1.
Tahun 1860-1910, berfoto di studio, sendirian (+didampingi pasangan),
duduk di atas kursi di samping meja kecil yang ada vas bunga, background
hitam/putih polos, tatapan mata ke arah kanan/kiri, tanpa menghadap
kamera. Ada pula yang berpose berdiri memakai jas menggandeng pasangan
dengan rambut klimis dan kumis tebal. Pada era ini foto adalah lambang
kemewahan dan modernitas.
2.
Tahun 1920-1940 an. Studio foto mayoritas dikelola Tionghoa. Background
polos, pose berdiri tegak menghadap kamera. Tatapan mata percaya diri
dan tegang. Zaman ini mayoritas orang foto bersama keluarga. Foto
setengah badan mulai tumbuh, dengan pose tersenyum, tatapan ke arah
samping atas atau bawah.
3. 1940-1960 an. Background masih
polos. Foto keluarga besar dengan wajah tegang miskin senyum semakin
marak. Orangtua duduk di kursi. Bapak memakai jas resmi, ibu memakai
kebaya dengan sanggul. Anak-anak yang mulai dewasa berdiri di samping
kanan-kiri-belakang. Bocah-bocah dengan potongan rambut kuncung duduk
lesehan di bawah sambil melongo menghadap kamera. Biasanya mereka
bersila. Foto setengah badan semarak. Dibidik dari depan, wajah sedikit
menoleh ke arah kiri atau kanan, bibir tersenyum, tatapan mata lurus,
bisa juga ke bawah atau ke atas.
4. 1960-1980 an. Background
semakin dinamis. Polos, warna warni, ada pula lukisan alam. Foto
keluarga tetap ada dengan gaya yang sama dengan era sebelumnya. Tapi
foto pribadi semakin marak. Biasanya foto seluruh badan utuh sambil
berdiri. Pria memakai kacamata hitam, celana komprang rapi jali, kemeja
yang pas dengan bentuk tubuh, jemari berada di saku samping, dan gaya
rambut ikut model Dono Warkop. Adapun gaya fotonya mengikuti trend
setter saat itu: Raden Haji Oma Irama yang dari gaya berfotonya selalu
percaya diri dan optimis. Sebagai pemanis, bisa juga menyertakan jaket
kulit yang sampirkan. Ada pula yang mengikuti gaya cover film ala Barry
Prima, Herman Felani, atau Rano Karno. Adapun perempuan memakai gaya
rambut Ida Royani, Ricca Rachim, Suzanna, atau ikut pose biduan sendu di
sampul kaset seperti Endang S Taurina dan Betharia Sonata.
5.
1990-an. Gaya tetap terpengaruh bintang film. Baik foto di studio maupun
foto pribadi seiring dengan gempuran kamera poket Fuji, Konica, dll.
Adapun kalangan pesantren ikut gaya KH. Zainuddin MZ. Sorban di taruh di
samping dengan songkok hitam. Karena zaman ini telepon merupakan
barang mewah, banyak pula yang berpose dengan lagak menerima telepon.
Ada yang menatap kamera ada pula yang menghadap samping. Baju mulai
warna warni mencolok. Polkadot sempat jadi trend. Jilbab ala Nasida Ria,
Sitoresmi, dan Neno Warisman jadi trend.
6. 2000-an ke atas.
Studio foto mulai guncang akibat serbuan kamera saku. Usaha ini mulai
sepi saat pelanggan cuma butuh cetak foto maupun foto separuh badan,
hitam putih. Studio foto baru ramai dengan anak-anak sekolah yang
berfoto bersama dewan guru dengan background lukisan bergambar buku.
Usaha "foto kilat bisa ditunggu" yang dikelola bapak-bapak dengan kios
kecil sudah babak belur, diganti dengan photobox di mall. Saat handphone
berkamera marak, studio foto semakin cemas, beberapa bahkan kukut dan
alih usaha cetak banner maupun fotokopi. Cetak foto cuma menjadi usaha
sampingan. Hanya pemain lama yang bertahan, inipun melayani foto
panggilan acara resepsi, wisuda, lokakarya, dll.
7. 2009 ke
atas. Generasi alay merajalela. Pose menjulurkan lidah, memperotkan
wajah, wajah diimut-imutkan sambil mecucu (ini apa istilah Indonesianya
ya?haha) mendominasi. Sudut pengambilan gambar diubah secara ekstrem.
Dari atas atau samping, dengan tatapan mata menghadap kamera. Dandanan
juga aneh. Sampai sekarang pose model begini merajalela, terutama di FB.
Entah sampai kapan.
8. 2013 ke atas......silahkan diprediksi!!
----
***mulih ngarit***Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/
Penerbit Buku Buku Islam
ada
seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman
Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri. Setelah di sana 4 tahun, santri
itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah.
“Habib, saya mau pulang saja.”
“Lho, kenapa?” tanya beliau.
“Bebal otak saya ini. Untuk menghafalkan setengah mati. Tidak pantas saya menuntut ilmu. Saya minta izin mau pulang.”
“Jangan dulu. Sabar.”
“Sudah Bib. Saya sudah empat tahun bersabar. Sudah tidak kuat. Lebih baik saya menikah saja.”
“Sebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu.”
“Sudah bib. Saya menghafalkan setengah mati. Tidak hafal-hafal.”
Habib Abdullah kemudian masuk ke kamar, mengambil surat-surat untuk
santri itu. Pada masa itu surat-surat dari Indonesia ketika sampai di
Tarim tidak langsung diberikan. Surat tersebut tidak akan diberikan
kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 15 tahun. Habib Abdullah
menyerahkan seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat. Setelah
diterima, dibacalah surat-surat itu sampai selesai.
Satu surat yang tersisa kemudian diserahkan.
“Ini surat siapa?” tanya Habib.
“Owh, itu surat ibu saya.”
“Bacalah!”
Santri itu menerima surat dengan perasaan senang, kemudian dibacanya
sampai selesai. Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali
diam merenung, dan sesekali dia sedih.
“Sudah kamu baca?” tanya beliau lagi.
“Sudah.”
“Berapa kali?”
“Satu kali.”
“Tutup surat itu! Apa kata ibumu?”
“Ibu saya berkata saya disuruh nyantri yang bener. Bapak sudah membeli
mobil baru. Adik saya sudah diterima bekerja di sini, dan lain-lain.”
Isi surat yang panjang itu dia berhasil menceritakannya dengan lancar
dan lengkap. Tidak ada yang terlewatkan.
“Baca satu kali kok
hafal? Katanya bebal gak hafal-hafal. Sekarang sekali baca kok langsung
hafal dan bisa menyampaikan.” kata Habib dengan pandangan serius.
Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini
dirinya adalah seorang yang bodoh dan tidak punya harapan. Sudah
berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. Tetapi
membaca surat ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal.
