual kue. Lokasinya juga tak jauh dari PP Roudlotul Khoir, pesantren yang sedang dirintis oleh Kiai Khoiron di samping rumahnya.
------

Sabtu, 23 Ramadan 1438 H/ 18 Juni 2017 silam, ketika sowan ke ndalem beliau, Kiai Khoiron bercerita apabila masih ada beberapa rumah karaoke yang buka di salah satu gang. Meskipun sudah dinyatakan sebagai kampung bebas prostitusi, namun pihaknya menengarai apabila masih ada prostitusi terselubung. Hanya saja, menurut Kiai Khoiron, langkah yang diambil bukanlah tindakan merusak tempat tersebut, melainkan melaporkannya kepada pemkot. Dengan cara ini, pemkot bisa menindak langsung pihak yang bersangkutan melalui bantuan satpol PP maupun aparat kepolisian. Cara ini lebih efektif dan meminimalisir konflik horizontal.


Bagi saya, pendekatan dakwah yang dilakukan Kiai Khoiron lebih bermutu, elegan dan punya hasil yang jelas. Dakwah secara santun, tanpa caci maki, dan memanusiakan manusia. Beliau juga tidak bertindak brutal. Melainkan tetap menggandeng pemerintah sebagai pihak yang bertanggungjawab untuk menekan angka human traficking sekaligus membubarkan lokalisasi dengan diiringi pemberdayaan kepada bekas penghuninya.


Indonesia selalu butuh sosok-sosok inspiratif seperti beliau.
Wallahu A'lam Bisshawab
(saya bersama KH. Khoiron Syu'aib, 23 Ramadan 1438 H)
Cc: Pak Karim Raslan Alhimny Fahma Emza Vicky Ramadhan Az Zakky Ahmad Karomi

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan