Advertisement

15.2.17

Tetaplah berbuat baik

 
Tetaplah berbuat baik!

Masih ingat Aiptu Sutisna? Anggota Satuan Patroli dan Pengawalan (Patwal) Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya ini dulu dimaki-maki dan dicakar oleh pegawai Mahkamah Agung (MA) bernama Dora Natalia Singarimbun. Video yg menjadi viral ini berbuah keberkahan untuk Pak Sutisna dan Istri. Tentu saja semua karena kesabaran yang tinggi saat peristiwa pencakaran itu terjadi. Keberkahan sebab kesabaran inilah yang membawa Sutisna dan Istrinya dihadiahi perjalanan wisata spiritual ke Palestina, Jordan, Madinah dan Mekkah.

Sudah lebih dari sepekan saya mendampingi Pak Sutisna dan istri serta beberapa petinggi di jajaran Polri, saya menyaksikan langsung sosok polisi yang bersahaja dan rendah hati. Pak Sutisna, tak henti-henti bersyukur atas hadiah yang tak pernah diduganya. Saat kejadian dengan Ibu Dora, sama sekali tak terbesit kebencian atau sekedar keinginan membalas kelakuan kasar yang diterimanya. "Saya menduga Ibu itu sedang ada masalah, mungkin saya menjadi target pelampiasan kemarahan." Dan faktanya benar, beberapa hari setelah kejadian, baru diketahui bahwa sang ibu tengah stress berat akibat persoalan rumah tangga yang sangat dilematis (kalau bagian ini diceritakan Anda akan dapat mengerti mengapa kasus Ibu Dora ini juga menjadi berkah bagi Kapolda Metro yg saat itu tengah berharap sidang Ahok dapat dipindahkan dari Gajahmada ke Pertanian. Lho apa hubungannya? 😀 lanjut baca ke bagian kedua yaaa)

Yang jelas prilaku sabar itu menghantarkan keberkahan yang dahsyat, pesan Pak Sutisna dalam obrolan dengan saya saat di pelataran Masjidil Aqsha, "tetaplah berbuat baik bukan karena berharap sesuatu tetapi karena tuhan memang senang bila hambaNya berbuat baik. Tulus saja."

Pesan penting ini segera menjadi catatan saya, "Tetaplah berbuat baik!." Dan Pak Sutisna berhasil "memaksa" saya untuk mmperhatikan detail tindak tanduknya selama berhari-hari berjalan bareng. Sungguh saya banyak belajar dari beliau, belajar bagaimana bersikap nothing to loose, ikhlasin ajaaaaa 😊

Kasus Dora Berkah buat Kapolda

Sehari sebelum kejadian, Kapolda tampak pusing kepala, bagaimana tidak, usulannya agar sidang Ahok yg akan digelar di Pengadilan Jalan Gajahmada dipindahkan ke Aula Departmen Pertanian, ditolak oleh Mahkamah Agung. Menurut Kapolda, gelar sidang Ahok di kawasan Gajahmada terlalu rentan, bukan hanya dekat kawasan pecinan, tetapi juga dengan Istana, apalagi masing-masing kelompok (Ahok dan GNPF) mengklaim akan mendatangkan massa dalam jumlah besar. Kapolda berharap ada keajaiban yang bisa menyelesaikan masalah ini.

Dan pagi itu, di sekitaran jalan Jatinegara, di tengah arus lalu lintas Jakarta yang macet, seorang petugas polisi tampak sibuk mengatur ketertiban jalan raya. Sekonyong2, tanpa ia sadari sebuah suara keras nan kasar mampir di telinganya, kata-kata kasar itu menyebut dirinya menghalangi mobil sang pengendara yg hendak mengambil jalur busway, merasa terganggu dengan suara tersebut, petugas polisi bernama Sutisna itu menolehkan pandangan, ia melihat seorang Ibu sedang menunjuk-nunjuk dirinya seraya terus mengomel tiada henti, Sutisna menghampiri sang pengendara, dan belum sempat ia bertanya, suara sang ibu memborbardir dirinya layaknya Firza mengadu kepada Kak Ema. Eh 🙈

Sang Ibu yang kemudian diketahui bernama Dora, memaki Sutisna dan mengumpatnya . "'Iya elu bego, enggak punya otak, tolol', semua kata-kata kotor keluar dari mulutnya si ibu," kata Sutisna menyebutkan makian Dora. Sutisna lalu ke depan mobilnya untuk memfoto pelat nomor mobil yang dikemudikan Dora. "Saya ke depan bermaksud dokumentasikan pelat nomor dia untuk foto, dia main ambil HP saya," sambungnya. "Setelah ambil HP saya dia bilang "saya orang Mahkamah Agung, handphonemu saya sita, nanti kamu ambil di Mahkamah Agung". Kalau ibu mau ambil silakan ambil saja, orang HP saya jelek," katanya. Dora tambah emosi dan mengejarnya. Di jalur busway Dora menarik seragam Sutisna untuk meraih kunci mobil yang dipegang Sutisna, hingga rompinya rusak dan tanda kepangkatan Sutisna copot.

"Setelah dia puas mukulin saya, saya sempat ngomong, "ibu sudah puas maki-maki saya, marahin saya, mukulin saya, kalau memang sudah puas silakan. Tapi kalau belum puas silakan, saya tidak akan melawan sedikit pun, silakan ibu lampiaskan emosi ibu, kekecewaan ibu sama polisi cukup sama saya saja jangan ke orang lain," beber Sutisna.

Tapi bukannya berhenti, Dora, menurut Sutisna kembali memukuli dia. Sutisna lantas menenangkan Dora hingga akhirnya Sutisna menyerahkan kembali kunci mobil tersebut kepada Dora.

"Mungkin sudah capek, mukulin saya dan saya juga tidak mau melawan akhirnya ibu sudah puas kalau sudah puas dan merasa sudah tenang jiwa ibu, ini kunci saya kembalikan. Akhirnya kunci saya kembalikan," terang Sutisna. Setelah kunci mobilnya dikembalikan, Dora pun pergi meninggalkan Sutisna. Saat itu, handphone milik Sutisna yang masih dia pegang, dibuang ke jalur busway.

Kejadian yang sempat direkam oleh teman sejawatnya, segera menjadi viral setelah diupload ke youtube, dan hari itu pula, Sutisna menjadi buah bibir dan trending topics di lini masa sosial media. Berita ini segera menyebar dan sampai ke telinga Kapolda. Kapolda yang mengetahui hal ini melibatkan salah seorang staf Mahkamah Agung segera menyadari inilah keajaiban yang sedang ditunggu-tunggu, segera Pak Kapolda menelpon Sutisna yang siang itu sedang melakukan visum di RS Polri Kramatjati.

"Anda menyelematkan saya, terima kasih atas kesabaranmu yaa semoga menjadi contoh bagi yang lain, besok pagi menghadap ke ruangan saya," demikian suara kapolda di ujung telepon, "siap jendral," sahut Sutisna mantap.

Maka, begitulah, bargaining sidang Ahok segera cair, keesokan harinya, berita di media segera tersiar, sidang Ahok dipindah ke Aula Dep Pertanian, "Jadi betul atas permohonan dari Kapolda dan Kajati DKI, diputuskan pemindahan tempat sidang ke Jalan RM Harsono, Pasar Minggu, di gedung auditorium Kementerian Pertanian," kata Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Mahkamah Agung (MA) Ridwan Mansyur.

Mengapa akhirnya MA mengizinkan sidang Ahok dipindah? Ah. Bagian ini biar jadi konsumsi saya saja, netizen tidak perlu tahu..😀

Hadiah Umroh dan Haji

Saat Kapolda menganugerahi piagam penghargaan atas kesabaran Sutisna, ia juga mengundang jajaran direktorat di Polda Metro Jaya untuk dimintai apresiasi masing-masing atas dedikasi Pak Sutisna. Maka hadiah pertama segera diberikan oleh Dirlantas, lalu menyusul direktur lain, setelah dikumpulkan, sutisna mendapatkan 6x hadiah umroh (bebas dipilih mau kapan saja). Bukan hanya itu, ia juga mendapatkan hadiah sejumlah 10 Ribu USD tunai.

Puncaknya, saat Sutisna diundang oleh Kedutaan Arab Saudi untuk menerima hadiah Undangan Haji di tahun 2017 ini. Allahu Akbar, keajaiban bertubi-tubi dirasakan oleh Pak Sutisna dan keluarga, pihak KBSA bukan hanya memberikan hadiah haji tetapi juga umroh kapanpun beliau mau. 😭

Ortu bervisi Pendidik

Aku bersyukur bisa mendampingi Pak Sutisna dan istri, kami banyak berbincang mengenai kehidupan termasuk pola pendidikan untuk putrinya yang cerdas. Menurut saya, Pak Sutisna itu seorang ayah dengan visi pendidik. Putrinya, seorang mahasiswi di Universitas Trisakti Jurusan Geology pertambangan, meskipun sebelumnya mendapat undangan PMDK di ITS Surabaya dan Universitas Veteran Jogjakarta. Ia tidak ambil karena jauh dari Orang tua.

Semasa SMA, putrinya berkesempatan mendapatkan beasiswa (hanya 7 orang) di SMA PSKD Mandiri, Menteng. Sekedar informasi yaa nama putrinya keren deh; Geovani tresna yanuarida, "saya terinspirasi dari Madam Geovani, menteri kehakiman dari Italia yg terkenal sangat jujur."

Lihat, urusan memilih nama anak saja, Pak Sutisna sangat visioner. So, tidak salah, bila kemudian Tuhan memilih dia sebagai contoh teladan untuk kita belajar dari beliau tentang kesabaran dan visi panjang dalam kehidupan.

Salam Motivasi 🙏
(oleh : KH. Nurul Huda alias Enha Baru)


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam.

Al-Qur'an hanya dipakai alas kaki para politisi

 
​CALON GUBERNUR DKI JIKA DIHITUNG NAMANYA​

Nih ada hitung2an menarik ----> Ini hitungan pilkada dki..juga bagus..

​Saya hanya berkata bahwa Pilkada DKI saat ini adalah Pilkada untuk Kemenangan Ummat .​

Anda nggak Percaya ...!!! Mari kita Buktikan .

Jika Huruf A B C D E ....dst sampai Z
Di urut dngan No 1 2 3 4 5 sampai 26,

Maka yang terjadi adalah .
Nama Cagub:

​AGUS, ANIES & BASUKI​ .

​A + G + U + S​
1 + 7 + 21 + 19 = 48

​A + N + I + E + S​
1 + 14 + 9 + 5 + 19 = 48

​B + A + S + U + K + I​
2 + 1 + 19 + 21 + 11 + 9 = 63

AGUS dan ANIES jumlahnya sama sama 48 .

Hanya BASUKI saja yg Jumlahnya ​63​ .

Silahkan cek dalam Al Qur'an Surat ke 48 & 63 adalah surat apa ...?

Surat ke ​48​ dalam Alqur'an adalah Surat Al-Fat'h dan arti dari Al Fat'h adalah "KEMENANGAN" .

Anda ingin tahu Surat ke ​63​ dalam Al Qur'an ....?

Surat ke ​63​ al Qur'an adalah Surat Al Munafiqun dan Artinya adalah
​"ORANG MUNAFIK"​
---------

Hahahaha pernah mendapat sms kayak di atas?

Saya Golput, 2014, dan pemilu sebelum-sebelumnya. Problem yang paling nyata di kalangan pendukung paslon adalah cocokologi dalam setiap even pemilu. Semua dicocok-cocokkan. Di even pilpres, ada kepercayaan urutan presiden berdasarkan nomenklatur NOTONAGORO ramalan Joyoboyo meski terus terang saya sangsi karena kalimat yang dipakai bukanlah bahasa Jawa era Joyoboyo, tapi bahasa yang lebih kekinian. Tapi, asudahlah. Namanya juga politik. Semua bisa disetting.