Habib Abdullah akhirnya menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Beliau mengatakan,
لأنك قرأت رسالة أمك بالفرح فلو قرأت رسالة نبيك بالفرح لحفظت بالسرعة
“Sebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan
gembira. Ini ibumu. Coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad
dengan bahagia dan bangga, ini adalah Nabiku, niscaya engkau sekali baca
pasti langsung hafal. ”
* * *
Banyak saudara-saudara
kita (atau malah kita sendiri) yang tanpa sadar mengalami yang dirasakan
santri dalam kisah di atas. Jawabannya adalah rasa cinta. Kita tidak
menyertakan perasaan itu saat membaca dan mempelajari sesuatu. Sehingga
kita merasa diri kita bodoh dan tidak punya harapan sukses.
Banyak orang merasa bodoh dalam pelajaran, tetapi puluhan lagu-lagu
cinta hafal di luar kepala. Padahal tidak mengatur waktu khusus untuk
menghapalkannya.
Bagi guru/pengajar, jangan mudah
mengkambinghitamkan kemampuan otak siswa dalam lemahnya menerima
pelajaran. Mungkin anda tidak berhasil menanamkan VIRUS CINTA di hati
mereka.
---
(Status Annur Almurtadlo Bululawang)
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/
Penerbit Buku Buku Islam
#edisi kangen cerpen karya Gus Mus#
Cerpen-cerpen karya KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) selalu sederhana
namun dalam. Enak dibaca tanpa perlu boros kata-kata atau berlagak
filosofis dan mendayu. Selain cerpen "Gus Jakfar" dan "nDara Mat Amit"
yang 'misterius', "Mbok Yem" adalah salah satu cerpen terbaik dari
antologi cerpen (terbaik) beliau di antologi "Lukisan Kaligrafi".
"Mbok Yem"
Oleh: A. Mustofa Bisri
Alhamdulillah, sebelum wukuf di Arafah aku bisa menemukan ibu dan
adikku di pondokan mereka di Mekkah. Mereka tinggal di kamar yang sempit
bersama 4 pasang suami-istri. Masing-masing menempati kapling semuat
dua orang yang hanya diberi sekat kopor-kopor. Di tengah-tengah ada
sedikit ruang kosong yang dipenuhi bermacam-macam makanan dan peralatan
makan. Ibu memperkenalkan saya kepada kawan-kawan kelompoknya.
Ini anak saya yang belajar di Mesir;” katanya bangga. “Sudah empat tahun tidak pulang.”
Malu-malu saya menyalami mereka satu per satu. Di antara mereka itu ada
dua sejoli yang sudah sangat tua. Lebih tua dari ibu. Yang laki-laki
dan dipanggil Mbah Joyo lebih tua lagi. Beberapa tahun lebih tua dari
Mbok Yem, istrinya. Berbeda dengan Mbah Joyo yang agak pendiam, Mbok Yem
orangnya ramah dan banyak bicara, mendekati ceriwis.
Yang
kemudian menarik perhatian, sekaligus membuatku agak geli, adalah
kemesraan kedua sejoli itu. Mereka laiknya pengantin baru saja. Seperti
tidak menghiraukan senyum-senyum dan lirikan-lirikan menggoda
kawan-kawannya yang memperhatikan mereka, Mbok Yem menggelendot manja di
pundak Mbah Joyo.
“Pak, kita beruntung ya,” katanya sambil
mengelus rambut suaminya yang putih bagai kapas. “Nak Mus ini belajar
agama di Mesir, dia bisa menjadi muthawwif kita dan membimbing manasik
kita.” Lalu ditujukan kepadaku, “Bukan begitu, Nak Mus?”
Aku mengangguk saja sambil tersenyum.
“Kalau perlu Nak Mus pasti tidak keberatan mengantar kita ke
mana-mana,” katanya lagi. “Nanti Mbok Yem bikinkan sayur asem kesukaan
Mbah Joyo. Mbok Yem paling ahli bikin sayur asem. Tanyakan Mbah Joyo
ini, lidahnya sampai njoget jika Mbok Yem masak sayur asem.”
“Tapi dia juga baru sekarang ini ke Mekkah,” tukas ibuku. “Jadi di sini pengalamannya tidak lebih banyak dari kita-kita ini.”
“Ya, tapi Nak Mus kan pasti pandai bahasa Arab; jadi tak akan kesasar
dan bisa menolong kita jika belanja. Kita tak perlu lagi menawar-nawar
pakai bahasa isyarat, kaya orang bisu.”
Orang-orang pada ketawa.
“Tapi, Nak Mus ini kan tidak tinggal di sini bersama kita,” kata salah
seorang jamaah sambil menyodorkan segelas teh. “Terima kasih!” aku
menyambut teh panas yang disodorkan.
“Ya, Nak Mus tinggalnya di mana?” tanya yang lain.
“Saya tinggal bersama kawan-kawan mahasiswa yang lain,” kataku, “tapi tidak jauh dari sini kok. Saya bisa sering kemari.”
“Nah, Pak, nanti kita bisa jalan-jalan ke mana saja tanpa khawatir,”
kata Mbok Yem lagi sambil memijit-mijit lengan Mbah Joyo. “Kita punya
pengawal yang masih muda dan bisa berbahasa Arab.”
“Kamu ini
bagaimana,” Mbah Joyo yang dari tadi hanya diam dan senyum-senyum
tiba-tiba angkat bicara. “Nak Mus ke sini ini kan bukan untuk kamu saja.
Tapi terutama untuk ibu dan adiknya yang sudah lama tidak bertemu.
Mereka pasti ingin berkangen-kangenan.”
“Ya, saya tahu,” sahut
Mbok Yem sambil mleroki suaminya. “Saya juga tidak bermaksud menguasai
Nak Mus sendiri. Maksud saya kita bisa nginthil, ikut bersama-sama ibu
dan mbak bila mereka ke masjid atau ke mana saja.”
“Enak saja!”
“Sudah, sudah,” kata ibuku memotong. “Sudah jam setengah sebelas. Ayo kita siap-siap ke masjid!” ***
Alhamdulillah, sejak di Arafah saya bisa bergabung bersama rombongan
ibu. Malam menjelang wukuf, kami sudah sampai ke padang luas yang
menjadi seperti lautan tenda itu. Beberapa orang tampak letih. Justru
Mbok Yem dan Mbah Joyo –anggota rombongan yang paling tua– sedikit pun
tidak memperlihatkan tanda-tanda kelelahan. Bahkan pancaran semangat dua
sejoli ini tampak jelas seperti mempermuda usia mereka. Ketika paginya,
saya ajak mereka keluar kemah untuk melihat suasana Arafah yang begitu
luar biasa. Meski mentari belum begitu mengganggu dengan sengatan
panasnya, dia telah memberikan cahayanya yang benderang pada hamparan
putih Arafah. Sejauh mata memandang, putih-putih tenda dan putih-putih
kain ihram mendominasi pemandangan. Di sana-sini bercuatan
bendera-bendera negara atau sekadar tanda rombongan jamaah tertentu.
Dari kejauhan tampak “bukit manusia” dengan puncak sebuah tugu yang juga
berwarna putih. “Apakah itu Jabal Rahmah?”
“Ya, itulah Jabal Rahmah.”
“Apa betul itu tempat pertemuan pertama Bapa Adam dengan Ibu Hawa setelah mereka turun dari sorga?”
“Wallahu a’lam ya, tapi memang banyak yang percaya.”
“Apa kita akan ke sana?”
“Ah, tak perlu. Lagi pula itu jauh. Kelihatannya saja dekat. Wukuf yang
penting di Arafah, beristighfar dan berdoa. Di sini saya kira kita bisa
lebih khusyuk.”
Ketika kembali ke kemah, tampaknya kawan-kawan
jamaah masih membawa kesan mereka dari melihat panorama yang belum
pernah mereka saksikan itu.
“Orang kok sekian banyaknya itu dari mana saja ya?”
“Ya, ada yang hitam sekali, putih sekali, yang coklat, malah ada yang seperti tomat kemerah-merahan.”
“Sekian banyak orang kok pakaiannya putih-putih semua, masya Allah!”
Semua yang berbicara itu mengarahkan pandangannya kepadaku, seolah-olah
komentarku memang mereka tunggu. Atau ini hanya perasaanku saja. Tapi
aku bicara juga. “Kata guru saya, inilah gambaran mini nanti saat kita
di padang Makhsyar, ketika semua orang dibangunkan dari alam kubur. Tak
ada kaya tak ada miskin; tak ada orang besar tak ada orang kecil; tak
ada bangsawan tak ada jelata; semuanya sama. Semuanya digiring di padang
terbuka seperti di Arafah ini. Bedanya, di sini masih ada tenda dan
naungan-naungan lain; di sana kelak, tidak. Masing-masing orang akan
dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatannya selama hidup di
dunia.”
Aku berhenti, karena kudengar ada isak tangis yang
semakin lama semakin mengeras. Ternyata tangis Mbok Yem di pangkuan Mbah
Joyo yang juga terlihat berkaca-kaca kedua matanya. Seisi kemah pun
terdiam. Sampai datang seorang petugas kloter menyuruh semuanya
bersiap-siap untuk acara salat bersama –Dhuhur dan Asar– dan melanjutkan
ritual wukuf dengan berdzikir dan berdoa.
Aku perhatikan,
sejak selesai acara salat dan berdoa bersama, hingga akhirnya
masing-masing berdzikir dan berdoa sendiri-sendiri, Mbok Yem dan Mbah
Joyo terus menangis dan hanya mengulang-ulang astaghfirullah,
astaghfirullah… Memohon ampun kepada Allah. Tak terdengar kedua sejoli
tua ini berdzikir atau berdoa yang lain. *** Malam ketika arus air bah
kendaraan dan manusia mengalir dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina, di
atas bus kami sendiri, hanya terdengar talbiyah dan takbir. Kecuali
sepasang mulut yang masih terus beristighfar. Mulut Mbok Yem dan Mbah
Joyo.
Menjelang dini hari kami sampai wilayah Muzdalifah. Dari
kejauhan, kerlap-kerlip lampu tampak semakin memperindah panorama
Masy’aril Haram. Bus kami berhenti dan rombongan berhamburan turun dalam
gelap, mencari batu-batu kerikil untuk melempar Jamrah. Ibu aku minta
tetap di bus, aku dan adikku saja yang turun. Yang lain ternyata turun
semua. Beberapa di antaranya ada yang sudah siap dengan lampu senter
kecil dan kantong kain tempat batu-batu kerikil. Di sana-sini terlihat
beberapa kendaraan juga sedang parkir, menunggu para penumpangnya
mencari kerikil.
“Jangan jauh-jauh!” terdengar suara ketua
rombongan memperingatkan. Orang-orang tidak mau mendengarkan. Bukan
karena apa-apa. Mereka sudah telanjur tidak simpati kepada petugas yang
menurut mereka hanya pandai bicara saja. Tak pernah ngurus jamaah.
Menemui jamaah hanya kalau mau menarik pungutan ini-itu yang tidak jelas
peruntukannya.
Tapi ketika sudah cukup lama dan masih banyak
yang ke sana-kemari, aku dan beberapa orang yang sudah dari tadi selesai
mencari kerikil, ikut membantu ketua rombongan meneriaki dan
bertepuk-tepuk tangan; memperingatkan mereka agar segera naik kendaraan.
Apalagi sopir bus –orang Mesir– sudah ngomel-ngomel terus sambil
naik-turun bus, tidak sabar. Apalgi kendaraan-kendaraan yang lain pun
sudah cabut bersama para penumpangnya menuju Mina.
Mereka
akhirnya kembali juga naik bus, meski ada di antara mereka yang sambil
menggerutu, “Sopir kok didengerin. Ini kan ibadah. Di sini aturannya
kita kan menginap. Mengapa buru-buru?”
“Sudahlah, mungkin si
sopir mempertimbangkan padatnya lalu-lintas, takut terlambat sampai
Mina,” aku mencoba menyabarkan si penggerutu.”Lagi pula kita kan di sini
sudah melewati jam 12. Jadi sudah terhitung menginap.”
Tiba-tiba, ketika ketua rombongan baru mengabsen dan menghitung jamaah,
terdengar Mbok Yem teriak histeris, “Mbah Joyo! Mana Mbah Joyoku?!”
Seketika semuanya baru menyadari bahwa Mbah Joyo belum kembali. Mbok Yem
meloncat turun dari bus sambil terus menangis dan menjerit-jerit
memanggil-manggil suaminya. Hampir seisi bus ikut turun. Ibu dan adikku
mengikutiku mengejar Mbok Yem, mencoba menenangkannya.
“Tenanglah, Mbok Yem,” bujuk ibuku sambil merangkul perempuan tua itu.
“Mbah Joyo tidak ke mana-mana. Kita pasti akan menemukannya.”
“Iya, Mbok,” adikku ikutan membujuk. “Kalau pun Mbah Joyo kesasar, di
sini ada petugas khusus yang ahli menemukan orang kesasar. Percayalah.”
“Ya, Mbok, kalau memang betul-betul kesasar, saya nanti yang akan
menghubungi polisi atau petugas yang lain,” aku menimpali. “Mbah Joyo
pasti kembali bersama kita lagi.”
Aku sendiri dan mungkin juga
ibu dan adikku tidak begitu yakin dengan apa yang kami katakan. Namun
alhamdulillah, meski masih terisak dan bicara sendiri, Mbok Yem bisa
agak tenang. “Mbah Joyo itu penyelamatku!” desisnya berkali-kali.
Kepala rombongan dan beberapa orang lelaki, termasuk sopir, yang
mencoba mencari sampai di luar area tempat mereka tadi mencari kerikil,
sudah kembali tanpa hasil. Ada yang menduga Mbah Joyo mungkin kesasar
naik kendaraan lain yang diparkir di dekat mereka. Kita berunding dan
sepakat akan meneruskan perjalanan sambil mencari. Semua kembali naik
bus. Mbok Yem yang dibimbing ibu dan adikku, sebentar-sebentar masih
menoleh ke arah padang gelap Muzdalifah. Ibu mengawani duduk dan masih
terus merangkul sahabat tuanya yang kini diam saja itu. *** Subuh, kami
baru sampai Mina. Semuanya terlihat letih, lebih-lebih Mbok Yem. Untung,
tidak lama mencari, kami telah sampai kemah maktab kami. Dan, begitu
masuk kemah, bukan main terkejut kami. Kami melihat Mbah Joyo sedang
duduk bersila menyantap buah anggur dari pinggan besar yang penuh aneka
buah-buahan. (Selain anggur, ada apel, jeruk, pisang, buah pir, dll).
Mbok Yem langsung menjerit, “Mbah Joyo!” dan menghambur serta memeluk
dan menciumi suaminya itu sambil menangis gembira. Mbah Joyo sendiri
hanya tersenyum-senyum agak malu-malu. Sejenak yang lain masih terpaku
keheranan. Baru kemudian meluncur hampir serempak, “Alhamdulillaaaah!”
Semuanya kemudian merubung Mbah Joyo yang masih terus dipeluk, dielus, dan diciumi Mbok Yem. Semuanya gembira.
“Sudah dulu, Mbok Yem,” tegur ketua rombongan, “nanti dilanjutkan
kangen-kangenannya. Biarlah Mbah Joyo bercerita dulu.” Kemudian kepada
Mbah Joyo, “Mbah Joyo, Sampeyan ke mana saja semalam?”
“Iya, Mbah,” sela yang lain, “Sampeyan salah masuk bus ya?!”
“Kok tahu-tahu Mbah Joyo sudah sampai di sini ini ceritanya bagaimana?” tanya yang lain lagi.
“Mbah Joyo sudah melempar jumrah ’aqabah?”
Mbah Joyo mengangguk sambil tersenyum. “Lihat, kan saya sudah pakai
piyama!” Kemudian bercerita seperti sedang menceritakan sebuah dongeng.
“Saya tidak kesasar dan tidak salah naik bus. Saya bertemu dengan
seorang muda yang gagah dan ganteng dan diajak naik kendaraannya yang
bagus sekali. Saya bilang bahwa saya bersama rombongan kawan dan istri
saya. Dia bilang sudah tahu dan meyakinkan saya bahwa nanti saya akan
ketemu juga di Mina. Bapak sudah tua, katanya, nanti capek kalau naik
bus. Akhirnya saya ikut. Sampai Mina saya dibawa kemari, disuruh
istirahat sebentar. Saya tertidur entah berapa lama. Tahu-tahu menjelang
subuh saya dibangunkan dan diajak melempar jumrah ’aqabah. Setelah itu
saya diantar kemari lagi. Sambil meninggalkan buah-buahan ini, dia pamit
dan katanya sebentar lagi kalian akan datang. Dan ternyata dia benar.”
“Dia itu siapa, Mbah? Orang mana?”
“Wah iya. Saya lupa menanyakannya. Soalnya begitu ketemu dia itu
langsung akrab. Jadi saya kemudian sungkan dan akhirnya, sampai dia
pergi, saya lupa menanyakan nama dan asalnya.”
“Ajaib!” ***
Sesudah selesai melempar jumrah ’aqabah, rupanya jamaah sudah tak tahan
lagi. Mereka bergelimpangan melepas lelah. Dan tak lama terdengar suara
ngorok dari sana-sini. Kulihat Mbok Yem sendiri yang tampak masih segar
dan ceria. Dia malah bercerita sambil memijit kaki ibuku. “Mumpung Mbah
Joyo tidur,” katanya. Sementara aku dan adikku ikut mendengarkan sambil
tiduran. Namun tersentuh cerita Mbok Yem, tak terasa kami berdua
akhirnya terduduk juga.
Rupanya Mbok Yem yakin apa yang dialami
Mbah Joyo itu merupakan anugerah Allah yang ada kaitannya dengan amal
perbuatannya. Dia menceritakan mengapa dia sampai histeris ketika Mbah
Joyo hilang di Muzdalifah. Mbok Yem ternyata dulunya adalah WTS
–sekarang “diperhalus” istilahnya menjadi Pekerja Seks Komersial– dan
Mbah Joyo adalah “langganan”-nya yang dengan sabar membuatnya sadar,
mengentasnya dari kehidupan mesum itu, dan mengawininya. Lalu Mbok Yem
dan Mbah Joyo memulai kehidupan yang sama sekali baru. Di samping
mendampingi Mbah Joyo bertani, Mbok Yem berjualan pecel, kemudian
meningkat dengan membuka warung makan kecil-kecilan. Dan sebagian dari
hasil pekerjaan mereka itu, mereka tabung sedikit demi sedikit. Bahkan
mereka rela hidup tirakat, demi mencapai cita-cita mereka: naik haji.
Mereka mempunyai keyakinan bahwa dosa-dosa mereka hanya bisa benar-benar
diampuni, apabila beristighfar di tanah suci, di Masjidil Haram, di
Arafah, di Muzdalifah, dan di Mina. Seperti kata pak kiai di kampungnya,
haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga. Ternyata baru
setelah setua itu, uang yang mereka tabung cukup untuk ongkos naik haji.
“Alhamdulillah, Mbah Joyo tidak benar-benar hilang,” kata Mbok Yem
mengakhiri ceritanya. “Sehingga kami berdua masih berkesempatan
menyempurnakan ibadah haji kami. Semoga Allah memudahkan. Setelah
selesai nanti, kami ikhlas, kalau Yang Maha Agung hendak memanggil kami
kapan saja. Syukur di sini, di tanah suci ini.”
Mbok Yem mengusap airmatanya, airmata bahagia, baru kemudian pelan-pelan dibaringkan tubuhnya di sisi ibuku. ***
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/
Penerbit Buku Buku Islam
#edisi kangen cerpen Gus Mus#
----
Selain cerpen karya Seno Gumira Ajidarma, cerpen karya KH. A. Mustofa
Bisri adalah di antara karya yang menyajikan kejutan sentimentil di
akhir kisah...
"Ndara Mat Amit"
cerpen : KH. A. Mustofa Bisri
Anak-anak kecil sangat takut dengan lelaki itu. Bukan saja karena
tubuhnya yang tinggi besar; mukanya yang tak pernah tersenyum, dan
bibirnya yang dower, tapi terutama
karena kebiasaannya yang aneh. Suka mencaci dengan berteriak kepada
siapa saja yang dijumpainya. tak peduli terhadap siapa saja --orang tua,
anak-anak, laki-laki, perempuan, orang biasa, tokoh masyarakat-- lelaki
yang di kampung kami dipanggil Ndara Mat Amit itu selalu bersikap
kasar.
Caci maki baginya seperti salam saja. Setiap ketemu
orang, kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah caci-maki atau
kata-kata tidak jelas maknanya yang rupanya dia maksudkan juga sebagai
cacian. Mungkin karena itu, atau mungkin juga karena tak tahu arti
ndara, anak-anak tidak ada yang memanggilnya Ndara, hanya Mat Amit saja.
Semula aku sendiri juga hanya memanggilnya Mat Amit, tapi setelah
dimarahi ibuku, aku ikut-ikut orang tua memanggilnya Ndara. Tak ada
seorang pun yang tahu persis di mana Ndara Mat Amit tinggal. Orang-orang
hanya tahu dia itu bukan penduduk asli, orang dari luar kota, tapi
punya banyak kenalan di kota kami. Ada yang bilang dia dipanggil Ndara
karena masih keturunan Nabi. Hanya karena ia sering datang -- hampir
sebulan sekali, paling lama tiga bulan sekali-- banyak orang yang
kemudian mengenalnya.