Yang lebih mengerikan, dalam proses otak atik gatuk politik ini, al-Qur'an dipakai KESET alias karpet merah kepentingan politik Tjap Tahi Koetjing ini. Masih ingat dengan ramuan cocokologi al-Qur'an bahwa secara huruf Prabowo dan Jokowi itu terdiri dari huruf ini itu lalu dikomodifikasi menjadi angka kemudiam dijumlah. Hasilnya ternyata berdasarkan al-Qur'an, P.R.A.B.O.WO itu identik dengan Surat A yang artinya ini, lalu J.O.K.O.W.I sesuai dengan hitungan angkanya ternyata tepat pada Surat B yang artinya itu. Maka, kesimpulannya Prabowo itu oke, Jokowi itu memble. Ini sesuai al-Qur'an, katanya.

Sungguh, bagi saya ini njancuki, kurang ajar beneran. Al-Qur'an hanya dipakai alas kaki para politisi. Meski ulah ini tidak mengurangi sakralitas al-Qur'an, tapi bagi saya eman-eman. Tak adakah cara yang lebih elegan untuk memenangkan pertarungan politik selain memperalat ayat dengan otak atik gatuk yang sama sekali nggak lucu ini?

Sampai saat ini saya beranggapan, jika nilai-nilai agama dibawa ke ranah politik, maka akan melahirkan kemaslahatan. Sebaliknya, apabila politik diseret ke wilayah agama maka yang ada hanyalah politisasi atas agama itu sendiri. Nggak perlu tanya buktinya, silahkan buka fakta sejarah yang selalu berulang dengan aktor yang berbeda-beda itu.

Sebenarnya banyak hal yang lebih bermanfaat daripada sekadar otak atik gatuk dan Tjotjokologi itu ayat al-Qur'an demi syahwat politik. Lebih banyak juga strategi cerdas daripada hanya memproduksi kampanye negatif bagi lawan.

Andaikata berpolitik praktis, saya akan menghindari politisasi ayat maupun cocokologi seperti di atas. Mengapa? Selain kontraproduktif, ini penghinaan! Sepenting apa sih Ahok, kok tega mempertaruhkan firman Tuhan untuk menghadapi orang ini. Atau, dalam pilkada lain, misalnya, sehebat apa kandidat yang kita dukung dan seburuk apa kandidat lawan, kok sampai mengotak-atik gatuk angka yang dinisbatkan kepada firman Gusti Allah ini untuk misi kita. Kok kurang kerjaaan banget di samping kurangajar, tentunya.

Ini namanya Gusti Allah diajak dolanan! Lha memangnya Gusti Allah jurkam!?

(Status saya, 30 Okt 2016)

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam.

12.2.17

KITAB/BUKU PEGANGAN WAJIB WARGA NU

 
KITAB/BUKU PEGANGAN WAJIB WARGA NU
----
Kitab dan buku ini telah dijadikan pegangan wajib warga NU, pengurus NU, pondok pesantren, dan sekolah madrasah dibawah naungan NU. Dan buku ini hadir dalam dua versi, yaitu versi kitab arabnya dan versi buku terjemahnya.
****
Keraguan dalam agama adalah musibah terbesar dalam hidup. Ironisnya musibah ini belakangan kerap melanda umat Islam di negeri ini, khususnya warga Nahdlatul Ulama. Salah satu penyebabnya adalah merebaknya beberapa firqah atau kelompok yang terus saja menggugat keabsahan amaliah sehari-hari warga NU seperti tahlilan, yasinan, istighosahan,  shalawatan, memperingati hari ke-3, 7, 40, 100, 1.000 harinya orang yang meninggal dunia, dzikir keras setelah shalat lima waktu, bacaan qunut dalam shalat subuh
dan lain-lain.
Akibatnya, umat dan warga NU menjadi bingung. Masyarakat yang ilmunya terbatas dan lemah dalam berargumentasi sangat membutuhkan pencerahan. Karena itu, upaya untuk meringankan atau bahkan menghindarkan umat dari musibah besar ini sangat dibutuhkan. Salah-satunya dilakukan dengan menghimpun dalil-dalil pilihan ini, yang terdiri dari beberapa ayat Al-Qur'an, Hadits dan pendapat para ulama.
Buku ini merupakan kebutuhan primer sebagai bekal menghadapi "propaganda" yang menggoyahkan keyakinan terhadap amaliah dan akidah ahlussunnah waljama'ah an-Nahdliyah. Buku ini dilengkapi pula dengan karya Hadrayus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy'ary, yakni Muqaddimah Qanun Asasi dan Mukhtashor Risalah Ahlussunnah Waljama'ah.

Penulis KH. Marzuqi Mustamar. Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rasyad Gasek Malang (Wakil Rois Syuriah PW Nahdlatul Ulama Jawa Timur).

Judul : Dalil-Dalil Praktis Amaliah Nahdliyah Ayat dan Hadits Pilihan Seputar Amaliah Warga NU (Al-Muqtathofatu Lil Ahlil Bidayah)
Penerjemah : Ust. Ma'ruf Khozin
Halaman : 249
Rp.50.000

Untuk versi arabnya Rp.25.000

Ingin memiliki buku/kitab ini bisa hubungi kami SMS/WA 0856-453-11110


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam.

"Enam Nama Kiai Dahlan dan Pentingnya Thabaqah Ulama Nusantara”

 
Tulisan puanjang. Nggak usah dibaca....
------
"Enam Nama Kiai Dahlan dan Pentingnya Thabaqah Ulama Nusantara”

Oleh: Rijal Mumazziq Z
(Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Kita beruntung hidup di masa sekarang, setelah ulama di masa lalu menulis thabaqah berdasarkan corak madzhab maupun bidang keilmuan para ulama salaf. Untuk melihat klasifikasi ulama madzhab Hanabilah, sudah disediakan Thabaqah Hanabilah karya Imam Ibnu Abi Ya’la al-Farra’ al-Hanbali. Untuk Syafiiyah telah tersedia Thabaqah Syafiiyah (Shughra) karya Imam Jamaluddin Abdurrahim al-Asnawi (w. 772 H), dan Thabaqah Syafiiyah Kubra karya Imam Tajuddin As-Subki.

Sedangkan di bidang tafsir, Imam As-Suyuthi sudah menulis Thabaqah al-Mufassirin. Selain itu, masih banyak kitab thabaqat berdasarkan klasifikasi bidang keilmuan maupun berdasarkan madzhab. Melalui thabaqah ini kita bisa melacak nama-nama ulama berdasarkan biografi, karakteristik, dan karya masing-masing ulama.

Dengan adanya semacam indeks nama disertai riwayat hidup sekilas ini, kita bisa dengan cermat meneliti nama-nama ulama dan menghindari kesalahpahaman terhadap nama ulama yang mirip maupun hampir mirip. Misalnya banyak ulama yang menisbatkan nama dengan daerah kelahirannya, Ray, Persia, yang kemudian disebut Ar-Razi. Ada banyak Ar-Razi dalam sejarah keilmuan Islam. Ada juga beberapa Isfirayini dan Al-Isfihani. Selain itu ada juga penisbatan asal daerah yang mirip, seperti mufassir Imam At-Thabari (w. 310 H) yang berasal dari Thabaristan, di sekitar Laut Kaspia, dengan muhaddits Imam Al-Thabrani (w. 360 H.) yang lahir di Thabriyah, Palestina. Pertama Thabaristan, yang kedua Thabriyah. Nyaris identik. Ini belum mengulas antara Ibnu Arabi dan Ibnu al-Arabi, antara Ibul Qayyim al-Jauzi dengan Ibnul Jauzi, serta duet mantap duo ayah anak: Taqiyyuddin dan Tajuddin As-Subki. Juga antara Ibnu Rusyd al-Jadd (qadli), Ibnu Rusyd al-Ab (qadli) dengan Ibnu Rusyd al-Ashghar sang filosof, dokter, sekaligus faqih jempolan. Ibnu Rusyd: satu nama yang dipakai bapak, anak, dan cucu. Nama sama, tapi dengan kiprah yang berbeda. Yang paling masyhur adalah yang Ibnu Rusyd al-Asghar yang menulis Bidayat al-Mujtahid.

Ada juga trio al-Bulqini. Ini tiga ulama jempolan asal Mesir di mana matarantai intelektual, khususnya fiqh, mayoritas ulama Nusantara menyambung melalui jalur ini. Sirajuddin al-Bulqini (724-805 H./ 1324-1403 M), yang juga disebut sebagai mujaddid, adalah ayah dari dua al-Bulqini lainnya: Jalaluddin al-Bulqini (763-824 H./1362-1421 M) dan adiknya, ‘Alamuddin al-Bulqini (791-868 H./1388-1464 M.)

Selain itu, ada juga dua Abu Bakar al-Qaffal (berdasarkan namanya, beliau di masa muda adalah perajin gembok): Imam Abu Bakar Abdullah bin Ahmad bin Abdullah al-Qaffal As-Shaghir (417 H.) dan Imam Abu Bakar Muhammad bin Ali Asy-Syasi al-Qaffal al-Kabir (w. 365 H). Nama pertama berasal dari Khurasan, yang kedua lebih senior berasal dari Syasyi (Tashkent, Ibukota Uzbekistan). As-Shaghir kondang dengan keilmuan fiqh, sedangkan al-Kabir masyhur dengan penguasaanya di bidang ushul fiqh. Makam Imam Syasyi al-Kabir berada di samping makam Imam Bukhari di Tashkent.

Dalam wujud perdebatan, antara kelompok Aswaja dengan Wahhabi mengenai penisbatan nama “Wahhabi” juga memantik perdebatan. Kubu Aswaja menisbatkan nama madzhab ini dengan Muhammad bin Abdul Wahab, ideolog Wahhabi modern, sebagaimana identifikasi ini dilakukan oleh ulama Syafiiyah yang hidup pada saat kelompok Wahhabi mulai mendominasi aliran keagamaan di Haramain. Misalnya, Mufti Syafiiyah, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dengan tulisannya yang bagus, al-Fitnah al-Wahhabiyah. Sampai sekarang, sebutan Wahhabiyah ini masih dipakai oleh kalangan ahlussunnah wal jamaah untuk mengidentifikasi sebuah aliran keagamaan. Sebaliknya kubu Wahhabi tidak terima. Mereka beranggapan apabila sebutan sinis “Wahhabiyah” adalah propaganda murahan di mana sebelumnya sebutan ini dinisbatkan kepada aliran sempalan bercorak Khawarij yang dipimpin oleh Abdul Wahab Rustum (w. 211 H.), yang hidup beberapa abad sebelum Muhammad bin Abdul Wahab (w. 1206 H.).

Di Indonesia, Bagaimana?

Di Indonesia, dalam contoh paling sederhana saja, masih ada beberapa orang yang salah mengutip nama ulama. Misalnya (Abu Zakariya) Imam an-Nawawi (631-676 H/1233-1277 M), fuqaha sekaligus ahli hadis kenamaan kelahiran Damaskus, yang namanya sama dengan Syaikh Nawawi (al-Bantani), mahaguru ulama Nusantara (1230-1314 H/ 1813-1897 M). Bahkan, seorang cendekiawan terkemuka di Indonesia sempat keliru menyebut “Arbain An-Nawawiyyah” sebagai karya Syaikh Nawawi, padahal karya di bidang hadis ini adalah buah pikiran Imam An-Nawawi. Perbedaannya hanyalah sebutan “Imam” dan “Syekh”, tapi butuh kejelian untuk mengenalinya. Demikian pula tampaknya ada kekeliruan mengenai karamah Imam Nawawi Ad-Dimasyqi yang dinisbatkan kepada Syaikh Nawawi al-Bantani.

Di lain pihak, dalam tradisi kitab kuning yang kuat mengakar dalam tradisi Islam Nusantara, ada nama yang cukup melegenda: Syaikh Zainuddin al-Malibari (w. 987 H./1579 M). Beliau adalah ulama fiqh madzhab Syafii kelahiran Malabar, India yang juga disebut sebagai Zainuddin Ats-Tsani, karena kakeknya juga bernama Zainuddin. Zainuddin Ats-Tsani ini adalah penulis Fathul Mu’in yang merupakan syarah atas karyanya sendiri, Qurratul ‘Ain bi Muhimmatid Din. Isryadul Ibad ila Sabil Ar-Rasyad adalah karya lainnya.

Sedangkan kakeknya, Zainuddin bin Ali bin Ahmad al-Malibari juga merupakan pakar fiqh Syafiiyah yang lahir di Malibar/ Malabar pada tahun 872 H/1467 M dan wafat di Ponani (Fanan) pada 928 H./ 1521 M. Karya sang kakek yang cukup populer di Indonesia adalah kitab tasawuf Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya’.

Zainuddin al-Malibari pertama ini juga dikenal dengan nama Zainuddin al-Fanani, dinisbatkan pada nama tempat wafatnya. Kitab Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya’ ini adalah salah satu kitab tasawuf yang paling populer di awal abad ke XX, dimana ulama sekaliber KH. Sholeh Darat memberi syarah kitab ini dengan judul Minhaj al-Atqiya fi Syarh Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya’.

Bahkan, saya menduga, KH. Santoso Anom Besari, keturunan Kiai Hasan Besari Tegalsari Ponorogo, adalah pengagum kitab Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya’ sehingga menamakan putranya dengan tabarrukan dengan nama Zainuddin al-Malibari al-Fanani ini, hingga kelak putranya, KH> Zainuddin Fanani, menjadi salah satu pendiri Pesantren Darussalam Gontor bersama saudara-saudaranya.

Kembali ke bahasan awal. Selain salah sangka di atas, ada banyak nama ulama Indonesia yang mirip. Di kurun awal, ada Syaikh Khatib As-Sambasi (1217 H./ 1803 M-1875 M) ) dan Syaikh Khatib al-Minangkabawi. Syaikh Khatib Sambas adalah ulama tarekat yang menggabungkan dua aliran besar: Qadiriyah dan Naqsyabandiyah, di mana melalui ijtihad ruhaniahnya beliau menggabungkannya menjadi Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang memiliki jutaan pengamal di kawasan Asia Tenggara.

Sama dengan Syaikh Khatib Sambas yang juga banyak menghabiskan waktu mengajar di Makkah hingga wafat di kota suci ini, Syaikh Khatib yang kedua, al-Minangkabawi (1860-1916), adalah ulama fiqh dan menjadi guru bagi para ulama Nusantara di awal abad ke-20. Dua muridnya, KH. Ahmad Dahlan, KH> M. Hasyim Asyari, dan KH>. Abdul Halim Majalengka  kelak menjadi penggerak kemajuan pendidikan dan berorganisasi di tanah air melalui masing-masing organisasi yang mereka dirikan (Muhammadiyah, NU, dan PUI).

Selepas era ini ada juga beberapa nama yang, mirip, misalnya antara Buya Hamka dan ayahnya. Haji Karim Amrullah (1879-1945), adalah penggerak pendidikan Islam di Sumatera Barat melalui Sumatera Thawalib, sekolah Islam modern pertama di zaman pergerakan. Sedangkan anaknya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka (1908-1981), adalah sastrawan, mufassir, ahli fiqh, dan ulama Muhammadiyah yang berpengaruh.

Selain itu, di kalangan kaum muslim tradisionalis, ada dua nama KH. Abdul Halim yang sama-sama berasal dari Majalengka. Nama pertama, KH. Abdul Halim alias KH. Muhammad Syathori (Otong Satori) yang lahir pada 26 Juni 1887. Beliau diangkat sebagai pahlawan nasional pada tahun 2008. Ajengan Halim adalah pendiri Perserikatan Ulama Indonesia (PUI) maupun Persatuan Umat Islam. Di dalam konteks kenegaraan, beliau aktif sebagai anggota di BPUPKI, bahkan setelah kemerdekaan sempat menjadi Bupati Majalengka, dan aktif menentang DI/TII sampai akhir hayatnya di tahun 1962.

Sedangkan KH. Abdul Halim berikutnya adalah KH. Abdul Halim dari Nahdlatul Ulama. Beberapa blog dan website saya cek banyak yang tertukar menempatkan fotonya. Foto Ajengan Halim PUI disebut sebagai foto Kiai Halim NU, demikian pula sebaliknya. KH. Abdul Halim yang kedua ini juga terkenal dengan sebutan Kiai Halim Leuwimunding (salah satu daerah Majalengka). Pria kelahiran 1898 ini adalah salah satu kader KH. Abdul Wahab Chasbullah saat belajar di Makkah, yang kemudian rela berjalan kaki dari Majalengka ke Surabaya untuk bergabung dengan Nahdlatul Ulama yang baru berdiri.

Santri Tebuireng angkatan pertama ini juga terlibat dalam kepengurusan NU generasi awal. Putranya, KH. Asep Saifuddin Halim, yang pernah menjabat sebagai Ketua PCNU Kota Surabaya, saat ini mengasuh Ponpes Amanatul Ummah di Surabaya dan di Pacet Mojokerto dan sekaligus mengabadikan nama KH. Abdul Halim yang wafat pada 1972 ini sebagai nama sekolah tinggi di Mojokerto.

Di antara kebingungan lain yang dialami oleh beberapa penelusur sejarah adalah nama “Kiai Dahlan”. Dalam penelusuran saya, ada beberapa nama Kiai Dahlan yang populer dan sempat terjadi kerancuan. Nama pertama tentu saja KH. Ahmad Dahlan alias Muhammad Darwis, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah. Cendekiawan Deliar Noer, dalam salah satu karyanya, menyebut apabila Kiai Ahmad Dahlan ini juga ikut memprakarsai berdirinya Majelis Islam A’la Indonesia alias MIAI, pada tahun 1937. Padahal apabila ditelisik, Kiai Dahlan Muhammadiyah wafat pada tahun 1923, jauh sebelum berdirinya MIAI. Lantas siapa sebenarnya Kiai Dahlan pendiri MIAI ini?

Nama lengkapnya KH. Ahmad Dahlan bin KH. Muhammad Achyad, dari Kebondalem Surabaya. Beliau adalah aktivis pergerakan yang membidani beberapa embiro NU, seperti Tashwirul Afkar, dan kemudian terlibat penuh dalam pendirian organisasi NU, 1926, sebagai Wakil Rais Akbar. Ulama kelahiran 30 Oktober 1885 ini juga menulis beberapa risalah yang mengkonter perdebatan furuiyah antara kaum pembaru dan kaum tradisionalis yang meruncing di era 1920-an tersebut. Sahabat saya, Dr. Wasid Mansyur, menuliskan biografi Kiai Dahlan Kebondalem ini dengan judul “Kiai Ahmad Dahlan: Aktivis  Pergerakan dan Pembela Ajaran Aswaja” (Surabaya: Pustaka Idea, 2015).

Sebelum era Kiai Dahlan Muhammadiyah dan Kiai Dahlan MIAi, ada juga era keemasan Kiai Dahlan Falak. Siapa beliau ini? Nama lengkapnya  KH. Dahlan bin Abdullah Attarmasi Assamarani. Beliau pakar falak yang kemudian diambil menantu oleh KH. Saleh Darat. Penulis Natijatul Miqat yang juga adik kandung Syaikh Mahfudz Attarmasi ini adalah salah seorang ulama Nusantara yang diakui kepakarannya di bidang falak.

Dalam buku Materpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1320-1945 karya Zainul Milal Bizawie disebutkan bahwa KH Ahmad Dahlan dan sahabatnya, Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari al-Baweyani, berangkat menuju beberapa wilayah Arab dan menuju ke Al Azhar Kairo. Di Kairo keduanya berjumpa dengan dua ulama Nusantara: Syaikh Jamil Djambek dan Syaikh Ahmad Thahir Jalaludin. Selama di Kairo keduanya mengkhatamkan kitab induk ilmu falak karya Syaikh Husain Zaid Al Mishri, Al Mathla’ fi Al Sa’id fi Hisabi al Kawakib ‘ala Rashdi al Jadid yang ditulis awal abad 19. Sepulang dari rihlah ilmiah ini, beliau mengembangkan kajian keilmuannya di Semarang. Kiai Dahlan Falak ini lahir di Pacitan, 1862, dan wafat di Semarang, 1911. Makamnya bersebelahan dengan mertuanya, KH. Saleh Darat.

Sedangkan Kiai Dahlan selanjutnya adalah KH. Dahlan Abdul Qahar, salah seorang ulama asal Kertosono Nganjuk yang ikut membidani kelahiran NU. Karib KH. Abdul Wahab Chasbullah ini bersama Syaikh Ghanaim al-Mishri ikut melakukan negosiasi ke Raja Arab Saudi, Ibnu Suud, mengenai kebebasan menjalankan madzhab dan beberapa tuntutan lain melalui wadah Komite Hijaz, beberapa saat sebelum NU berdiri.

Adapun Kiai Dahlan berikutnya juga berasal dari NU. Lahir di Pasuruan, 1909, dengan nama Muhamamd Dahlan, beliau tercatat sebagai penggerak (muharrik) Ansor NU di awal berdirinya bersama KH. Abdullah Ubaid. Di kemudian hari, aktivis yang dianugerahi suara merdu ini juga menjabat sebagai Ketua PBNU, lalu menjadi Menteri Agama (menggantikan KH. Saifuddin Zuhri) di awal Orde Baru. Kiprah yang paling menonjol adalah merintis Musaqabah Tilawatil Qur’an (MTQ), dan bersama KH. Ibrahim Hosen, Prof. Mukti Ali, KH. Zaini Miftah, dan KH. Ali Masyhar  merintis berdirinya Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an. Pengamal Dalail Khairat hingga akhir hayatnya ini dimakamkan di TMP Kalibata, pada 1 Februari 1977.

Kiai Dahlan yang paling terakhir adalah KH. Dahlan Salim Zarkasyi atau yang masyhur dengan sebutan Kiai Dahlan Qiraati. Beliau turut andil dalam pengembangan ilmu al-Qur'an di Indonesia dengan metodenya, Qiraati. Hamilul Qur'an yang lahir pada 1928 ini dikenal sebagai sosok yang mencintai anak-anak dan di sisi lain berusaha menanamkan kecintaan al-Qur'an kepada mereka. Hingga akhirnya dengan metode Qiraati, beliau ikut turut serta mengembangkan kajian keilmuan al-Qur'an dan membantu masyarakat awam dalam belajar membaca al-Qur'an.

Kiai Dahlan mungkin tidak pernah menyangka metode hasil karyanya akan bisa sepopuler seperti sekarang ini. Bermula dari pengajian di sebuah teras rumah di Jl. MT. Haryono, Kampung Kebonarum, Semarang, kini Qiraati telah dimanfaatkan dan dipelajari oleh puluhan ribu masyarakat di berbagai pelosok nusantara. Bahkan, saat ini Qiraati juga telah merambah hingga ke beberapa negeri jiran. Namun sayang, beliau tidak sempat ikut menyaksikan kemanfaatan dQiraati yang dulu beliau rintis, sebab KH. Dahlan Salim Zarkasyi telah wafat pada tanggal 20 Januari 2001 yang lalu.
***
Berdasarkan pemaparan di atas, dan mengingat pentingnya penelusuran data secara komprehensif agar tidak terjadi silangsengkarut sejarah ulama kita,  maka penyusunan Thabaqat Ulama Nusantara saya kira menjadi langkah paling tepat. KH. A. Musthofa Bisri pernah menyatakan apabila Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani, salah seorang muhaddits keturunan Indonesia yang bermukim di Makkah, pernah menyatakan cita-citanya menulis Thabaqat Ulama Indonesia. Tujuannya, kata Gus Mus mengutip pendapat Syaikh Yasin, agar kiprah ulama Indonesia bisa mendunia. Namun, sayangnya, hingga kini cita-cita Syaikh Yasin belum ada yang melanjutkan.