"Mat Amit! Mat Amit!" begitu teriak anak-anak
bila melihat sosok raksasa itu datang. Dan anak-anak yang sedang asyik
bermain itu pun buyar; berlarian ke sana kemari seperti gerombolan anak
kijang melihat harimau.
Di antara yang sering dikunjungi Ndara
Mat Amit adalah rumah kami. Kalau datang, ia tidak pernah lupa mampir ke
rumah. Entah mengapa. Mungkin dia menyukai ayahku yang memang ramah
terhadap setiap tamu. Ayah pernah menasihatiku: menghormati tamu itu
merupakan anjuran Rasulullah; jadi siapa pun tamu kita, mesti kita
hormati. Muslim yang baik ialah yang dapat menundukkan rasa suka dan
tidak sukanya demi melaksanakan ajaran Rasulnya.
"Tapi Ndara Mat Amit sendiri tidak ramah, Yah," selaku, "bahkan menakutkan!"
"Apa yang kau takuti? Dia itu manusia biasa juga seperti kita," kata Ayah menjelaskan.
"Dia kan tidak pernah mengigit orang. Orang itu kan macam-macam
tabiatnya. Ada yang kasar, ada yang lembut. Ada yang sopan, ada yang
tidak. Kita sendiri memang harus berusaha menjadi orang yang lembut dan
sopan, tapi kan tidak harus membenci mereka yang belum bisa bersikap
begitu. Dan ingat, cung (cung, dari kacung = panggilan untuk anak
kecil); penampilan luar orang belum tentu menggambarkan pribadinya,
bahkan seringkali kita terkecoh kalau hanya melihat penampilan
seseorang. Bukankah sering kita melihat orang yang tampaknya sopan dan
halus, ternyata tabiatnya suka menghasut."
Entah karena nasihat
Ayah atau mungkin karena sudah terbiasa, akhirnya aku sendiri --tidak
seperti banyak kawanku-- tidak begitu takut lagi dengan Ndara Mat Amit.
Memang dulu --dalam kesempatan berkunjung ke rumah-- pernah aku
dipanggil Ndara Mat Amit, tepatnya dibentak, hingga gemetaran.
"Hei, kamu, bajingan, kemari!"
Aku terpaku ketakutan.
"Setan kecil! Punya telinga, tidak?" teriaknya lagi. "Aku memanggilmu, Bahlul!"
Aku pun ragu-ragu mendekat dengan kewaspadaan penuh. Pikirku, kalau dia
macam- macam, mau mengampar misalnya, aku sudah siap melarikan diri.
Ternyata dia merogoh saku jasnya yang kumal, mengeluarkan beberapa uang
receh, dan memberikannya kepadaku.
"Ini, buat jajan kamu dan kawan-kawanmu!" katanya kasar. "Goblok! Terima!"
Ragu-ragu aku menerima pemberiannya.
"Lho, apalagi? kurang?" Dia merogoh lagi sakunya dan memberikan lagi uang receh kepadaku.
"Sekarang minggat!" teriaknya kemudian mengejutkanku.
"Cepat minggat! Monyet kecil!!!"
Aku pun berlari meninggalkannya.
Ngeri, tapi senang juga mendapat uang jajan yang cukup untuk menraktir
kawan-kawan ke warung pecel De Karmonah. Ada baiknya juga orang sangar
ini.
***
Sudah menjadi kebiasaan, pada bulan Maulud
(Rabi'ul Awwal) Ayah mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di
aula pesantrennya. Dulu acaranya sederhana saja. Tidak ada
ceramah-ceramah seperti sekarang. Hanya berzanjenan, membaca syair-syair
madah Al-Banzanji-nya Syeikh Jakfar Al-Barzanji, untuk mengenang dan
memuji Rasulullah SAW. Orang-orang bergiliran membaca dengan lagu yang
berbeda-beda. Ada yang irama dan nadanya seperti lagu India, ada yang
seperti lagu Melayu, ada lagu padang pasir, dsb. Bahkan ada yang
menembak irama lagu Pengantin Baru. Kalau lagunya agak sulit,
orang-orang yang "koor" mengikutinya agak kerepotan juga. Biasanya ada
grup rebana yang mengiringi.
Dalam acara semacam ini Ndara Mat
Amit tidak pernah absen hadir dengan pakaian kebesarannya yang
khas:sarung plekat, jas yang berkantong besar; peci torbus merah, dan
sepatu dengan kaos kaki tebal. Dia kelihatan paling bersemangat
menyahuti syair-syair yang dilagukan.Seperti sosoknya, suaranya juga
paling menonjol. Keras, sember; dan sumbang; membuat anak-anak muda
menahan senyum dan anak-anak kecil cekikikan campur takut.
Tidak seperti biasanya, dalam acara seperti itu, Ndara Mat Amit tidak
peduli; dia tetap asyik menyahuti shalawat Nabi dengan serius dan
sepenuh hati. Sampai suatu ketika, pada acara Mauludan seperti itu
terjadi peristiwa yang menarik. Pada saat asyraqalan, di mana semua yang
hadir berdiri sambil melantunkan shalawat mulai dari Thala'al Badru
'alainaa ... Ndara Mat Amit tampak menunduk-menunduk sambil menangis
meraung-raung. Sementara di bagian lain terlihat pemandangan yang
serupa: Pak Min, kusir dokar yang biasa mengantar Ayah bila bepergian
agak jauh, juga menunduk-menunduk sambil menangis, meski tidak sekeras
Ndara Mat Amit. Tentu saja sikap kedua orang itu menarik perhatian
sekalian yang hadir. bahkan setelah selesai acara berzanjenan, pada
waktu acara makan bersama, kulihat Ayah mendekati Pak Min dan
menanyainya, "Kang Min, tadi waktu asyraqalan aku lihat kamu kok
menunduk-nunduk sambil menangis. Mengapa?"
"Lho, apa Kiai nggak pirso tadi itu Kanjeng Nabi rawuh?" Kang Min balas bertanya sambil berbisik.
"Lho, masak iya, Kang Min?" ayah seperti kaget.
"Aku kok nggak melihat."
"Kusir samber gelap!" tiba-tiba suara geledek Ndara Mat Amit menyambar.
"Begitu saja ente pamer-pamerkan, Min, Min! Dasar kusir kucing kurap!"
"Siapa yang pamer, Yik (Yik berasal dari Sayyid = panggilan untuk orang
Arab di Jawa)?" sahut Pak Min. "Aku kan ditanya Kiai. Memangnya aku
mesti diam saja ditanya Kiai?"
"Kusir tengik, tak tahu malu!"
"Kau ini, Yik, yang tak tahu malu!" sergah Pak Min dengan berani, membuat orang-orang tercengang.
"Dari dulu nggak capek-capeknya pakai topeng monyet. Sudahlah, Yik,
yang wajar-wajar saja! Untuk apa pakai topeng segala! Ente pikir, dengan
pakai topeng monyet begitu ente bisa menyembunyikan diri ente? kusir
dokar saja tahu siapa ente sebenarnya."
Orang-orang mengira
Ndara Mat Amit akan meradang dan menerkam atau setidaknya menyumpahi
Kang Min habis-habisan. Ternyata tidak. Ndara kita ini malah menunduk
dan tak lama kemudian, "Assalamu'alaikum!" katanya memberi salam kepada
semua, dan --lho!-- ditinggalkannya majlis begitu saja.
Dari
kejauhan masih terdengar lamat-lamat umpatannya, "Kusir edan!" Sejak
itu, Ndara Mat Amit menghilang. Tak pernah lagi datang ke kota kami.
Demikian pula Pak Min. tak lama setelah kepergian Ndara Mat Amit, Pak
Min pamit kepada Ayah dan menyerahkan dokar dan kudanya. Katanya mau
pulang ke desanya, tapi setelah itu tak pernah kembali.
"Dua
orang itu," kata Ayah saat aku mintai penjelasan, "Sayyid Muhammad Hamid
--yang dikenal sebagai Ndara Mat Amit-- dan Kiai Mukmin --yang biasa
dipanggil Pak Min atau Kang Min-- sebenarnya sama-sama memakai topeng.
Artinya keduanya ingin menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya agar
tidak dikenali orang. Keduanya ingin tampak awam, bahkan hina, di depan
umum. Yang satu dengan berlagak kasar tak tahu sopan; yang satunya lagi
bersembunyi dalam pekerjaannya sebagai kusir. Dulu banyak orang saleh
yang menyembunyikan diri seperti itu, bahkan ada yang berpura-pura gila.
Ada yang melakukan hal itu karena khawatir didekati penguasa; ada yang
tak mau kehilangan kenikmatan sebagai hamba yang papa di hadapan Allah,
ada juga yang semata-mata karena takut hatinya terserang ujub."
"Tapi, seperti kau ketahui, takdir mempertemukan kedua tokoh bertopeng
itu dan tanpa sadar topeng-topeng mereka terlepas. Keistimewaan mereka
pun terlihat oleh kita. Kamu lihat waktu berzanjenan itu: dari sekian
banyak kiai, tak ada seorang pun yang melihat kehadiran Rasulullah, juga
Ayah. Hanya mereka berdua. Itu waAllahu a'lam, merupakan tanda bahwa
hati mereka memang bersih. Hanya mereka yang mempunyai hati bersih, yang
dapat melihat alam malakut dan roh suci nabi. Ayah yakin mereka berdua
tak akan pernah kembali kemari, selamanya. Wali mastur, yang
menyembunyikan kesalehannya, selalu menghilang bila ketahuan umum."
Rembang, 3 Ramadan 1423Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/
Penerbit Buku Buku Islam
#edisi kangen Gus Dur#
(Membaca artikel ini, saya semakin percaya jika Gus Dur benar-benar "perpustakaan berjalan")
"Pesantren dalam Kesusastraan Indonesia"
Oleh: Abdurrahman Wahid
(Kompas, 26 November 1973)
Sebagai objek sastra, pesantren boleh dikata belum memperoleh perhatian
dari para sastrawan kita, padahal banyak di antara mereka yang telah
mengenyam kehidupan pesantren. Hanya Djamil Suherman
yang pernah melakukan penggarapan di bidang ini, dalam serangkaian
cerita pendek di tahun-tahun lima puluhan dan enam puluhan. Juga
Mohammad Radjab, sedikit banyak telah menggambarkan tradisi hidup
bersurau di kampung, dalam otobiografinya yang berjudul Semasa Kecil di
Kampung. Walaupun demikian, karya dua orang penulis itu belum lagi dapat
dikatakan berhasil mengungkapkan hidup kejiwaan di pesantren. Paling
banyak karya mereka baru memantulkan nostalgia akan masa bahagia yang
mereka alami semasa kecil dalam lingkungan pesantren.
Yang
ironis, justru sebuah karya pendek yang berhasil menampilkan
permasalahan kejiwaan pesantren. Karya itu adalah cerpen Robohnya Surau
Kami, oleh A.A. Navis. Permasalahan cerpen ini, yaitu fatalisme yang
melanda kehidupan beragama, adalah permasalahan tipikal pesantren.
Walaupun latar belakang sosial yang disoroti adalah kehidupan kampung
yang “biasa”, tetapi jelas sekali cerpen ini dipengaruhi corak kehidupan
surau/pesantren di Sumatera Barat.
Sebaliknya, karya HAMKA Di
Bawah Lindungan Ka’bah, justru tidak mengungkapkan kehidupan kejiwaan
pesantren. Walaupun yang dikemukakan adalah cerita berlatar belakang
kehidupan agama, tetapi tema pokoknya tidaklah demikian. Tema itu adalah
mengenai kegagalan cinta dan usaha mengataasinya, dengan cara
mengasingkan diri di Makah. Tema pengorbanan cinta adalah tema umum
kemanusiaan, apa pun juga latar belakangnya. Dalam hal ini, karya HAMKA
tersebut mengingatkan kita pada pengorbanan tokoh utama karya Andre
Gide, La Porte Etroite. Dalam karya ini, tokoh Alissa mengorbankan cinta
dengan jalan menjadi seorang biarawati.
Abstraksi-abstraksi yang Sukar Difiktifkan
Mengapakah sedikit sekali kehidupan pesantren digambarkan dalam
kesusastraan kita? Ada beberapa sebab yang dapat dikemukakan untuk
menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, karena persoalan dramatis di
pesantren berlangsung pada “taraf terminologis” yang tinggi
tingkatannya. Soal abstrak seperti determinasi, (al-jabru), free
destination, (iradah), intensitas ketundukan kepada Tuhan, dan
sebagainya, sukar sekali dituangkan sebuah cerita fiktif.
Kedua, karena masih kakunya pandangan masyarakat kita terhadap
manifestasi kehidupan beragama di kehidupan kita. Oleh Nurcholis Madjid
pandangan ini dinamai sakralisme agama. Dengan demikian, naluri sastra
dan elastisitas bentuk penceritaan tidak memperoleh jalan pelepasan.
Kita masih ingat akan reaksi sangat keras terhadap Ki Pandji Kusmin,
Langit Makin Mendung, beberapa tahun yang lalu.
Desakralisasi
Jika proses desakralisasi kehidupan beragama telah jauh berlangsung,
sebenarnya manifestasi kehidupan beragama dapat menjadi medium sastra
yang unik. G. K. Chesterton, misalnya, telah menyajikan kepada kita
rangkaian kisah seorang pendeta detektif, Father Brown. Walaupun karya
ini tidak dapat dianggap sebagai karya sastra yang serius, tetapi
minimal ia telah telah menunjukkan betapa uniknya kehidupan bergama
sebagai medium sastra.
Pada umumnya, medium yang digunakan
adalah satire, seperti rangkaian novel Giovanni Guareschi di Italia pada
tahun-tahun lima puluhan. Karya Guareschi itu melukiskan suka duka
seorang pendeta kampung yang turut campur soal-soal politik lokal. Tokoh
pendeta-politikus Don Carmillo ini begitu menarik perhatian, sehingga
karya Guareschi tersebut terkenal tidak hanya di Italia saja, bahkan
telah menjadi epik modern yang setara dengan ketenaran karya klasik
Jaroslav Hasek, Serdadu Baik si Schweik.