Wallahu A’lam Bisshawab.



ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam.

10.2.17

“Mewariskan Ingatan” Oleh: Rijal Mumazziq Z

 
“Mewariskan Ingatan”

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Saya suka nonton film perang, bersetting klasik maupun modern. Kolosal, epos, maupun biopic, semua saya suka. Ada banyak film yang telah saya tonton dan cover filmnya saya kumpulkan dalam album foto di FB ini. hahaha. Sebagian masih belum sempat saya share.

Karena kebanyakan nonton film perang, alih-alih saya terobsesi dengan senjata dan darah, lalu berpikir menjadi “pahlawan dalam angan-angan” seperti Don Quixote, saya malah takut berperang. Pecundang? Terserah mau bilang apa. Tapi manakala ditempa dengan kultur “sadistik” saat berlatih hingga menjadi warga PSHT beberapa tahun silam, saya memahami apabila kekerasan hanyalah salah satu jalan (keluar), dan perang adalah akumulasi dari kekerasan ini.

Apakah ada cara mengelola ekses perang menjadi sebuah perdamaian? Ada. Dalam liputan mengenai “Lasem: Tiongkok Kecil” beberapa waktu lalu di Metro TV, Mas Munawwir Aziz mengatakan apabila guyub rukunnya warga Tionghoa dengan penduduk lokal Lasem selama beberapa abad ini merupakan dampak dari proses “mewariskan ingatan” secara turun temurun. Ingatan kolektif mengenai kebersamaan warga Lasem yang dibantu laskar Tionghoa dalam peperangan melawan VOC, 1740-an, atau yang lazim disebut Geger Pecinan. Cerita kebersaman dua etnis berbeda agama dalam perlawanan terhadap kesewenang-wenangan ini secara turun temurun diwariskan dari generasi melalui folklore, cerita menjelang tidur, bahkan dalam acara haul seorang ulama Lasem.

Mewariskan ingatan adalah sebuah langkah kecil tapi berdampak besar. Apabila seserang merawat ingatan mengenai kebersamaan, optimisme, dan cinta kasih lalu diwariskan secara turun temurun, maka proses ini akan mengkristal dalam benak dan berlanjut pada tindakan seseorang. Demikian juga sebaliknya, apabila seseorang mengestafetkan kebencian kepada generasi setelahnya, niscaya kebencian ini akan terinstal mengiringi pertumbuhan psikologis orang tersebut. Saya kasih contoh, sebuah video bertema Perang Suriah diputar di hadapan anak-anak. Narator kemudian berkisah mengenai jalinan kisah tragis perang saudara tersebut. Tentu, dengan dramatisasi sedemikian rupa.

Narator pertama menjelaskan apabila Suriah hancur akibat ulah tiran bernama Bashar Assad yang membunuh rakyatnya sendiri dan mengakibatkan kerusakan di berbagai sudut negeri, Narator terus menerus menggemakan semangat ber”jihad” anak-anak diiringi dengan takbir dan tak lupa menyertakan kutukan terhadap Bashar yang hampir selalu mengiringi kalimat-kalimatnya yang bergemuruh. Slide dan video mengerikan yang konon diambil di Suriah terus dipertontonkan, meskipun pada akhirnya kita juga tahu apabila beberapa video maupun foto sadis seputar Suriah validitasnya meragukan (ada banyak potongan yang diambil di Irak, Palestina, bahkan Amerika Selatan!). Bagi narator, hoax atau tidak itu tidak penting. Ada yang lebih penting lagi: mengobarkan semangat “jihad” dan, pada akhirnya, seperti biasa, mengumpulkan donasi yang entah disalurkan ke korban atau (jatuh) ke teroris.

Narrator kedua berbeda. Dia mengajak anak-anak menonton video yang sama. Tak ada pekik takbir, tak ada dramatisasi, tak dijumpai pula kutukan kepada Bashar. Narrator hanya mengajak anak-anak merenungkan dampak destruktif akibat kerusakan yang terjadi akibat perang, ditambahkan dengan ajakan menjaga persatuan dan kesatuan, dan saling menyayangi sebagai saudara sebangsa dan setanah air. Tak ada injeksi kebencian, tak ada pula pewarisan kesumat, apalagi hoax.

Fara femirsa fenggemar fitsa hats, kedua narator ini sama-sama berproses mewariskan ingatan. Sama-sama menggunakan perang sebagai referensi. Satu dengan cara mewariskan ingatan kebencian, yang satu lagi mewariskan ingatan kebersamaan dan perdamaian. Anda suka yang mana? Terserah anda. Tapi yang pasti, pilihan anda menunjukkan watak dan segumpal hasrat yang mengendap dalam pikiran.

Inkubator

Jika pertempuran itu urusan prajurit, maka perang hanyalah wilayah para politisi. Demikian kata AM. Hendropriyono dalam “Operasi Sandi Yudha” (Kompas: 2014). Dalam sudut lain, aksi-aksi berlatar kebencian hanyalah urusan bigot, tapi inkubatornya ada di otak politisi, baik melalui corong propaganda partai maupun melalui agamawan. “Nabok nyilih tangan ini” (memukul meminjam tangan orang lain) ini yang sangat berbahaya, saya kira.

Di Myanmar, kaum Budhis ekstremis digodog terlebih dulu dan diagitasi oleh Ashin Wirathu, biksu garis keras, sebelum melakukan aksi mengerikan terhadap kaum muslim Rohingya di wilayah Rakhine. Junta militer menjadi beking aksi ini, dan Ma Ba Tha, sebuah organisasi garis keras kaum Budhis mendukungnya. Tak hanya itu, kongkalikong para jenderal di ladang perpolitikan dengan para biksu ultranasionalis mendukung adanya undang-undang yang dipandang diskriminatif terhadap kaum muslim dan kaum perempuan. Siapa yang diuntungkan? Para politisi yang sengaja menggunakan kebencian untuk meraih simpati publik. Meski NLD alias Partai Nasional untuk Demokrasi yang dipimpin Aung San Suukyi berhasil mengantarkan wakilnya di tampuk kekuasaan, 2015, namun mereka belum berdaya.

Bahkan, pengacara muslim Myanmar yang juga aktivis NLD, Ko Ni, 29 Januari 2017, ditembak mati saat tiba di Bandara Yangoon, sesaat setelah mendarat dari perjalananannya di Indonesia. Pembunuhnya? Anda bisa menebak siapa yang berada di balik aksi ini! Ko Ni adalah muslim yang gigih memperjuangkan hak-hak kaumnya sejak dia bergabung dalam NLD-nya Suu Kyi. Dia bahkan mengkrtik Suu Kyi yang berkomentar rasialis setelah diwawancarai jurnalis muslimah, Mishal Husein.

Di India, rasa chauvinistik kaum ultanasionalis Hindu dikelola dengan “baik” oleh para politisi Bharatia Jannata Party. Dengan menggunakan para pendeta garis keras dan organisasi kepemudaan, partai politik ini mengorganisir massa fanatik dan meletupkan isu sensitif mengenai Masjid Babri, bahwa masjid ini didirikan di atas reruntuhan Kuil Rama (ayo, bandingkan dengan isu yang diusung oleh Partai Likud, kaum ultranasionalis Yahudi di Israel apabila Masjidil Aqsha berdiri di atas reruntuhan Kuil Sulaiman!).

Masjid Babri diserang, dibakar dan ratusan kaum muslimah, kabarnya, mengelamani kekerasan seksual. Ketika partai politik ini memenangkan calonnya sebagai perdana menteri, Atal Bihari Vajpayee, beberapa tahun silam, aksi-aksi tidak simpatik pendukung partai ini terhadap pemeluk agama lain, muslim dan nasrani, meningkat. Di era Narendra Modi, PM saat ini, India lumayan stabil dalam aspek politik antar pemeluk agama, meskipun dia adalah nasionalis Hindu dan merupakan pentolan Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), paramiliter ultakonservatif Hindu yang banyak terlibat aksi intoleransi. Sampai saat ini, beberapa politisi Bharatia Jannata Party ditengarai berada di balik aksi intoleransi terhadap peristiwa Masjid Babri 1992, maupun “Peristiwa Gujarat 2002”, yaitu bentrokan kaum muslim dan Hindu yang menyebabkan 790 muslim dan 254 Hindu tewas, serta 223 orang dinyatakan hilang, puluhan  kuil dan masjid rusak, dan luka traumatik yang tidak sembuh hingga kini. Kaum Nasrani juga mengalami kekerasan tatkala beberapa kaum ultranasionalis Hindu ini menyerbu gereja, melakukan kekerasan fisik terhadap para pendeta dan suster, serta melakukan perusakan berat terhadap kolase dan pekuburan Kristen, September 2008, di Mangalore.

Tentu, politisi yang berlindung di balik agama dan memelihara watak kekerasan tak hanya di dalam agama Budha dan Hindu saja. Di Islam banyak kita temukan, di Nasrani juga sama. Kalau kita diskusikan berdasarkan kasus per-pemeluk agama, bisa berbantal-bantal tebalnya. Intinya, watak rakus dan hasrat sebagai “penakluk” dengan itu dimiliki setiap manusia yang beragama maupun tidak, hanya saja politisilah yang paling cerdas (licik?) menunggangi isu-isu seperti ini, apalagi ketika kongkalikong dengan pengusaha dan agamawan. Klop sudah! Inkubator kebencian kadangkala lahir dari kerjasama ketiga pihak ini. korbannya? Ya siapa lagi kalau rakyat kere yang awam. Banyak kasus membuktikannya. Peristiwa konflik Maluku yang telah berakhir adalah studi kasus yang seharusnya membuat kita banyak merenung, bahwa dalam setiap darah rakyat yang tertumpah ada beberapa pihak yang bersorak dengan kepentingan masing-masing.

Charger Sosial Spiritual

Fara femirsa fenggemar fitsa hats, proses “pewarisan ingatan” harus senantiasa dilakukan. Kalau pewarisnya punya watak jagoan, dia bakal mewariskan kebencian dan konflik. Apabila pewarisnya punya watak muslih alias rekonsiliator dan penyuka harmoni, dia akan mengelola ingatan pahit mengenai perang dan konflik bukan dengan cara menginjeksikan permusuhan, melainkan dengan jabat tangan dan kebersamaan.

Mengapa saya menuliskan pembahasan ini. Sebab, semakin banyak masjid yang dipakai melakukan agitasi dan provokasi, baik melalui khutbah jumat maupun pengajian. Saya memang tidak setuju dengan wacana sertifikasi khatib dan mubaligh yang masih lontaran isu itu, tapi lebih tidak sepakat lagi dengan beberapa orang yang secara kurangajar menjadikan masjid sebagai mesin pemanas politik. Bagi saya, masjid adalah tempat sakral tempat beribadah dan berlabuhnya hamba yang dengan rendah hati melantunkan dzikir dengan ritmis dan bersimpuh sebagai pendosa, serta paling banter dipakai sebagai kegiatan kemasyarakatan yang merajut harmoni umat.

Sedangkan khutbah Jumat, bagi saya, seharusnya berfungsi sebagai charger sosial-spiritual yang membangkitkan kembali fitrah manusiawi sebagai manusia yang bermanfaat dan hamba-Nya yang taat, setelah selama Sabtu hingga Kamis hanya berkutat pada persoalan duniawi saja. Dengan demikian, paling banter jamaah Jumat hanya tertidur mendengarkan uraian khatib (sebagaimana yang saya alami hahaha), bukan malah misuh-misuh lalu berganti masjid sebagaimana dialami sahabat saya menjelang Pilpres 2014 saat shalat di sebuah masjid besar di Surabaya, “Khatib Janc*k, aku itu datang shalat Jumat pengen  hati adem karena sudah berhari-hari mikir duniawi saja, eh malah khutbah isinya Jokowi musuh Islam. Ya wis, aku langsung pindah masjid.”

Wallahu A’lam Bisshawab

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam.