Pada waktu Lurah Don
Peppone, seorang komunis, tampaknya akan memperoleh kemenangan dalam
sebuah pemilihan lokal, Don Carmillo menghadap pada patung salib Yesus
di altar gereja boboknya. Menolak permintaan Don Carmillo agar Ia
menyelamatkan kampung itu dari bahaya komunis, Yesus menjawab bahwa
urusan politik bukan urusannya! Mungkinkah satire seperti ini
diterbitkan di negeri kita dewasa ini, dengan tidak menerbitkan
gelombang reaksi yang hebat?
Jangan Satire
Salah satu
jalan untuk mengatasi kekurangan penggarapan materi pesantren dalam
kesusastraan kita, adalah dengan mencari persoalan dramatis yang tidak
mengarah pada bentuk satire. Dalam hal ini dapat dikemukakan contoh
berupa karya seorang penulis Yahudi Amerika, Dr. Chaim Potok.
Potok menceritakan pergulatan Hari, seorang pemuda Yahudi dari sekte
ortodoks, yang mempunyai seorang ayah rabbi terkemuka. Rabbi itu, dengan
penderitaan luar biasa, harus melarikan diri dari Rusia dan pindah ke
New York. Dalam kedegilan hati yang luar biasa, ia menentang setiap
usaha untuk mengadaptasi hukum agama Yuda pada kehidupan modern.
Keagungan kepribadiannya digambarkan dengan sangat mengena oleh Potok:
ketundukannya yang penuh pada ajaran agama, kejujurannya untuk membela
nilai-nilai yang dijunjungnya tinggi, kasih sayangnya kepada jemaat yang
dipimpinnya, dan kekerasan hatinya untuk melawan setiap “bujukan” untuk
berkompromi dengan kehidupan modern di Amerika. Dalam dua karyanya, The
Chosen dan The Promise, Potok menyajikan pergulatan yang khusus
bersangkutan dengan sikap hidup beragama, secara serius dan penuh
kecintaan.
Dalam karyanya yang ketiga, My Name is Asheerlev,
diceritakan seorang pemimpin Yahudi dari sekte kolot, yang mempunyai
seorang anak genius yang berbakat melukis. Padahal lingkungan sektenya
tidak memperkenankan penuangan bentuk makhluk hidup ke dalam lukisan.
Secara dramatis diperlihatkan bagaimana penderitaan batin sang ayah yang
terjepit antara tugasnya kepada masyarakat, dan antara bakat anaknya
yang begitu luar biasa.
Karena teknik penceritaan, pengetahuan
bahasa, dan keindahan sastra yang bertaraf tinggi, drama tersebut
menjadi sangat menarik perhatian bagi pembacanya. Pada pokoknya, Potok
berhasil mengungkapkan dilema keagamaan yang universal bagi kita semua:
bagaimana harus mempertemukan ketundukan pada nilai agama dengan
kebutuhan hidup modern ini.
Potok mencapai hasilnya yang
gemilang itu, dengan pujian dari para kritikus sastra yang terkemuka,
karena ia menguasai persoalan yang digarapnya. Jelas dari ketiga
karyanya itu bahwa ia mengalami sendiri kemelut yang digambarkannya.
Dengan demikian, pesan yang hendak disampaikannya kepada pembaca tampak
penuh kejujuran, bukannya gambaran tentang sesuatu sentimen murahan yang
digarap secara cengeng.
Kalau ada juga sastrawan kita yang
merasa terpanggil untuk menggarap kehidupan pesantren sebagai objek
sastra nantinya, terlebih dahulu harus diyakininya persoalan-persoalan
dramatis yang akan dikemukakannya. Tanpa penguasaan penuh, hasilnya
hanyalah akan berisi kedangkalan pandangan belaka.
---
Lahul fatihah...Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/
Penerbit Buku Buku Islam
| TES PENERIMAAN BEASISWA UNIVERSITAS AL-AHGAFF 2013 | ||
BEASISWA UNIVERSITAS AL-AHGAFF REPUBLIK YAMAN TAHUN PELAJARAN 2013
Syarat-Syarat Pendaftaran:1. Mengisi formulir 2. Menyerahkan copy ijazah SMU/sederajat 2 lembar dengan nilai rata-rata minimal 7,5 (umur ijazah tidak lebih dari 3 tahun) 3. Menyerahkan pas foto berwarna berbackground putih 4x6 sebanyak 4 lembar 4. Menyerahkan surat pengantar dari pesantren atau sekolah yang bersangkutan 5. Menyerahkan copy raport kelas 11, 12 dan 13 yang telah dilegalisir oleh SMU/sederajat yang bersangkutan (khusus bagi yang ijazahnya belum siap). 6. Pendaftaran dibuka mulai awal bulan April 2013 dan berkas harus sudah diterima di kantor pusat Universitas Al-Ahgaff di Indonesia melalui pos, jasa titipan kilat atau email paling lambat 7 hari sebelum masa ujian di mulai. Brosur Selengkapnya... KANTOR PUSAT UNIV. AL-AHGAFF DI INDONESIA Jl. Jagasatru No. 56/193 Cirebon Ja-BarTelp. (0231) 203157CP: 08122212000,081546522000 (tidak melayani sms)Ust. Nur Wahid, Lc (085325711383)Ust. Achmad Yusuf, Lc (085728210439)Ust. Fakhruddin J. Bandera (081282175322) e-mail : ahgaff_indonesia@yahoo.com, indonesia@ahgaff.edu FB : Yayasan Al-Ahgaff IndonesiaWebsite : www.ahgaff.edu JADWAL & LOKASI TES SELEKSI: 1. 05 Mei 2013 (putra & putri) di PP. Al-Khairaat Kampus Madinatul Ilmi – Dolo Jl. Tras Palu Kulawi KM. 11 Sul-Teng Telp. (0451) 483807 Fax. 482534 CP: Ust. Citrawan, Lc (085256380038) Ust. Asghar Korona, Lc (085216662307) 2. 09 Mei 2013 (Putra & Putri) di PP. Al-Kautsar Al-Akbar Medan Sumut CP: Ust. Muhyiddin (08126532221) 3. 15 Mei 2013 (putra & putri) di PP. Arriyadh No. 59, 13 Ulu, Palembang, Sumse CP: Hb. Zein Alhabsyi (081367712320) Ust. Mustamirruddin, Lc (081373957681) 4. 19 Mei 2013 (putra & putri) di Lombok NTB (Lokasi Tes Menyusul) CP: Drs. Abdillah Asseggaf (081547100100) Ust. Abdul Aziz bin Agil (081803705558) 5. 26-27 Mei 2013 (putra & putri) di PP. Kauman Lasem, Rembang, Jateng CP: KH. M. Zaim Ma'shum (081325650650) Ust. Munawwir (081575564395) 6. 29 Mei 2013 (putra) & 30 Mei 2013 (putri) di STAI Darullughah wadda'wah, PP. Darullughah wadda'wah, Raci, Bangil, Pasuruan, Jatim CP: Ust. Muh. Ali Alatthas, Lc (087885812057) Ust. Adnan Kasogi (085350553189) 7. 4 Juni 2013 (putra & putri) di PP. Darul Ilmi Jl. Jend. Ahmad Yani KM. 19,2 Kec. Lianganggang Kota Banjarbaru 70722 KalselCP: Ust. Hamdani Thayyib (081348720313) Ust. Irhami, Lc (081351460004) 8. 11-15 Juni 2013 (setiap hari jam 08.00-12.00 WIB) di Kantor Pusat Universitas Al-Ahgaff di IndonesiaJl. Jagasatru No. 56/193 Cirebon JabarCP: Ust. Nur Wahid, Lc (085325711383) Ust. Achmad Yusuf, Lc (085728210439) | ||
Kalau Mendikbud Muhammad Nuh orang Jawa, memang betul, tapi kalau Nabi Nuh orang Jawa? :-)
----
Ini ada berita akhir tahun silam, monggo dipelototi!