9.2.17

"AKU DAN FILM INDIA MELAWAN DUNIA"

 
Sore hari ditemani secangkir arabika dan buku unik nan keren.
-----
Film India selalu terlihat ingar-bingar. Musik yang bertalu-talu, lagu yang mendayu-dayu, barisan penari, kerumunan manusia, dan serombongan besar orang di belakang layar dan cerita. Semua tanpa serbakolosal.

Namun, menyukai film India adalah hal yang sama sekali berbeda. Lebih-lebih jika Anda tinggal di sebuah negeri semacam Indonesia yang bangsa penghuninya menderita rendah diri akut sekaligus snobisme dungu. Di tengah massa yang memuja secara membabi buta segala yang dibuat oleh Hollywood dan histeris berat terhadap semua hal yang berkait dengan rambut kejur dan kuning langsat, film India tiba-tiba jadi semacam gambar durjana. Seperti film porno, film India disukai sekaligus tidak disukai, dikonsumsi tapi dianggap terlalu kotor untuk dibincangkan, ditonton sendirian kemudian dihinakan di depan banyak orang.


Menonton film India, membahasnya, apalagi menuliskannya adalah semacam kerelaan menjadi–meminjam judul film garapan Mehmood tahun 1996–dushman duniya ka; sang musuh semesta.

(pengantar buku "AKU DAN FILM INDIA MELAWAN DUNIA" karya Mas Mahfud Ikhwan)

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam.

8.2.17

Jejak Arab Hadrami dalam Persepakbolaan Indonesia

 
Jejak Arab Hadrami dalam Persepakbolaan Indonesia
----
Oleh: Rijal Mumazziq Z

Pada 25 Maret 2015, Abdul Hakim Munabari, warga kelurahan Kasin, Malang, disergap Densus 88. Dia diduga terlibat jaringan ISIS. Di masa kanak-kanak hingga remaja, Hakim aktif bermain sepakbola di klub al-Badar, perkumpulan sepak bola yang didirikan warga keturunan Arab di kota Malang, meskipun sebagaimana klub Asy-Syabab di Surabaya, anggota tim tidak melulu etnis Arab.

Terlepas dari status Hakim sebagai tersangka dalam jaringan terorisme, menarik apabila melihat keterlibatan etnis Arab--seperti Hakim--dalam sepakbola, sebagaimana rasa penasaran menelisik kaum Tionghoa, dalam persepakbolaan tanah air.

Di zaman kolonial, kaum Arab, Tionghoa, dan India menempati kasta kedua setelah kaum Eropa. Mereka ditempatkan dalam perkampungan khusus sesuai etnis, yaitu Kampung Arab, Pecinan dan Pekojan (berasal dari kata Khauja atau maulana alias tuan). Kampung mereka dipisahkan dan diberi jarak agar tidak ada pembauran antara pendatang dengan kaum pribumi. Untuk pengawasan dan fungsi kontrol sosial, di setiap kampung ada pemimpinnya. Mereka diberi pangkat militer tituler oleh pemerintah kolonial, baik Kapiten maupun Liutnenan. Di Surabaya, jejaknya masih ada dalam tatakota klasik, yaitu Kampung Arab di Kawasan Ampel dan Pecinan Kembang Jepun (Kya-Kya). Keduanya berjejeran. Sedangkan Kalimas dengan Jembatan Merahnya yang legendaris itu memisahkan kampung etnis ini dengan hunian kaum Belanda dan struktur administratif kota penyangganya.

Primordialisme dan Etnisitas di Lapangan Hijau

Dinamika kota Surabaya era kolonial dan mulai populernya olahraga sepakbola membuat unsur primordialisme tumpah di lapangan hijau. Kaum bule Belanda membentuk klub SVB alias Sorabaiasche Voebal Bond (SVB), bonden (klub) ini berdiri pada tahun 1910 dan pemainnya adalah orang-orang Belanda yang ada di Surabaya.

Tak mau kalah, etnis Tionghoa yang sudah mendirikan klub olahraga Gymnastiek en Sportvereeniging Tionghoa Surabaya pada 1908, akhirnya mengembangkan cabang sepakbola tahun 1919, lalu ganti nama menjadi Naga Kuning pada 1959, lantas menjadi Suryanaga pada 1966 hingga kini (Buku "Tionghoa Surabaya dalam Sepakbola" karya R.N Bayu Aji alias R.n. Buffon Aji, terbitan Ombak Yogyakarta, 2010, sangat bagus mengupas sejarah eksistensi kaum Tionghoa ini dalam persepakbolaan Surabaya dan nasional).

"Zaman Bergerak" demikian Takashi Siraishi menyebut era 1920-an hingga menjelang 1940-an ini, di mana kaum pribumi mulai sadar diri dan menghimpun diri dalam perkumpulan, apapun jenisnya. Termasuk di Surabaya saat itu.

Melihat kaum bule Belanda dan para Tionghoa memiliki wadah bal-balan, kaum pribumi tak mau kalah. Duet M. Pamoedji dan Paijo akhirnya menggerakkan pecinta sepakbola untuk mendirikan Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB) pada 18 Juni 1927. Embrio Persebaya ini kemudian berperan dalam menjalankan misi nasionalisme di atas lapangan hijau yang mulai digagas oleh Ir. Soeratin Sosrosoegondo bersama beberapa klub lokal di Solo, Magelang, Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.

Lantas, jika bule Londho, Tionghoa dan Pribumi sudah punya klub sepakbola, bagaimana dengan kalangan Arab? Meski terhitung telat, namun mereka mulai membentuk klub kecil-kecilan bernama An-Nashr yang berarti kemenangan. Klub ini dirintis di kawasan Kampung Arab Ampel di awal era 1930-an.

Bersama Naga Kuning yang berbasis kaum Tionghoa, pada tahun 1935,  An-Nashr telah menyumbangkan talenta-talentanya untuk Persebaya yang kala itu masih bernama SVB. Sebut saja Umar Bawedon, Abubakar Basofi, dan Ali Basofi.

Klub yang didirikan oleh Yislam Martak, Mohammad Balahmar, Salim Barmen, dan Muhammad bin Said Martak ini kemudian bermetamorfosa menjadi klub Asy-Syabaab (Para Pemuda) tahun 1940-an, di saat olahraga bal-balan ini sama populernya dengan tari zafin. Perubahan nama ini dipelopori oleh kwartet Ali Bahalwan, Zein bin Agil, Mochtar dan Ali Salim.

Jika klub Suryanaga sempat vakum usai peristiwa 1965, Asy-Syabaab melaju terus bagai onta balap. Yang keren, 13 Maret 1989, Assyabaab membuat klub profesional bernama Assyabaab Galatama. Meski mempunyai klub pro, Assyabaab amatir tetap berjalan dan mengikuti kompetisi internal Persebaya (sampai sekarang dan lima kali menjadi juara). Yang fenomenal, Assyabaab mengikuti Divisi I Galatama tahun 1990 dan mengukir prestasi dengan menjadi juara. Tak hanya itu, era awal Liga Indonesia 1991-an, klub ini secara profesional dikelola oleh Salim Grup dan berubah nama menjadi Asy-Syabaab Salim Grup Surabaya (ASGS). Jadi, siapa bilang etnis Arab bermusuhan sama Tionghoa. Hehehe. Merger ini adalah bukti kerukuna keduanya meski Salim Grup akhirnya lepas tangan karena krisis ekonomi 1997.

Dari Rusdi Bahalwan hingga Irfan Bachdim

Membicarakan jejak kaum Arab Hadrami (Arab yang berasal dari Yaman) dalam sepakbola Indonesia, tak lengkap tanpa membincang sosok Rusdi Bahalwan. Tampan, kharismatik dan berbakat sebagai pemimpin lapangan hijau, baik sebagai pemain maupun pelatih Persebaya. Rusdi mengenyangkan pengalaman sebagai pemain Persebaya, 1970-1979. Di klub ini dia juga dikenang karena menangani The Dream Team Persebaya merebut juara Liga Indonesia III untuk kali pertama, 1997.

Sezaman dengan Rusdi, ada pula Arab Jakarta yang mengabdi untuk Persija. Punya spesialisasi sebagai bek kanan, Sutan Harhara, pemain keturunan Arab ini malah lebih terampil jika digeser di berbagai posisi. Kadang bek kanan, libero ala Beckenbauer, kadang juga bek kiri. Punya kecepatan yang mumpuni, Sutan juga  biasa membantu serangan, lantas turun ke bawah lagi mengamankan area yang telah diamanahkan pelatih kepadanya. Dia adalah legenda Persija karena awet di The Jak selama hampir satu dasawarsa. Kariernya berlanjut sebagai pelatih. Beberapa klub menggunakan jasanya, termasuk Persela Lamongan beberapa tahun lalu.

Jika Rusdi Bahalwan mengabdikan diri di Persebaya, dan Sutan Harhara menggerakkan Persija, lain pula dengan Mohammad Zein Al-Haddad. Meski lahir dari rahim Asy-Syabaab sebagaimana Rusdi Bahalwan, tapi nama terakhir ini memilih Niac Mitra sebagai turbin penggerak kariernya di era Galatama. Bahkan bersama klub yang sekarang bernama Mitra Kukar ini, Mamak, sapaan akrab Zein Al-Haddad, menjadi pencetak gol terbanyak di musim kompetisi 1987-1988.

Pensiun sebagai pemain, Mamak menjadi pelatih. Klub yang dia tangani di awal kariernya adalah Asy-Syabaab, cinta pertamanya. Lalu dia berkeliling menangani berbagai klub. Prestasi apiknya, dia berhasil mengerek Deltras Sidoarjo sebagai juara III Copa Dji Sam Soe, 2009, meskipun materi pemain The Lobster pas pasan dan pengelolaan dananya compang camping. Mamak juga diganjar gelar sebagai pelatih terbaik. Kemudian kariernya berlajut di timnas dengan mendampingi Aji Santoso sebagai ajudannya dalam Sea Games 2015. Terakhir kali pelatih berambut kriwil ini menangani Persija dalam Torabika Soccer 2016.

Dua nama di atas adalah bagian dari beberapa nama beken keturunan Arab di pentas sepakbola Indonesia sebelum era Salim Alaydrus (eks Persib Bandung), Muhammad Rifky Alhabsy (Persiba dan Sriwijaya FC), Mahdi Fahri Albaar (eks U-19), hingga Irfan Bachdim. Nama terakhir bahkan teraliri darah pesepakbola karena Noval Bachdim, ayahnya, merupakan mantan pesepak bola dari klub PS Fajar Lawang (anggota kompetisi internal Persekam Malang) pada era 80-an. Kakek Irfan, Ali Bachdim, juga veteran pemain Persema Malang dan PSAD Jakarta.

Memperkaya Potensi Indonesia

Jumlah kaum keturunan Arab di Indonesia sangat banyak. Sejak gelombang migrasi dari Yaman yang memuncak di abad 17 hingga 18, mereka turut andil dalam memperkaya "citarasa Indonesia" sebagaimana peranan kaum keturunan Tionghoa dalam ber-Indonesia. Mereka sudah bertanah air, berbahasa dan berbangsa Indonesia.

Hingga kini GOLKAR alias Golongan Keturunan Arab (hehehe) banyak berperan di berbagai bidang: agamawan, presenter, penyanyi pop-rock-dangdut, pengusaha, pesinetron, atlet dan sebagainya. Sayang, setelah era keemasan Rusdi Bahalwan, Sutan Harhara dan Mohammad Zein Alhaddad, nyaris tak kita jumpai kalangan Arab Hadrami, baik kaum Saadat Alawiyyin, Masyayikh maupun Qabail, yang tertarik menjadi legenda sepakbola seperti para pendahulunya.



WAllahu A'lam bisshawab
=====
Keterangan foto: Pertandingan Persahabatan Persebaya VS Ajax Amsterdam di Stadion Gelora 10 Nopember Tambaksari, Surabaya Tahun 1974. Rusdi Bahalwan (jongkok paling kiri)

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam.