----
"Kapal Nabi Nuh diduga berasal dari Nusantara"
----
SEJAK ditemukannya situs kapal Nabi Nuh AS oleh Angkatan Udara Amerika
serikat, tahun 1949, yang menemukan benda mirip kapal di atas Gunung
Ararat-Turki dari ketinggian 14.000 feet (sekitar 4.600
M). Dan di muat dalam berita Life Magazine pada 1960, saat pesawat
Tentara Nasional Turki menangkap gambar sebuah benda mirip kapal yang
panjangnya sekitar 150 M. Penelitian dan pemberitaan tentang dugaan
kapal Nabi Nuh AS (The Noah’s Ark) terus berlanjut hingga kini.
Seri pemotretan oleh penerbang Amerika Serikat, Ikonos pada 1999-2000
tentang adanya dugaan kapal di Gunung Ararat yang tertutup salju,
menambah bukti yang memperkuat dugaan kapal Nabi Nuh AS itu. Kini ada
penelitan terbaru tentang dari mana kapal Nabi Nuh AS itu berangkat.
Atau di mana kapal Nabi Nuh AS itu dibuat?
Baru-baru ini,
gabungan peneliti arkeolog-antropolgy dari dua negara, China dan Turki,
beranggotakan 15 orang, yang juga membuat film dokumenter tentang situs
kapal Nabi Nuh AS itu, menemukan bukti baru. Mereka mengumpulkan artefak
dan fosil-fosil berupa; serpihan kayu kapal, tambang dan paku.
Hasil Laboratorium Noah’s Ark Minesteries International, China-Turki,
setelah melakukan serangkaian uji materi fosil kayu oleh tim ahli
tanaman purba, menunjukan bukti yang mengejutkan, bahwa fosil kayu Kapal
Nabi Nuh AS berasal dari kayu jati yang ada di Pulau Jawa.
Mereka telah meneliti ratusan sample kayu purba dari berbagai negara,
dan memastikan, bahwa fosil kayu jati yang berasal dari daerah Jawa
Timur dan Jawa Tengah 100 persen cocok dengan sample fosil kayu Kapal
Nabi Nuh AS. Sebagaimana diungkap oleh Yeung Wing, pembuat film
documenter The Noah’s Ark, saat melakukan konfrensi pers di Hongkong,
Senin (26/4/2010) yang lalu.
“Saya meyakini 99 persen, bahwa
situs kapal di Gunung Ararat, Turki adalah merupakan fosil Kapal Nuh
yang ribuan tahun lalu terdampar di puncak gunung itu, setelah banjir
besar menenggelamkan dunia dalam peristiwa mencairnya gleser di kedua
kutub” Jelas Yeung Wing
Pendapat National Turk
Dr.Mehmet Salih Bayraktutan PhD, yang sejak 20 Juni 1987 turut meneliti
dan mempopulerkan situs Kapal Nabi Nuh AS, mengatakan: “Perahu ini
adalah struktur yang dibuat oleh tangan manusia.” Dalam artikelnya juga
mengatakan, lokasinya di Gunung Judi (Ararat) yang disebut dalam Al
Qur’an, Surat Hud ayat 44. Sedangkan dalam injil: Perahu itu terdampar
diatas Gunung Ararat (Genesis 8 : 4).
Menurut peneliti The
Noah’s Ark, kapal dibuat di puncak gunung oleh Nabi Nuh AS, tak jauh
dari desanya. Lalu berlayar ke anta beranta, saat dunia ditenggelamkan
oleh banjir besar. Berbulan-bulan kemudian, kapal Nabi Nuh AS merapat ke
sebuah daratan asing. Ketika air menjadi surut, maka tersibaklah bahwa
mereka terdampar di puncak sebuah gunung.
Bila fosil kayu kapal
itu menunjukan berasal dari Kayu jati, dan itu hanya tumbuh di
Indonesia jaman purba, boleh jadi Nabi Nuh AS dan umatnya dahulu tinggal
di sana. Saat ini kita dapat saksikan dengan satelit, bahwa gugusan
ribuan pulau itu (Nusantara), dahulu merupakan daratan yang luas.
Sedangkan Dr.Bill Shea, seorang antropolog, menemukan pecahan-pecahan
tembikar sekitar 18 M dari situs kapal Nabi Nuh AS. Tembikar ini
memiliki ukiran-ukiran burung, ikan dan orang yang memegang palu dengan
memakai hiasan kepala bertuliskan Nuh.
Dia menjelaskan, pada
jaman kuno, barang-barang tersebut dibuat oleh penduduk lokal di desa
itu untuk dijual kepada para peziarah situs kapal. “Sejak jaman kuno
hingga saat ini, fosil kapal tersebut telah menjadi lokasi wisata,”
ujarnya.
----
Sumber: nusantara.pelitaonline.com/news/2012/10/31/kapal-nabi-nuh-diduga-berasal-dari-nusantara.
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/
Penerbit Buku Buku Islam
--
Sahabat Amru bin Tsabit alias al-Ushairim berasal dari Bani Abdil
Asyghal. Ia menolak masuk Islam meskipun diajak sahabat sekaliber Sa'd
bin Muadz.
Namun menjelang Perang Uhud, ia tiba-tiba
bersyahadat. Lalu menyusul Rasulullah di arena pertempuran. Ia bertarung
hingga terluka parah.
Tatkala perang mereda, para sahabat yang berasal Bani Abdil Asyghal kaget melihat Amru dalam kondisi menjelang ajal. Sahabat-sahabatnya menanyakan alasan mengapa ia ikut dalam barisan kaum muslimin.
"Bahkan karena kecintaan terhadap Islam aku telah beriman kepada Allah
& Rasul-Nya, lalu aku berperang bersama Rasulullah SAW hingga aku
mengalami kondisi sebagaimana yang kalian lihat saat ini," tutur Amru
sebelum gugur.
Para sahabat kemudian membeberkan kisah tersebut
kepada Kanjeng Rasulullah SAW. Maka beliau shallAllah alaihi wasallam
bersabda: "Huwa min ahlil jannah..."
"Padahal dia (Amru) belum pernah melakukan shalat satu kalipun," kata Abu Hurairah.
--
Puuuuennaaaak tenaaaan..
---
("30 Shahabat Nabi yang Dijamin Surga" karya Dr. Musthafa Murad [hlm. 276-277], yang menukil Zaadul Ma'ad [3/200])
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/Penerbit Buku Buku Islam