DESKRIPSI SINGKAT "AT TA'LIQAT AL WADLIHAT" & TAHQIQ KITAB "AL ALLAMAH MUHAMMAD HASYIM ASY'ARI"

 
DESKRIPSI SINGKAT "AT TA'LIQAT AL WADLIHAT" & TAHQIQ KITAB "AL ALLAMAH MUHAMMAD HASYIM ASY'ARI"

1. Kitab At- Ta'liqat al-W
adhihat adalah catatan-catatan kaki (Hasyiyah)  yang ditulis oleh Ust Asep Abdul Qodir Jaelani untuk kitab "At-Tanbihat al Wajibat li Man Yashna'u al-Maulid bi al-Munkarat" karangan KH. Hasyim Asy'ari Jombang, dengan tujuan khidmah atas kitab tersebut, khidmah ini mencakup : takhrij hadits, tafsir mufradat, tahqiq nushush, nisbat al aqwal, biografi singkat tokoh, syarah ibarat, dan lain-lain yang dibutuhkan dalam mempelajari kitab tersebut, dengan merujuk pada kitab-kitab ulama ahlussunnah wal jama'ah, seperti : kitab-kitab hadits yang enam dan syarah-syarahnya, kitab-kitab fiqih empat madzhab dan syarah-syarahnya, kitab-kitab tafsir qur'an, kitab-kitab lughah (kamus-kamus) mu'tamad, kitab-kitab biografi ulama (tarojim), kitab-kitab sirah nabawiyyah, kitab-kitab yang khusus membahas masalah maulid, dan lain-lain.

2. Tahqiq kitab "Al allamah Muhammad Hasyim Asy'ari Wadhi' labinat istiqlal Indonesia" karangan Sayyid As'ad Shahab adalah penelitian teks yang ditulis oleh Ust Asep Abdul Qodir Jaelani atas kitab tersebut, dengan tujuan khidmah yang mencakup : tahqiq nushush, tafsir mufradat gharib, catatan biografi tokoh, beserta harakat kalimat, dan lain-lain yang dibutuhkan dalam memahami kitab yang berbahasa arab ini, agar mudah dikaji.

Catatan : kitab ini diterjemahkan oleh KH Ahmad Mustofa Bisri Rembang ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1414 H dengan judul "Hadlratussyaikh Muhammad Hasyim Asy'ari perintis kemerdekaan Indonesia". Dan diterjemahkan juga oleh KH Shodiq Hamzah Utsman Semarang pada tahun 1433 H ke dalam bahasa jawa dengan judul "An nahru al jari". Kedua terjemahan tersebut telah dicetak, dan alhamdu lillah al faqir sudah melihatnya dan membacanya.
Tebal : 250 halaman
Penerbit : Turats Ulama Nusantara
Harga : 50 ribu

3. DVD 250 PDF KITAB ULAMA NUSANTARA
Para ulama Nusantara sangat produktif dalam menyusun kitab berbagai tema. Mulai dari Syaikh Nawawi al-Bantani yang disebut-sebut sebagai ‘Imam Nawawi Shoghir’, Syaikh Mahfudz Tremas, Syaikh Hasyim Asy'ari, Syaikh Sholeh Darat, Syaikh Ihsan Jampes, Syaikh Yasin Al-Fadani dan banyak lagi tokoh-tokoh ulama kita yang produktif berkarya dalam bentuk tulisan.

Sejumlah 200 kitab (file pdf) bisa Anda dapatkan dalam sekeping DVD ini. Di antara judul-judul yang ada dalam DVD ini;
1. Al Hasyiyah at-Tarmasi karya Syaikh Mahfuzh Termas
2. Tafsir al-Munir karya Syaikh Nawawi al-Bantani
3. Sirojuth Tholibin karya Syaikh Ihsan al-Jampesi Kediri
4. Al-Iqdul Fariq karya Syaikh Yasin al-Fadani
5. Irsyadul Anam fi Tarjamatil Arkanil Islam karya Syaikh Sayyid Usman al-Batawi
6. Fathul Majid karya Syaikh Ahmad Dahlan al-Pacitani
7. As-Silah fi Bayani Nikah karya Syaikh Kholil al-Bankalani
8. Kenalilah Akidahmu karya Habib Mundzir al-Musawa
9. Islam fi Indonesia karya Syaikh Abdulloh bin Nuh Cianjur
10. Ijazah Doa Jalbu al-Rizqi karya Abdullah Umar Semarang
11. Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan kitab Adabul 'Alim wal Mutaallim karya Syaikh Hasyim Asyari Jombang.
Dan 240 kitab Nusantara lainnya.
Penerbit : Turats Ulama Nusantara
Harga : 70 ribu

4. KITAB AL-AQWAL AL-MULHAQAT ALA MUKHTASHAR AL-WARAQAT (USHUL FIQH)

Kitab ini merupakan syarah karya cucu syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Abdul Haqq bin Abdul Hannan al-Bantani, atas kitab Mukhtashar al-Waraqat (sebuah ringkasan yang ditulis Syaikh Abul Hasan al-Bakri dari kitab al-Waraqat karya Imam al-Haramain dalam fan Ushul al-Fiqh). Kitab ini memudahkan kita dalam memahami ulasan yang ada di kitab Waraqat.
Tebal : 111 halaman
Penerbit : Turats Ulama Nusantara
Harga : 35 ribu

Berminat? Hubungi 085-645-311-110
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam.

7.2.17

Para Mursyid di Lapangan Hijau

 
Para Mursyid di Lapangan Hijau

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Karena tubuhnya tak berisi, ia bisa melesat bagai kijang, dan meliuk-liuk lincah menghindari kepungan lawan. Semifinal Piala FA, 14 April 1999, yang mempertemukan Manchester United versus Arsenal membuktikannya. Hingga kini, gol yang dicetak Ryan Giggs, si kijang Wales itu, masih dikenang sebagai salah satu gol terbaik. Berlari dari tengah, dia merajang lapangan dengan lincah. 4 bek Arsenal pontang panting berusaha menghadangnya, namun gagal. Dengan kaos yang tampak kedodoran dia meliuk-liuk melewati hadangan pemain The Gunners, hingga pada puncaknya dia melesatkan bola yang bersarang di gawang David Seaman. Dia berlari menuju kawan-kawannya sembari melepas kaosnya dan berteriak girang. Gol pada menit ke- 104 itu pada akhirnya mengantar United ke final dan merengkuh juara.

Giggs, salah satu pemain terbesar Manchester United telah dikenang sebagai salah satu legenda yang telah membela Setan Merah lebih dari 1000 kali. Sudah 3 dekade dia berkostum merah. Loyalitas yang tak diragukan bersama United membuatnya mampu merengkuh berbagai tropi bersama Sir Alex Ferguson. Kekurangannya satu, dia belum bisa berprestasi bersama Wales. Itu saja. Sisanya hanyalah kisah kejayaan, plus sedikit skandal.

Orang boleh saja melihat Giggs dengan segala kebesarannya. Tapi pria Wales ini tak mungkin menjadi legenda tanpa ada sosok Dennis Schofield, penjual susu keliling. Silahkan selidik foto masa muda Giggs bersama Schofield, niscaya anda akan menemukan seorang remaja yang berdiri takzim dengan tangan ngapurancang di samping tukang susu itu. Giggs begitu mengormatinya, sebab tanpa daya penciuman Schofield, niscaya bakat besar Giggs tak bakal terendus. Jika bukan karena insting Schofield, mungkin Giggs bakal menjadi buruh pabrik di industri Manchester, atau penjaga bar di London, mungkin juga pengantar susu di Oldham. Schofield, yang juga talent scout di Manchester City, sudah sejak awal menasehati manajemen City agar memagari Giggs dengan kontrak pemain remaja, tapi tak digubris. Dan, tepat di usia 14, justru Alex Ferguson, manajer Manchester United, musuh bebuyutan City, yang mendatangi Giggs di rumah kontrakannya dan menawarkan kontrak. Lalu, sejarah baru seorang legenda dimulai…….

Dari Talent Scout hingga Global Scouting System

Talent Scout adalah istilah modern untuk menyebut para pengendus dan pemburu bakat hebat sepakbola. Ada yang professional, ada yang sampingan, ada juga yang amatir. Mereka berkeliling, di pelosok-pelosok negeri, untuk mencari calon bintang di masa depan. Mereka bagai pemburu harta karun yang berpencar dengan lokasi berbeda untuk mendapatkan hasil maksimal. Namanya juga pemandu bakat, mereka butuh mengintai calon bintang ini berkali-kali, selama beberapa minggu, bahkan bulan, untuk memastikan apabila pemain incarannya benar-benar punya skill yang oke. Biar target tidak lepas, mereka juga melakukan pedekate secara pribadi, baik dengan pemain maupun dengan keluarganya. Di Eropa, ketelatenan seorang pemandu bakat juga ditentukan sejauh mana dia bisa berhubungan baik dengan klub yang menunggu pasokan bibit-bibit unggulan. Sevilla, klub yang merajai kasta kedua Eropa dalam tiga tahun terakhir, bahkan disebut memiliki 500 pengendus bakat yang menjelajah di Benua Biru dan Afrika. Di Belanda, Ajax sudah melakukannya tiga dasawarsa silam sehingga dikenal sebagai pabrik penghasil pemain muda dengan kualitas di atas rata-rata.

Namun, saya kira yang terkonsep matang ada di Inggris. Arsenal mempelopori penggunaan Global Scouting System, konsep temuan filsuf lapangan hijau, Arsene Wenger, untuk memantau perkembangan talenta muda di seluruh dunia. Mereka menyebar pemandu bakat di negara-negara “dunia ketiga”. Dengan konsep ini, Wenger ikut memutar ekonomi makro di Arsenal. Dia “kulak” pemain berbakat yang masih “undervalue” dari berbagai negara “dunia ketiga” dalam sepakbola, kemudian digodog di akademi Arsenal, dipoles, lalu dijual. Bagaimana dengan di Indonesia? Dari sekian banyak, yang paling berkesan mungkin cara Indra Sjafri yang menggunakan pola scouting tatkala berkeliling mencari bibit-bibit terbaik di sekujur Indonesia untuk timnas U-19.

Karena pendekatannya yang manusiawi, maka hubungan antara penemu bakat dengan pemilik talenta terasa lebih mendekati hubungan antara anak-ayah, atau murid-guru. Tak perlu jauh-jauh, relasi Indra Sjafri dengan anak asuhnya di timnas U-19 secara kasat mata membuktikannya. Bahkan, generasi emas angkatan Evan Dimas ini senantiasa dengan takzim mencium tangan Indra saat berjumpa. Beberapa di antaranya alumni U-19 ini bahkan menelepon coach Indra untuk meminta pertimbangan memilih klub yang tepat. Mereka demikian hormat pada orang yang telah menemukan talentanya dan memberi harapan baginya untuk berkembang.

Relasi demikian dekat ini saya rasa bukan hanya di Indonesia saja. Sejak bocah ingusan hingga menjadi legenda, Ryan Giggs demikian takzim pada Schofield si pengecer susu. Di lain pihak, ada juga Cristiano Ronaldo yang menghormati Aurelio Pareira, pencari bakat di Sporting Lisbon yang mengendus talenta istimewanya. Sedangkan Robinho dan Neymar sudah terlanjur menganggap Jose Ely de Miranda alias Zito, penemu bakat keduanya sebagai ayah angkatnya. Andaikata Zito, penggawa yang mengantarkan Tim Selecao merengkuh dua gelar Piala Dunia 1958 dan 1962, tidak mengerek kemampuan Robinho dan Neymar, mungkin keduanya bakal menjadi orang biasa di Favela Sao Paolo dan Sao Vicente.

Ada banyak orang yang kemampuan khusus seperti Schofield, Pareira, dan Zito. Mereka bisa menemukan permata di kubangan lumpur dan menggosoknya hingga mengkilap. Mereka bisa melihat calon bintang dalam kondisi apapun, dalam perang sekalipun. Bakat Luka Modric ditemukan dalam kecamuk Perang Balkan oleh Tomislav Basic. Modric, bocah kerempeng dari keluarga fakir itu nyaris tak pernah diperhatikan orang-orang. Ayahnya serdadu Kroasia yang sibuk dengan negaranya, sedangkan ibunya hanya perempuan biasa. Justru di tengah ketidakpedulian itu, Basic mencium keistimewaan gelandang Modric. Dia menggaet bocah kurus itu untuk bergabung dengan tim muda Zadar. Basic menemukan, memoles, memberi instruksi dan menginjeksikan motivasi hingga Modric mulai menemukan klub yang tepat beberapa tahun kemudian, Dinamo Zagreb. Saat bermain di Tottenham Hotspur maupun di Real Madrid, Modric senantiasa dengan rendah hati mengunjungi gurunya. Bahkan,  ketika penemu bakatnya itu wafat, 23 Februari 2014, Modric dengan tergesa-gesa pulang ke Kroasia untuk menghadiri pemakaman pria yang sangat dia hormati itu.

Pathfinder

Talent Scout sudah menjadi matarantai dalam pramida persepabolaan Eropa. Beberapa dari mereka bahkan sudah melanglangbuana ke benua Afrika dan menjelajahi sekujur benua itu hingga ke pelosok-pelosok. Di masing-masing daerah, mereka sudah punya mata-mata yang tinggal merekam dan mempromosikan kepada si bos yang bermata biru. Bagaikan ksatria Brom yang melatih Eragon menunggang Saphira si naga betina dalam novel karya Christopher Paolini, para pelancong dari benua biru ini kemudian juga mengasah insting para pemain kulit hitam ini tatacara bermain bola yang profesional dan aturan main resmi.

Jika para talent scout ini bilang kepada para remaja ini, “Show me your talent!”, maka di kemudian hari ada agen yang menaunginya yang akan berkata dengan percaya diri ke setiap klub yang berminat kepada asuhannya, “Show me the money!” sebagaimana ucapan masyhur Jerry Maguire dalam filmnya. Mungkin di sini hubungan simbiosis antara pengasah bakat dengan pemilik talenta berakhir, namun relasi emosional masih bisa terjaga, sebab merekalah yang disebut pathfinder, alias pembuka jalan. Mereka menemukan bakat istimewa di saat orang lain tak mampu menelisiknya, sebagaimana Glen Foy yang melihat talenta tukang kebun bernama Santiago Munez dalam film Goal. Atau, dalam kisah nyata, dapat kita jumpai saat pelatih tinju Cus D’amato menemukan potensi menakjubkan dari berandal cilik bernama Mike Tyson. D’amato memang bukan jawara dunia, namun justru di tangannya lahir petinju paling brutal setelah era Muhammad Ali yang flamboyan. Inilah fungsi pathfinder sebenarnya, yaitu pembuka jalan, perintis kejayaan, dan yang lebih penting “pengenalan diri”. Dalam konsep edukatif, mereka adalah murabbi, sang pendidik; dalam konsep yang religius, mereka adalah pengarah alias mursyid.

Jika Musa menemukan ke”diri”annya saat mendampingi Khidir, Jalaluddin Rumi menemukan potensi ruhaniahnya setelah mendapatkan bimbingan Syamsuddin Tabrizi, Brandal Lokajaya menjadi Sunan Kalijaga dalam naungan ruhani Sunan Bonang, Jaka Samudera merintis jenjang spiritual hingga menjadi Sunan Giri berkat didikan Raden Rahmatullah Sunan Ampel, maupun Sukarno yang menemukan identitas hakikinya sebagai penggerak di bawah asuhan Tjokroaminoto, maka demikian pula masing-masing pesepakbola di atas. Mereka beruntung karena bertemu dengan pemandu bakat, pathfinder, mursyid, murabbi--atau apapun istilahnya-- yang tepat dan benar-benar membuka setapak jalan menuju kesuksesan masing-masing.

Wallahu A’lam Bisshawab

Cc: Sirajudin Hasbi Yamadipati Seno Chico Habib Mendes Mas Nuzulul

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam.

5.2.17

SOSOK KH MA'RUF AMIN

 
SOSOK KH MA'RUF AMIN

Langkah kakinya pendek-pendek. Tatapan matanya sering ke arah depan. Jarang menunduk dan menengadah. Selalu tampak tersenyum. Egaliter dan dialogis. Tak menonjolkan diri sebagai tokoh penting di organisasi massa Islam terbesar negeri ini. Itulah KH Ma'ruf Amin.
Kiai Ma'ruf adalah Rais Am PBNU periode 2015-2020 sekaligus Ketua Umum MUI periode 2015-2020. Dua posisi puncak yang dijabat secara sekaligus ini jarang dimiliki banyak orang. Ulama yang mendapatkan posisi yang sama sebelum Kiai Ma'ruf adalah KH MA Sahal Mahfudh, rahimahu Allah.
Namun, dalam konteks NU, tak seperti para rais am PBNU sebelum-sebelumnya yang semuanya tinggal di daerah, Kiai Ma'ruf tinggal di jantung ibu kota negara, Jakarta. Karena itu, ia mudah diakses oleh media. Ia bisa diwawancara kapan saja. Terlebih beliau ngantor hampir tiap hari; Senin-Selasa di Kantor MUI, Rabu-Kamis di kantor PBNU.
Penting diketahui, Kiai Ma'ruf ini bukan tipe kiai yang suka berdiri di belakang sebagai penjaga gawang. Jika diperlukan, beliau tak ragu maju ke depan, memimpin "serangan". Ini karena beliau mengerti arah mata angin. Hampir separuh usianya memang dihabiskan di dunia politik. Pernah menjadi anggota lembaga legislatif, dari tingkat bawah hingga pusat.
Aktivitasnya di ranah politik praktis ini yang menyebabkan sebagian orang lupa bahwa Kiai Ma’ruf adalah seorang ahli fikih yang terampil. Para pelajar Islam belakangan tampaknya jarang mendengar noktah-noktah pemikiran keislamannya yang brilian. Padahal, hemat saya, jika mau ditelusuri jejak akademiknya, Kiai Ma'ruf ini memiliki peran cukup signifikan dalam meletakkan fondasi pembaharuan pemikiran Islam terutama dalam NU.
Dulu ketika NU diserang sebagai organisasi tempat berhimpunnya para muqallid, Kiai Ma'ruf bersama para koleganya seperti Kiai Sahal, Gus Dur, Gus Mus, Kiai Maimoen Zubair, Kiai Imron Hamzah, Kiai Wahid Zaini, ... membuat sejumlah terobosan penting. Salah satunya adalah dibukanya pintu istinbath dan ilhaq dalam tubuh NU. Ini sudah dikukuhkan dalam keputusan Munas NU di Lampung, 21-25 Januari 1992.
Saat itu resistensi dari sejumlah kiai bermunculan. Menurut para kiai yang kontra, kerja istinbath dan ilhaq itu adalah kerja akademik para mujtahid seperti para imam madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad ibn Hanbal) atau sekurangnya para ulama madzhab setingkat Imam Nawawi dan Imam Rofi'i. Dan menurut mereka, di NU hingga sekarang tak ada kiai yang memenuhi kualifikasi sebagai mujtahid. Karena itu, tawaran istinbath dan ilhaq itu tak relevan bagi NU.
Penolakan itu terus menggema, dari dulu bahkan hingga sekarang. Tapi tak ada langkah mundur dari Kiai Ma'ruf dkk. Sekali layar terkembang, pantang surut ke tepian. Hingga pidatonya dalam harlah NU ke 91 kemarin, Kiai Ma'ruf masih menegaskan posisi akademik yang sama, yaitu penampikannya pada tekstualisme dan kejumudan dalam berfikir.
Mengutip Imam al-Qarafi, Kiai Ma'ruf menegaskan bahwa stagnan pada bunyi-harafiah teks Islam tidak memadai untuk menjawab persoalan-persoalan keumatan dan kebangsaan hari ini. Al-Qarafi berkata, “al-jumud 'alal manqulat dhalalun fi al din". Lebih bermasalah lagi, demikian Kiai Ma’ruf, adalah tekstualisme dalam memahami teks-teks keagamaan seperti dalam Kitab Kuning.
Sejak awal 90-an hingga sekarang, Kiai Ma’ruf istiqomah berkampanye tentang pentingnya memahami kitab kuning secara kontekstual, yaitu usaha untuk memahami teks kitab kuning lengkap dengan memahami konteks ketika teks itu disusun oleh pengarangnya.
Tak hanya itu. Seperti umumnya para pembaharu Islam lain, Kiai Ma'ruf pun mengusung ide kemaslahatan. Sebuah adagium yang potensial menghambat pendaratan kemaslahatan dan menahan laju dinamisasi pemikiran Islam secara umum coba dimodifikasi oleh Kiai Ma'ruf. Adagium itu di antaranya berbunyi, "al-muhafadhah 'alal qadim al-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah" (memelihara yang lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik).
Kaidah ini sesungguhnya menuntut adanya keseimbangan antara merawat tradisi dan upaya inovasi. Namun, dalam implementasinya, bobot merawat tradisi lebih besar sehingga porsi untuk melakukan inovasi pemikiran kurang memadai.
Dari segi substansi, kaidah itu tentu tak bermasalah. Bahkan sangat baik. Namun, menurut Kiai Ma’ruf, kaidah itu perlu dilengkapi. Kiai Ma'ruf menawarkan modifikasi kaidah itu demikian, "al-muhafadhah 'alal qadim al-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah wal ishlah ila ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah".
Pointnya, menurut Kiai Ma’ruf, kemaslahatan itu harus selalu ditinjau ulang. Sebab, “boleh jadi sesuatu dipandang maslahat hari ini, dua tiga tahun lagi sudah tidak maslahat lagi”, tandas Kiai Ma’ruf. Karena itu, penelusuran pada ditemukannya puncak kemaslahatan adalah kerja akademik yang perlu terus menerus dilakukan.
Tapi, sebagaimana para pemikir Islam lain, Kiai Ma’ruf tak membuka aktivitas istinbath pada ranah ibadah. Urusan ibadah, beliau pasrah. Sementara di ranah mu’amalah termasuk siyasah, Kiai Ma’ruf terus melakukan eksplorasi dan inovasi-inovasi pemikiran.
Semoga sehat selalu, Kiai.
Salam,
(Abdul Moqsith Ghazali)
----
Saya mendapatkan buku tipis yang ada dalam foto ini saat hadir pada Muktamar NU di Makassar, 2010.ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam.

3.2.17

Yang dahsyat adalah pidato Kiai Wahab Chasbullah

 
Yang dahsyat adalah pidato Kiai Wahab Chasbullah beberapa saat setelah NU keluar dari Masyumi, tatkala beberapa orang NU sendiri meragukan potensi NU. Kurang lebih:
"Siapa yang masih ragu, silakan tetap dalam Masyumi. Saya akan pimpin sendiri partai in
i (NU). Saya hanya memerlukan seorang sekretaris dan Tuan-tuan silahkan lihat apa yang akan saya lakukan!”

Dalam pidato yang lain:

"Banyak Pemimpin NU di daerah-daerah dan juga di pusat yang TIDAK YAKIN akan kekuatan NU, mereka lebih meyakini kekuatan golongan lain. Orang-orang ini terpengaruh oleh BISIKAN orang yang menghembuskan PROPAGANDA agar tidak yakin akan kekuatan yanag dimilikinya.
Kekuatan NU itu ibarat senjata adalah meriam, betul-betul meriam. Tetapi digoncangkan hati mereka oleh propaganda luar yang MENGHASUT seolah-olah senjata itu bukan meriam, tetapi hanya gelugu alias pohon kelapa sebagai meriam tiruan. Pemimpin NU yang tolol itu tidak akan sadar SIASAT lawan dalam menjatuhkan NU melalui cara membuat pemimpin NU RAGU-RAGU akan kekuatan sendiri."ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam.

2.2.17

NU dan Spesialisasinya Menjadi Penyeimbang

 
NU dan Spesialisasinya Menjadi Penyeimbang
----
7 Agustus 1949, SM. Kartosuwirjo memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesa. Banyak faktor yang membuat dirinya memutuskan aksi tersebut, antara lain, karena beberapa perjanjian yang merugikan republik, seperti Linggarjati dan Renville. Pemerintah dianggap tidak becus dan menghianati rakyat. Kelak, aksinya mendapatkan dukungan dari para panglima lokal yang kecewa dengan Bung Karno, Daud Beureueh di Aceh, Amir Fatah di Jawa Tengah & Kahar Muzakkar di Makassar.
DI/TII berusaha menggaet dukungan Masyumi, termasuk NU di masih bergabung dalam partai politik Islam ini. Semua kiai NU maupun ormas yang sealiran dengan NU menolak DI/TII dan menganggapnya sebagai tindakan bughat/ berontak yang dilarang Islam. Tak mau kalah, beberapa serdadu DI/TII melakukan aksi sepihak dengan cara sabotase dukungan ulama. KH. Yusuf Tauziri, ulama kharismatik dari Garut yang juga pemimpin Hizbullah, diminta bergabung. Beliau menolak. Gerilyawan DI/TII memberondong pesantren miliknya, total ada 17 kali gempuran yang mengakibatkan kerusakan berat. Beberapa santri gugur. Pesantren Darussalam, Cipari, kemudian dipindahkan ke Wanaraja, tak jauh dari lokasi awal, pada 1952.
Ironisnya, Kartosuwiryo dulu mengaji kepada Kiai Yusuf, dan menjadi penasehat spiritualnya di Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Tapi, perbedaan sudut pandang membuat murid gelap mata. Gagal membujuk Kiai Yusuf, yang tampaknya akan dijadikan semacam "pemimpin spiritual" atau mufti, DI/TII mengalihkan target. Kali ini, KH. Ruchiyat, pemimpin pesantren Cipasung, Tasikmalaya, menjadi target aksi. Beliau ditawari menjadi mufti, tapi menolak. Beberapa serdadu DI/TII kemudian menyediakan tandu untuk menculiknya dan memaksa beliau ikut bergerilya di hutan. Ayah KH. Ilyas Ruchiyat (Rais Aam Syuriah PBNU, 1992-1999) ini tetap bersikukuh menolak. Akhirnya, beliau menantang para gerilyawan ini. Caranya, beliau duduk di dalam tandu lalu mempersilahkan rombongan untuk untuk mengusungnya. Aneh, meski sudah diangkat beberapa orang, tandu tak bergerak seincipun, seolah menancap dalam tanah. Ajengan Ruchiyat masih tetap duduk dalam tandu dengan santai. Setelah itu, rombongan ini undur diri dan masuk hutan lagi.
Karena enggan mendukung DI/TII, NU dituduh pemecah belah ummat, penjilat Soekarno, dan alergi syariat Islam (lihat, bukankah tuduhan ini awet hingga saat ini?). Tuduhan ini semakin santer pada saat NU memilih keluar dari Masyumi, 1952, dan menjadi partai politik. Langkah ini bukan hanya mendapatkan kritikan pedas dari Non-NU, dari internal pun nggak yakin jika Partai NU bisa eksis. KH. A. Wahab Chasbullah, Rais Aam PBNU, cuek. Dengan persiapan 3 tahun, Partai NU mampu masuk kwartet pemenang Pemilu 1955: PNI, Masyumi, NU, & PKI.
Masih berkaitan dengan DI/TII. Setelah Kartosuwiryo memproklamirkan negara versinya, umat Islam kebingungan: manakah imam/waliyyul amri yang harus saya ikuti? Bung Karno dengan republiknya atau SM Kartosuwiryo dengan Darul Islam-nya? Kubu NU dengan tegas memilih yang pertama dengan cara membuat manuver dalam konferensi para ulama di Cipanas, 1954, yang dipimpin oleh KH. Masykur, Menteri Agama yang juga mantan Panglima Sabilillah, dengan memberi gelar "waliyyul amri ad-dharuri bisy syaukah" Keputusan ini mengukuhkan Bung Karno sebagai kepala negara yang sah secara fiqh, dan oleh karena itu harus dipatuhi semua umat Islam. Kiai Wahab menjelaskan dalam sidang parlemen menggunakan kacamata fiqh: pertama, Bung Karno muslim, shalat, menikah dengan cara Islam dan disumpah dengan cara Islam pula. Kedua, pemerintah tidak melarang umat Islam menjalankan ibadahnya juga tidak memerintahkan kemaksiatan dan kemungkaran. Ketiga, mengapa ada istilah "dhaduri" (darurat) dalam gelar waliyyul amri bagi Bung Karno? Sebab klasifikasi imam al-a'dzam (pemimpin agung) dengan kualifikasi mujtahid mutlak sudah tidak ada lagi.
Keempat, dalam pidatonya di Parlemen, 29 Maret 1954, Kiai Wahab juga menjelaskan apabila rakyat belum mau mengakui dari sudut pandang agama, bahwa pemerintah Bung Karno adalah pemerintahan yang sah meskipun darurat, niscaya akan muncul bermacam-macam waliyyul amri untuk sendiri-sendiri.
Kelima, dalam kacamata fiqh, muslimah yang tidak mempunyai wali nasab perlu kawin di depan wali hakim (tauliyah). Yang berhak mengangkat hakim adalah pemimpin negara yang legitimatif secara Islam. Dengan gelar ini maka Bung Karno sudah diberi kekuasaan (syaukah) untuk menunjuk hakim melalui Departemen Agama.
Sekadar catatan. Gagasan tentang Waliyyul Amri Ad-Dharuri bisy-Syaukah berasal dari kebijakan yang dikeluarkan oleh Departemen Agama pada tahun 1952 melalui Menteri Agama, Fakih Usman sebagai Menteri Agama (berasal dari partai Masyumi). Departemen Agama melalui Menteri Agama mengeluarkan kebijakan tentang “Tauliyah Wali Hakim” pada tahun 1952, yang diatur dalam surat Keputusan Menteri Agama No. 4 tahun 1952. Surat Keputusan Menteri Agama No. 4 tahun 1952 berisi tentang kewewenangan Menteri Agama untuk melakukan tauliyah (pengangkatan) Wali Hakim bagi wanita yang tidak memiliki wali nikah.
----
Dengan legitimasi yang kuat, Bung Karno pun telah kukuh statusnya sebagai presiden RI dalam tinjauan fiqh. Tak ada dualisme kepemimpinan dalam republik ini. Siapapun yang melakukan gerakan angkat senjata bisa dikategorikan sebagai tindakan bughat (berontak). Era 1950-an adalah fase tergenting republik ini. Banyak suara ketidakpuasan terhadap Bung Karno yang dimulai dengan angkat senjata: DI/TII, PRRI/PERMESTA, gabungan DEWAN BANTENG, GARUDA & GAJAH di Sumatera dll. Semua ditumpas oleh Bung Karno.
Tawassuth dalam Politik, Tawazun dalam Manuver
Yang menarik, di era Kiai Wahab ini NU banyak melakukan gerakan lincah yang mengimbangi kontelasi politik yang cenderung liar saat itu. Ini wujud doktrin TAWASSUTH (tengah-tengah) & TAWAZUN (penyeimbang) yang selama ini dianut. Ketika Masyumi dan PSI menolak bergabung dalam Kabinet Ali Sastroamijoyo yang kekiri-kirian, 1953, NU masuk menjadi penyeimbang faksi nasionalis dan kiri yang mendominasi.
Ketika Bung Karno membuat gagasan NASAKOM, Masyumi ogah masuk, tapi NU bergabung mawakili unsur agama. Tujuannya: menyeimbangi manuver PKI dan nasionalis garis keras di sekitar Bung Karno. Kalau kedua kubu ini dibiarkan berhadap-hadapan tanpa pencegah, kondisi perpolitikan akan semakin liar. Resikonya, Kiai Wahab Chasbullah dituduh penjilat Soekarno, Kiai Nasakom, Kiai Palu Arit dan tuduhan kasar lainnya. Seorang petinggi Masyumi bahkan dengan sinis berkata, : :"....apabila tempurung kepala Kiai Wahab kita belah niscaya kita dapati palu arit di dalamnya." Wuih. Bagaimana reaksi ulama yang juga pahlawan nasional ini? Cuek!
Ketika kemudian Bung Karno membubarkan konstituante dan membentuk kabinet Gotong Royong, 1960, NU kembali bergabung. Tujuannya, kata Kiai Wahab, masuk dulu, kalau nggak cocok keluar. Simpel. Langkah ini membuat NU masuk dalam percaturan politik rumit: angkatan darat yang menguat di bawah Nasution, PKI yang semakin stabil di bawah Aidit. Pada saat Bung Karno mengganti Jenderal AH. Nasution dengan jenderal kesayangannya, Ahmad Yani, sebagai KASAD, saat itu pula Nasution dengan posisi baru Kepala Staff ABRI, tak punya komando penuh atas pasukan. Di sisi lain, Yani yang sangat anti-komunis menjadi sangat waspada terhadap PKI, terutama setelah partai ini menyatakan dukungannya terhadap pembentukan kekuatan kelima (selain keempat angkatan bersenjata dan polisi).
Bagaimana sikap NU? Mereka mengimbangi manuver ini dengan cara membentuk Barisan Ansor Serbaguna (BANSER), 1962. Tindakan yang diambil ini merupakan reaksi atas langkah dua kubu: kubu TNI AD yang menyerukan isu wajib militer untuk mendukung konfrontasi dengan Malaysia, dan kubu PKI yang mengipasi Bung Karno agar membentuk angkatan kelima (rakyat yang dipersenjatai). Selain ini, dalam suasana yang memanas, pembentukan Banser juga untuk menghadapi konfrontasi terbuka dengan Pemuda Rakyat PKI dan Barisan Tani PKI yang beberapa kali terjadi di beberapa daerah.
Fungsi penyeimbang politik juga terjadi pada saat Aidit membisiki Bung Karno agar membubarkan HMI, setelah pemimpin besar itu sudah membuyarkan Masyumi beberapa tahun sebelumnya. Melihat gelagat ini, KH. Saifuddin Zuhri, Menteri Agama sekaligus sekjend PBNU, menolak dengan menyodorkan berbagai argumentasi. Bung Karno pun tidak jadi membubarkan organisasi kemahasiswaan ini.
Saya masih mencukupi ulasan ini sampai di sini, masih banyak yang sebenarnya ingin saya ulas soal manuver politik NU di era Bung Karno dan di zaman Orde Baru, di mana NU mendapatkan perlakuan yang sangat tidak menyenangkan dari pemerintah. Lain kali sajalah, saya capek ngetik pakai hape. Hahaha
----
Setia pada rel politik kebangsaan itu tidak mudah, sebab (selalu) ada oknum dalam tubuh NU yang ingin menyeret ormas ini ke dalam politik recehan. Tapi, bisa dilihat, mereka yang menyeret NU pada politik recehan, biasanya nggak bertahan lama, lalu terpental.
Yang pasti, sejak awal berdiri, banyak langkah politik NU yang tidak mudah dipahami, khususnya pada zaman Jepang, era Orde Lama, Orde Baru hingga kini. Sebaliknya langkah-langkah politik NU lebih banyak disalahpahami, bahkan oleh orang NU sendiri. Namun, biasanya, langkah catur politik ini baru bisa dipahami setelah beberapa tahun berlalu. Sebagaimana kata KH. Dimyathi Rois, politik itu jangan diomongkan di publik, tapi dilaksanakan dengan cerdik tanpa banyak omong, sebab kalau diomongkan di publik itu namanya pengumuman.
WAllahu A'lam Bisshawab



[rijal mumazziq z. Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Surabaya]ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam.

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan