Advertisement

14.5.17

NU yang pernah menjabat Perdana Menteri Myanmar

 

Satu-satunya orang NU yang pernah menjabat Perdana Menteri Myanmar adalah U Nu, nggak percaya? Dari namanya saja sudah jelas ada unsur "eN U" nya.Lagipula dia dalam acara resmi kenegaraan pun selalu pakai sarung dan penutup kepala mirip peci haji. U Nu adalah sastrawan yang juga politisi terkemuka Myanmar. Dia perperan aktif dalam Konferensi Asia Afrika, 1955. U Nu...oh U Nu...
Demikian sekhilaf info! Kekekeke
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Bu Risma

 

Bu Risma
-----
Saya pertama kali datang dari Gujarat (hahaha) ke Surabaya, tahun 2003. Saat itu Surabaya masih menjadi kota yang keras, panas, dan terasa kerontang di tengah rimba beton gedung-gedung perkantoran di sana sini, juga di tengah cerobong asap kendaraan bermotor. Panas, nas, nas. Kawan-kawan mengistilahkan kondisi cuaca di kota Pahlawan ini sebagai "neraka bocor".

Mungkin dua tahun setelahnya Surabaya mulai berbenah dari sisi tatakota. Yang pertama kali muncul adalah penanaman (kembali) pohon dan bunga-bunga di beberapa titik strategis, di penggir jalan, dan di pembatas jalan. Pemandangan hijau menyejukkan mulai tampak semarak. Sebelumnya memang ada bunga-bunga di pot besar, tapi dibiarkan merana, berdebu tak terurus. Saat itu barulah saya tahu apabila ada nama Bu Tri Rismaharini yang menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya sejak 2005.
Kalau anda berimajinasi kepala dinas hanya duduk di ruangan ber-AC, nerima upeti, ongkang-ongkang, lalu janjian dengan pengusaha untuk memuluskan tender proyek A, B, C, itu mungkin sesuai dengan gambaran kepala dinas di daerah anda, hahaha, yang kalau kita melaporkan ini-itu baru ditindaklanjuti setahun dua tahun kemudian, atau bahkan nggak digubris sama sekali. Kepala dinas dengan struktur birokrasi gemuk yang lamban dan menjengkelkan, yang merupakan potret sebagian besar birokrat di tanah air.
Tapi, perempuan ini lain. Dia gesit, lincah, blak-blakan dan tegas. Soal karier dia mengawali dari bawah, naik merangkak hingga menjadi pemimpin Surabaya. Sebuah proses meritokrasi birokrasi yang bagus di tengah ketidakjelasan tatanan birokrasi Indonesia.

Surabaya menjadi lebih hijau saat perempuan kelahiran Kediri ini menjabat sebagai kepala dinas kebersihan dan pertamanan. Dia akan marah apabila pohon dan bunga-bunga yang ditanam pasukan kuningnya di titik-titik strategis dirusak. Akhirnya, surabaya mulai mengasyikkan bagi saya sebagai pendatang. Setelah menjadi walikota, 2010, Bu Risma semakin "menggila" dengan berbagai konsep yang secara ril dipraktekkan. Mulai e-governance yang membuat tata kelola keuangan pemkot transparan dan meninimalisir kebocoran koruptif, melanjutkan proyek merapikan trotoar dan menjadikannya manusiawi untuk pejalan kaki, dan membuat berbagai taman dengan memanfaatkan lahan-lahan milik pemkot yang menganggur. Pak Dahlan Iskan menjulukinya "gila taman". Dengan cara ini, Bu Risma berusaha mewujudkan kota yang manusiawi.

Konsekwensinya, dia harus mengalami perlawanan DPRD Surabaya. Mereka menyodorkan proyek pembangunan tol tengah kota dengan menggunakan dana APBN. Bu Risma menolak, sebab dia fokus memperluas pembangunan di pinggiran kota Surabaya. Lagipula, tol tengah kota bakal memperrumit akses transportasi Surabaya dan tentu saja akan menimbulkan masalah baru mengenai ketersediaan lahan. Penolakan Bu Risma ditindaklanjuti dengan ancaman impechment dari DPRD (ya iyalah, proyek menggiurkan kok ditolak?). Ancaman gagal. Bu Risma tetap awet. Kalau anda mencermati, orang yang mau menggeser Bu Risma ini adalah politisi kutu loncat yang tersangkut banyak masalah: dari dugaan korupsi anggaran bimtek, di balik kisruh perpecahan Persebaya dan masalah gaji pemainnya, hingga masuk dalam pusaran korupsi yang dituduhkan kepada Dahlan Iskan. Sopo jenenge wong iki, rek? Golekono dewe ya. Benar-benar kampretos mamamia lezatos domestos nomos orang ini! Hhrrrrrhhh...Yang pasti dari kisruh politik dan polemik tol tengah kota ini kemudian KPK mencium adanya ketidakberesan, sehingga ketika dilacak ketemulah nama Mindo Rosalina Manulang, yang ketika ditelusuri merupakan bagian dari jaringan skandal korupsi anggaran PON Riau yang menjebloskan gubernur Riau ke jeruji besi. KPK melanjutkan pengusutan, lalu ketemulah skandal Candi Hambalang yang menyeret petinggi Partai Bemokrat itu. (liputan soal lika liku korupsi ini pernah menjadi bagian investigatif Majalah Tempo, entah edisi ke berapa).
Kota yang Manusiawi
Oke, kembali ke bahasan Bu Risma. Tahun 2014, saya bersama Pak Karim Raslan (kolumnis Malaysia) dan rombongannya bertemu walikota ini di kantornya. Bu Risma menyuguhkan jajanan tradisional: onde-onde, lemper, apem, cenil, klepon dan sebagainya, sembari menceritakan apabila kue-kue tersebut merupakan bikinan dari "alumni" Dolly yang sudah berhasil dibina oleh Pemkot. Kemudian Bu Risma juga berpromosi mengenai tas dan beberapa kerajinan tangan yang dia letakkan di meja khusus. "Ini adalah produksi dari mbak-mbak yang dulu menghuni Dolly, silahkan kalau mau dibeli, dengan senang hati," kata Bu Risma berpromosi kepada rombongan dari Malaysia. Tawanya renyah, mengalir dan nadanya juga santai. Semanak, kata orang Jawa.
Dolly adalah salah satu pe-er yang berhasil diselesaikan oleh Bu Risma. Perlawanan internal ada, tapi dia cuek. Protes dari PDI-P yang merupakan pengusungnya juga tak digubris. Dolly akhirnya tutup, setelah sebelumnya pemkot menutup lokalisasi yang lebih tua, Bangunsari (KH. Khoiron Syu'aib aktif berdakwah di lokalisasi ini sejak 1984 tanpa caci maki dan pentungan, apalagi penghakiman). Alumni dua lokalisasi ini dibina, dilatih, diberi modal dan dikaryakan. Makanya tadi Bu Risma dengan bangga memamerkan hasil karya perempuan alumni Dolly yang dibina oleh Pemkot. Kepada pada perempuan muda yang pernah menjadi korban traficking, Bu Risma juga memberikan nomor hapenya, semata-mata untuk menerima curhat, atau mungkin laporan terjadinya penjualan manusia. Dan, benar, tahun 2015 silam, beberapa gadis yang pernah menghuni Dolly lalu pensiun, ternyata kembali menjadi korban sindikat traficking. Posisi mereka ada di Batam. Salah satu korbannya kemudian menghubungi Bu Risma pada tengah malam, dan pada saat itu perempuan ini langsung berangkat bersama satuan reserse Hofdberau Polrestabes Surabaya. Kasus terbongkar berkat jalinan emosional antara Bu Risma dengan para gadis ini. Berkat salah satu cara yang paling simpel: nomor hape pemimpinnya!
Sebatas pengetahuan saya, di era Bu Risma ini gaji petugas kebersihan yang menjaga keasrian kota mengalami kenaikan. Saat ini sudah standar upah minimum Surabaya. Selain itu, ada anggaran untuk memberi makan para lansia setiap hari. Dinas Sosial menjadi pelaksana teknis hal ihwal ini. Sedangkan untuk mengendalikan bonek perusuh, Bu Risma memberikan beasiswa bagi mereka untuk bersekolah di Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Surabaya. 17 April silam, ATKP mewisuda 44 taruna Senin (17/4). Dari jumlah itu, 11 wisudawan adalah Bonek. Mereka berhasil menempuh pendidikan selama setahun dengan beasiswa pemkot.
Keberhasilan sebelas Bonek itu menjadi buah kerja sama pemkot dengan GMF Aero Asia Garuda Indonesia. Siswa yang lulus langsung mendapat kontrak kerja. Namun, keberhasilan itu tidak didapat secara instan. Mereka harus mengalahkan ratusan Bonek yang juga mendapat undangan untuk ikut tes.
Pelepasan wisudawan itu terbagi atas dua jurusan. Yakni, 20 orang lulusan avionic dan 24 orang jurusan basic aricraft structure (BAS). Seluruh Bonek yang lulus berasal dari jurusan BAS. Mereka sudah disiapkan menjadi junior mechanic. Nah, keren, kan? Dulu perusuh, kini tetap menjadi bonek bermartabat sebagai mekanik pesawat.
Oke, sikap Bu Risma yang spontan terkadang juga menimbulkan kontroversi. Nggak usah saya sebutkan di sini. Tapi, sebagai pendatang yang merasa kerasan di Surabaya, saya melihatnya bukan sebagai tindakan politis, melainkan spontanitas khas "simbok" di mana ngomel menjadi salah satu fase pelepasan kemarahan atas ketidakberesan. Apalagi ini Surabaya, cuk, eh, cak! Di mana urat leher dan hentakan suara, terkadang, dibutuhkan untuk mengurai kerumitan dan kelambanan.
Selain kontroversi, tentu saja ada banyak prestasi yang diraih Bu Risma. Tak perlu saya sebutkan. Banyak beritanya kok. Banyak pula apresiasi warga Surabaya di fesbuk dan blog atas kinerjanya dalam menata kota. Soal taman, misalnya, oke oce deh! Ruang-ruang publik disediakan untuk memanusiwikan kembali manusia Surabaya. Ada interaksi kemanusiaan di dalam warna-warni taman, antara anak-orangtua, antara sahabat, dan antara unsur masyarakat, bukan hanya interaksi kapitalistik yang berjejalan di gedung-gedung. Taman-taman di Surabaya kembali menjadi wadah pertemuan manusia sebagai makhluk sosial yang berinteraksi secara jujur, bukan interaksi berdasarkan harga dan gengsi sebagaimana yang ditawarkan berbagai mal di Kota Pahlawan ini.
Surabaya memang bukan seperti The Big Apple New York, bukan seperti City of Lights Paris, bukan pula City Of Joy Kolkata, bukan juga City of Dreams Mumbai, tapi Surabaya tetap menjadi City of Heroes, bukan City Nurbaya maupun City Nurhaliza.
WAllahu A'lam Bisshawab
(Di atas Patas Ladju, Jember-Surabayaditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

6.5.17

POKOKNYA AKU SAJA YANG BENAR!!!!!

 
Mpun tooo........ Jangankan yg jelas jelek, yang baik saja apa yg Indonesia punya tetap di cacat.
- Indonesia punya jilbab tradisional, itu SALAH, kurang lebar.
- Indonesia punya tradisi kerukunan bancakan sekalipun di isi dzikir bersama dg tahlilan tetap SALAH, Karena ketambahan kalimat "an".
- Indonesia punya pemimpin non muslim yg tidak korup. SALAH. Karena bukan Islam.
- Indonesia punya pemimpin Muslim 'alim taat, SALAH dan di turunkan karena katanya korupsi bullogate. (Dan sama sekali tidak terbukti)
-Jawa punya senjata keris, SALAH. Potensi musyrik.
- Indonesia punya Pancasila, SALAH karena mengadopsi hukum kafir.
- Indonesia punya bendera merah putih, SALAH. Menghormatinya menjadi kufur karena menghormati benda mati.
- Indonesia punya ulama salaf, SALAH karena taqlid buta. tidak lebih shahih Qur'an hadits versie mereka.
- Celana Indonesia gak cingkrang SALAH, karena isbal.
- Lelaki Indonesia gak jenggotan, SALAH karena nggak nyunah.
Kesel ngetik.... Lanjutkan sendiri wan kawan.....
Kabeh di kritik, kabeh di cacat ben dadi perkoro gede. Di situlah mereka memanfaatkan keadaan. POKOKNYA AKU SAJA YANG BENAR!!!!!
(ndoro Munir Sofi)

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

biografi Prof. Dr. H. Ridwan Nasir MA, "Menyongsong Takdir, Meniti Asa" diluncurkan

 
Alhamdulillah. Tadi pagi, di aula Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, buku Buku ini merupakan karya kami (Rijal Mumazziq Z, Cak Chafid Wahyudi, Cak Wasid Mansyur, Cak Ali Hasan Siswanto dan Cak Syaiful A'la) dan dieditori oleh Prof. Masdar Hilmy Ph.D.
Meski sempat molor, akhirnya kami lega buku ini bisa terbit. Dikemas dengan bagus: foto berwarna dan hard cover, biografi ini tadi dibagikan kepada para tamu undangan bersama karya terjemahan beliau, "Metode Takhrij Hadith dan Penelitian Sanad Hadis" karya Dr. Mahmud Al-Tahhan.
Banyak pelajaran soal kehidupan yang kami dapatkan saat menulis buku ini antara lain, meskipun lahir dalam kondisi yatim, namun Prof. Ridlwan tidak mau menyerah terhadap keadaannya. Ketika mondok di Tebuireng pun, beliau lebih banyak hidup prihatin dan menjalani lelaku tirakat. Demikian pula ketika menjadi aktivis di PMII dan Senat Mahasiswa IAIN Sunan Ampel.
Di antara prinsip yang diugemi Prof. Ridlwan antara lain:
1. Jika bisa dipermudah mengapa harus dipersulit.
2. Tetep eling lan waspodo.
3. Nguwongke uwong (memanusiakan manusia)
4. Weweh tanpo kelangan (memberi tanpa merasa kehilangan, ikhlas)
5. 20% berusaha, 80% berdoa (prinsip yang sangat berani tapi hasilnya efektif)
6. Kesuksesan dan keberkahan lebih banyak karena doa-ridlo ibu dan restu guru.
Dan sebagainya.
Hingga saat ini kami melihat Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim ini senantiasa tersenyum kepada semua orang, menjaga wudlu, istiqomah shalat malam, hingga rutin bershalawat. Shalawat yang diamalkan beliau adalah Shalawat Badawiyah alias Shalawat Nuraniyah yang disusun oleh Sayyid Ahmad al-Badawi, Mesir, (596-675 H). Prof. Ridlwan diijazahi shalawat ini oleh KH. Adlan Aly, PP. Walisongo Cukir, santri kesayangan KH. M. Hasyim Asy'ari. Sedangkan Kiai Adlan mendapatkan amalan shalawat ini melalui jalur Kiai Hamid Pasuruan. Banyak faidah dan fadhilah shalawat ini jika diamalkan secara istiqamah.
Prof. Ridlwan biasanya memberi amalan shalawat ini kepada mahasiswa yang meminta ijazah wirid kepada beliau. Saya diberi ijazah shalawat ini, saya amalkan, tapi malah kesirep karena ngantuk (qiqiqiq). Ngapunten prof....
Semoga lelaku kehidupan beliau menjadi guru bagi keluarga dan para santri beliau, termasuk kami sebagai tim penulis.
Semoha karya sederhana ini bermanfaat, berbarakah dan menjadi amal jariyah bagi kami. Allahumma amiiin.

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

5.5.17

surat Sultan Abu al-Fath Abd al-Fattah dari Banten (Sultan Ageng Tirtayasa) yang ditujukan kepada Raja Inggris Charles II. Surat tersebut ditulis dalam bahasa Arab

 
~ Iseng2 menyalin surat Sultan Abu al-Fath Abd al-Fattah dari Banten (Sultan Ageng Tirtayasa) yang ditujukan kepada Raja Inggris Charles II. Surat tersebut ditulis dalam bahasa Arab, tertanggal 6 Ramadhan 1093 Hijri (8 September 1682 Masehi).
Dalam surat tersebut, Sultan Ageng Tirtayasa meminta bantuan pihak Inggris untuk berperang melawan VOC Belanda yang berkongsi dengan anak sang sultan (Pangeran Haji), dan telah merebut bandar Jakatra (Jayakarta) dari Kesultanan Banten, lalu diubah namanya menjadi Batavia oleh Belanda.
Dikatakan di sana; "antara Kesultanan Banten dan Kerajaan Inggris telah terjalin hubungan yang erat, seumpama jasad dengan ruh", dan "musuh kita bersama adalah Holandah (Belanda)".
Saya mendapatkan naskah kopian surat ini dari sahabat saya al-fadhil Amirul Ulum. Beliau sendiri mendapatkannya dari buku "Babad Banten".
Dari informasi yang didapat dari al-Fadhilah Ibu Annabel Gallop, surat ini diterbitkan oleh Ibu Titik Pudjiastuti dalam bukunya 'Perang, Dagang, Persahabatan: Surat-surat Sultan Banten' (2007)


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Guyon thok.... Semalam dalam acara "Suluk Santri Menara" bersama para sahabat di Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah Kudus.





ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

4.5.17

Mengenal Mir-at At-Thullab: Kitab Fiqh Pertama Karya Ulama Nusantara

 
Mengenal Mir-at At-Thullab: Kitab Fiqh Pertama Karya Ulama Nusantara
Oleh: Rijal Mumazziq Z (Kaprodi Ahwalus Syakhsiyyah STAI Al-Falah Assunniyah Kencong Jember)
Di era abad ke-15 hingga abad ke-20 bahasa Melayu memainkan posisi penting dalam dinamika keilmuan Islam. Selain bahasa Arab, Turki dan Persia, bahasa Melayu menjadi pilihan dalam pengantar keilmuan, administrasi, hingga komunikasi sehari-hari di wilayah Asia Tenggara. Bahkan menjadi bahasa pemersatu Islam Nusantara yang terdiri dari berbagai macam etnis.
Selain menggunakan bahasa Melayu sebagai pemersatu keilmuan dan kebudayaan, kaum muslimin di kawasan ini juga menggunakan aksara Jawi atau juga bisa disebut sebagai aksara Pegon, yaitu adaptasi dari huruf Arab untuk menuliskan lafal atau kalimat dalam bahasa lokal (Melayu, Jawa, Bugis, Madura, dan lain sebagainya). Berdasar pada huruf-huruf Arab “jim” (ج), “ain” (ع), “fa” (ف), “kaf” (ك), dan “ya” (ي), maka lambat laun tercipta lima huruf yang masing-masing menandakan bunyi-bunyi yang lazim pada bunyi lidah rumpun etnis Melayu. Kelima huruf yang tercipta adalah: “ca”, “nga”, “pa”, “ga”, dan “nya”. Jenis huruf ini di kawasan Jawa disebut juga dengan huruf Pegon, yang biasanya dipakai untuk menuliskan kitab berbahasa Jawa. “Dengan cara inilah para ulama kita menuliskan karya-karyanya untuk konsumsi masyarakat Muslim-Melayu-Indonsia, termasuk kitab-kitab fiqih,” tulis Nor Huda dalam "Islam Nusantara: Sejarah sosial Intelektual Islam di Indonesia"
Di antara karya awal yang terlacak menggunakan aksara Jawi dalam proses penulisannya adalah kitab Sirath al-Mustaqim buah karya Syaikh Nuruddin Ar-Raniri, ulama India yang menjadi mufti kesultanan Aceh. Meski ulama non-Melayu, namun dalam menjalankan tugas sebagai serang pendidik umat, Ar-Raniri menyadari pentingnya penguasaan atas bahasa lokal disertai dengan pola komunikasi adaptatif yang bisa diterima oleh masyarakat awam. Karena itulah ulama ini menuliskannya menggunakan aksara Jawi dan berbahasa Melayu, bukan bahasa Arab.
Setelah Ar-Raniri wafat, seorang ulama lokal dengan reputasi internasional, Syaikh Abdurrauf As-Sinkili melanjutkan kiprah Ar-Raniri dengan menuliskan sebuah karya yurisprudensi Islam (fiqih) berjudul Mir-at At-Thullab. Karya ini diakui sebagai karya perdana ulama Nusantara di bidang fiqih yang menggunakan bahasa Melayu beraksara Jawi-Pegon. Memang, sebelumnya hampir dua abad sebelumnya sudah ada beberapa karya Walisongo yang ditulis dengan menggunakan aksara Jawa (hanacaraka) yang lebih banyak membahas tasawuf dan akhlak.
Karya As-Sinkili ini diakui sebagai salah satu karya tebal yang pernah ditulis oleh ulama Nusantara era awal. Kitab setebal 650 halaman yang ditulis tangan ini menyajikan pembahasan fiqih secara lengkap menggunakan bahasa Melayu kuno. Dengan menyajikan rujukan dari beragam kitab salaf yang ditulis oleh para ulama bermadzhab Syafi’i, jelas menunjukkan bahwa As-Sinkili adalah ulama bermadzhab Syafi’i, sebagaimana madzhab ini dianut oleh mayoritas rakyat kesultanan Aceh dan kawasan Nusantara saat itu dan hingga saat ini.
As-Sinkili menunjukkan kualitas keilmuannya melalui kitab ini, antara lain dengan cara mengupas sebuah permasalahan dengan pola tanya jawab. Isi pertanyaan seputar masalah keseharian yang dialami oleh masyarakat pada umumnya, dan kemudian dia jawab dengan menggunakan perangkat keilmuan yang dia miliki, disertai dengan berbagai rujukan kitab yurisprudensi klasik. “Kitab yang disajikan oleh Syaikh Abdurrauf ini merupakan kontribusi besar masyarakat Aceh semasanya dan setelah hidupnya. Si pengarang dalam menjelaskan duduk permasalahan hukum sangat berhati-hati dan tidak terlepas dari berbagai pertimbangan, yakni atas dasar pertimbangan sosial dan sultan.” tulis Muliadi Kurdi (dkk.) dalam penerbitan ulang Mir-at At-Thullab beraksara latin yang diterbitkan ulang atas usaha Lembaga Naskah Aceh (NASA), 2015 silam.
Mengapa menggunakan standar pertimbangan sosial dan sultan? Sebab kitab yang berjudul asli Mir-at At-Thullab fi Tashil Ma’rifat al-Ahkam al-Syar’iyyah li al-Malik al-Wahhab ini ditulis atas permintaan Sultanah Shafiyyatuddin, penguasa Kesultanan Aceh, diselesaikan pada 1074 H/1663 M. As-Sinkili mempersembahkan kitab ini di hadapan sang ratu pada hari Sabtu, 8 Jumadil Akhir 1083 H/ 1 Oktober 1672 M.
Raja perempuan ini adalah istri Sultan Iskandar Tsani, yang menggantikan suaminya dan berkuasa relatif lama sejak tahun 1051 H/1641 M hingga 1086 H/1675 M. Sultanah Shafiyyatuddin pantas berterimakasih kepada As-Sinkili, sebab melalui karya inilah pada akhirnya seorang raja memiliki standar pegangan manakala akan memutuskan sebuah perkara, dan para hakim (qadhi) di Aceh saat itu memiliki kitab standar rujukan, selain As-Sirath Al-Mustaqim karya Syaikh Nuruddin Ar-Raniri.
Namun, tidak seperti As-Sirath al-Mustaqim yang hanya membahas masalah ibadah, Mir-at At-Thullab mengemukakan banyak aspek dari fiqih, termasuk kehidupan politik, sosial, ekonomi dan keagamaan kaum muslimin. Karena mencakup topik-topik yang begitu luas, karya ini jelas merupakan kitab penting di bidang tersebut.
Referensi utama karya ini adalah Fath al-Wahhab karya Imam Zakariyya al-Anshari. Selain itu, As-Sinkili juga mengambil bahan dari buku-buku standar seperti Fath al-Jawab dan Tuhfat al-Muhtaj, dua karya Ibnu Hajar al-Haitami (w. 973 H/ 1565 M); Nihayat al-Muhtaj karya Syamsuddin Ar-Ramli; Tafsir al-Baidlawi karya Ibnu Umar al-Baidlawi (w. 685 H/1286 M); dan Syarh Sahih Muslim karya Imam an-Nawawi (w. 676 H/ 1277 M). “Dengan sumber-sumber ini, As-Sinkili menjelaskan hubungan dan koneksi intelektualnya dengan jaringan ulama.” tulis Azyumardi Azra dalam "Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia".
Melalui Mir-at At-Thullab, dia menunjukkan kepada kaum muslimin di kepulauan Nusantara bahwa doktrin-doktrin hukum Islam tidak terbatas pada ibadah, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan sehari-hari mereka. Meskipun Mir-at At-Thullab tidak lagi digunakan di Nusantara dewasa ini, namun di masa lampau, kitab ini menjadi salah satu kitab rujukan terpenting kerajaan Islam di kepulauan Nusantara. M.B. Hooker, salah seorang orientalis, sebagaimana dikutip Azyumardi Azra, mengemukakan jika "Lumaran", salah satu kumpulan hukum Islam yang digunakan umat Islam di wilayah Mindanao, Filipina, sejak pertengahan abad ke-19, menjadikanu Mir-at At-Thullab ini sebagai salah satu acuan utamanya. Salah satu bagian pembahasan mengenai waris di kitab ini—yang kemudian dibukukan menjadi Kitab Faraidh—bahkan digunakan sebagai rujukan oleh sebagian besar kaum muslimin Melayu-Indonesia di masa belakangan.
Dengan ketebalan di atas rata-rata, Mir-at At-Thullab dibagi dalam 71 bab. Masing-masing bab membahas topik berbeda, dari fiqih muamalah, munakahat, jinayah (pidana Islam), ahwal al-syakhsiyyah (perdata Islam), hingga soal siyasah (politik). Karena merupakan buku standar rujukan para qadhi (hakim), maka mula-mula As-Sinkili membahas peranan seorang hakim, hak dan tanggungjawabnya, serta konsekwensi manakala mengkhianati sumpah dan menyalahgunakan jabatannya.
“Adanya kitab As-Shirat al-Mustaqim karya Ar-Raniri dan Mir-at At-Thullab karya As-Sinkili menunjukkan, paling tidak, sejak tahun 1600 dan seterusnya terdapat suatu minat yang serius terhadap syariat di samping tasawuf di kalangan kamu muslim Sumatera.” Demikian tulis Martin Van Bruinessen dalam "Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia".
Penulis asal Belanda ini menengarai hal demikian karena pada babakan periode sebelumnya terdapat kecenderungan terhadap tasawuf falsafi di kalangan masyarakat Aceh, khususnya pada saat Hamzah Fansuri dan Syamsudin Sumatrani masih hidup dan mengajarkan pemikirannya di bidang tasawuf falsafi. Pemikiran kedua sufi aliran Wahdatul Wujud ini kemudian ditentang oleh mufti kesultanan Aceh, Nuruddin Ar-Raniri, yang membawa genre tasawuf akhlaki.
Setelah Ar-Raniri wafat, corak tasawuf akhlaki digawangi oleh As-Sinkili yang merupakan pembawa silsilah dan ajaran Tarekat Syattariyah, serta menjadi salah satu ahli tafsir terkemuka di zamannya. Karya As-Sinkili yang lain, Tarjuman Mustafid, adalah karya tafsir pertama yang ditulis oleh ulama Nusantara. Tafsir ini, yang merupakan terjemahan-adaptatif dari Tafsir Baidhawi, juga ditulis dengan menggunakan aksara Jawi berbahasa Melayu.
Ulama Lokal dengan Reputasi Internasional
Nama lengkapnya Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fanshuri As-Sinkili. Sebagaimana terlihat dari namanya, ia adalah seorang Melayu dari Fansur, Sinkil, di wilayah pantai barat-laut Aceh. Tahun kelahirannya tidak diketahui pasti, tapi kemungkinan besar dia dilahirkan pada 1023 H/ 1615 M. Menurut sejarawan muslim A. Hasjmi, dalam “Syekh Abdurrauf Syiah Kuala: Ulama Negarawan Yang Bijak”, nenek moyang As-Sinkili berasal dari Persia yang datang di Kesultanan Samudera Pasai pada akhir abad ke-13.
Mereka kemudian menetap di Barus (Fansur), sebuah kota pelabuhan tua yang sangat penting di wilayah Sumatera Barat. Selama hampir dua puluh tahun, As-Sinkili belajar di Madinah dan berguru kepada ulama jempolan, Syaikh Ibrahim al-Kurani (w. 1101 H/ 1690 M) dan Syaikh Ahmad al-Qusyasyi (w. 1071 H/ 1661 M). Melalui jalur dua ulama ini As-Sinkili mendapatkan izin untuk mengajarkan tarekat, khususnya tarekat Syattariah.
Di Haramain, dia juga berguru kepada puluhan ulama dengan ragam keilmuan yang berbeda. Dengan penguasaan mumpuni di bidang fiqih, ushul fiqih, tafsir, dan tasawuf, As-Sinkili masih menyempatkan diri mengajar di tanah Arab ini sebelum kemudian dirinya kembali ke Aceh dan mengabdikan diri sebagai salah satu ulama kerajaan.
“Datang dari wilayah pinggiran dunia muslim, As-Sinkili memasuki inti jaringan ulama dan dapat merebut hati sejumlah ulama utama di Haramain. Pendidikannya tak dapat disangkal lagi, sangat lengkap: dari syariat, fiqih, hadits, hingga disiplin-disiplin eksoteris lainnya hingga ilmu kalam dan tasawuf atau ilmu-ilmu esoteris. Karier dan karya-karyanya setelah ia kembali ke Nusantara merupakan sejarah dari usaha-usahanya yang dilakukan secara sadar untuk menanamkan kuat-kuat keselarasan antara syariat dan tasawuf.” tulis Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia".
As-Sinkili wafat pada 1105 H/ 1693 M dan dimakamkan di kuala atau mulut sungai Aceh. Tempat ini juga menjadi pemakaman bagi para istrinya, serta salah satu murid kesayangannya, Dawud al-Jawi al-Rumi, dan beberapa murid lainnya. Karena tempat dia dikubur itulah, maka As-Sinkili di kemudian hari dikenal sebagai Syaikh di Kuala, dan diabadikan sebagai salah satu universitas Islam di Aceh, yaitu Universitas Syiah Kuala. Makamnya hingga hari ini masih menjadi salah satu destinasi wisata spiritual di kawasan Serambi Makkah.
WAllahu A'lam Bisshawab

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Misteri di Balik Keberkahan

Berkah itu misteri. Ada yang khidmah kepada umat dengan ikhlas, lalu keberkahan menyelimuti dirinya, kemudian merembesi putra putrinya. Ini yang setidaknya beberapa kali saya jumpai. Seorang muadzin di kota kecil di Jawa Tengah saban hari menempuh jarak berkilo meter guna melantunkan adzan 5 waktu. Dia niat mengabdi sebagai takmir. Tanpa gaji, tentu saja. Keberkahan meluberi putra putrinya yang tumbuh tanpa kebanyakan polah tingkah dan punya raihan prestasi dengan bukti sederet piala yang berjejer di rak. Keluarga kecil yang harmonis dan tenteram dengan putra putri yang manut.
Di Jombang, kalau tak salah ingat, ada seorang muadzin langgar kecil dengan cirikhas beduknya yang nyaris lapuk. Dia selama bertahun-tahun disiplin dengan jadwal adzannya, tak pernah telat lebih dari lima menit. Istiqamah. Begitu disiplinnya, masyarakat belum berani berbuka puasa, kecuali setelah mendengar kumandang adzannya terlebih dulu, sungguhpun di masjid desa sayup-sayup terdengar suara adzan. Ketika muadzin langgar ini wafat, putranya masih kecil. Di kemudian hari putranya terluberi keberkahan khidmah ayahnya, dia bisa menghafal al-Qur'an tidak lebih dari tiga bulan.
Di Situbondo, seorang ibu mengabdikan diri sebagai abdi ndalem di rumah ulama besar. Kabarnya, sambil memasak buat keluarga kiai tersebut, ibu ini mengkredit hafalan al-Qur'annya. Berkat keikhlasannya berkhidmah dan kecintaannya terhadap al-Qur'an, sang putra di kemudian hari menjadi salah seorang pakar ushul fiqh yang sangat dihormati.
Di Pati, ada seorang kiai kampung yang mengikuti lelaku mursyidnya, KH. Arwani Amin, Kudus. Laku yang cukup berat. Yaitu setiap jumat dia berkeliling ke desa-desa pelosok, berganti-ganti desa. Tujuannya mengecek kondisi masjid di pelosok, apakah masyarakatnya masih istiqamah berahlussunnah wal jamaah, bagaimana tajwid imamnya, dan bagaimana amaliahnya. Kalau masih ada yang kurang beres, dia mendampingi masyarakatnya, mengajari mereka mengaji, menjelaskan pasal-pasal thaharah, fiqhus shalat, fiqhun nisa', dan fiqh terapan lain yang praktis. Kiai berpenampilan sederhana ini konsisten menjalani lelakunya, menjelajah pelosok saban jumat. Selama berpuluh tahun dia menjalaninya dengan ikhlas. Dalam kondisi sakitpun, dia terkadang memaksa diri berangkat meninjau santri-santrinya di pelosok. Bahkan manakala sepeda motor bututnya rusak, dia memilih ngojek. Istrinya, yang juga aktivis Muslimat NU, pernah mengingatkan agar mengurangi jadwal "jelajah jum'at". Tapi dia hanya terkekeh, lalu kembali berangkat. Baginya, santri-santri dusun--yang notabene seusia dirinya--lebih dia rindukan untuk dibimbing. Safinatun Najah adalah kitab favorit yang dia gunakan untuk mengajari santri-santri yang tersebar di berbagai desa. Sebuah kitab kecil dengan manfaat besar. Beliau memang tidak punya pesantren, tapi santrinya ada di berbagai desa.
Putri pertamanya hafal al-Qur'an, lulusan Institut Ilmu al-Qur'an Wonosobo. Sekarang merintis pesantren di pelosok Kalimantan bersama suaminya yang juga penghafal al-Qur'an, dan aktif menjadi penggerak Fatayat NU di sana. Putranya nomor dua menjadi PNS di sebuah perguruan tinggu bergengsi, menjadi aktivis NU dan saat ini sedang menempuh S3 di salah satu kampus Islam besar. Si bungsu, perempuan, juga menghafalkan al-Qur'an dan menjadi lulusan terbaik Universitas Sains al-Qur'an Wonosobo. Saya yakin, ketiga buah hati pejuang Islam di pelosok ini sekarang sedang senyum-senyum membaca postingan saya ini, sebab saya bersahabat dengan mereka di FB dan ketiganya sering njempal njempol di lapak saya. Hahahaha.
Anda bisa mengagumi mereka ini, bisa juga tidak. Tapi saya angkat topi buat mereka, khususnya ayah ibunya. Jika boleh menilai, keberhasilan anaknya di bidang masing-masing antara lain karena efek lelaku khidmah yang dijalani kedua orangtuanya yang menjadi teladan bagi putra-putrinya. Saya banyak menjumpai potret keluarga seperti mereka. Bapak ibunya hanya orang "biasa", tapi putra putrinya terberkahi keistiqomahan dan lelaku orangtuanya. Ini, saya anggap, barokah.
Sebagaimana dulu Sayyidina Anas bin Malik radliyallahu 'anhu yang dianugerahi usia panjang dan berkah berikut keturunannya yang berlimpah, karena pengabdiannya sebagai abdi ndalem di keluarga Rasulullah, serta Sayyidina Abu Hurairah radliyallahu 'anhu yang selain memori otaknya yang luar biasa merekam ucapan, perilaku dan keputusan Rasulullah, juga memiliki menantu keren yang menjadi penghulu ulama di zamannya, Imam Said ibn Musayyib. Ada juga Imam Nafi', bekas budak Sayyidina Abdullah bin Umar radliyallahu 'anhuma yang memilih menjadi abdi ndalem beliau sekaligus menjadi murid kinasihnya. Keberkahan meluberi beliau-beliau. Khidmah yang melahirkah berkah.
Wallahu A'lam bisshawab

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

25.4.17

kembalilah ke al-Qur'an dan Hadits

 
Saya sering menerima ajakan kembali ke al-Qur'an dan Hadits dari saudara-saudara yang berbeda kelompok. Oke, saya jawab, kalau begitu ayat pertama kali yang harus dirujuk pada zaman ini adalah QS. Al-Hujurat ayat 6, biar nggak memble nanggapi informasi. Lha semua informasi kok diterima, dipercaya dan kemudian disebar. Tanpa tabayyun dan kroscek validitasnya. Yang bikin anyang-anyangen, ada hoax yang disampaikan di forum khutbah jumat, sisanya di dauroh. Ya umatnya tambah pekok.
Kalau soal sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka yang harus dirujuk adalah sabda beliau: "Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar." (Kafa bil mar-i kadziban an yuhadditsa bikulli ma sami'a).
Lha masak setiap berita kok dipercaya dan setiap informasi kok disebarkan. Kalau ditanya, validkah informasi yang anda sebarkan ini? Dijawab, entahlah, saya hanya menerima dan menyebarkan. Woooooo tambah koplak.
Nah, nggak usah nggedabrus soal ayat ini itu, hadis ini itu, saya kira mengamalkan satu ayat di atas dan satu sabda baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu dulu saja sudah keren dan oke oce kok.
Salam Namaste,
Rijal Kapoor

ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

"Tamasya Al-Maidah" artinya "wisata kuliner"

 
"Al-Maidah" artinya "hidangan". "Tamasya Al-Maidah" artinya "wisata kuliner".
Jadi, mestinya yang dikunjungi itu tempat-tempat makan, bukan TPS.
(Fatwa mutakhir Imam Kecil Umat Islam Indonesia-Tahiti-Guyana-Suriname, Syaikhul Ashghor Juman Rofarif Hafidzahullah. Disahihkan oleh Abu Jarjit al-Punjabi Syekh Noval Kun Maliki Alpukaty)


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

informasi A1 dari salah satu perwira intelije

 
Saya juga dapat informasi A1 dari salah satu perwira intelijen kalau besok anasir anasir jahat dari Planet Namec mulai berdatangan dan sudah mempersiapkan diri di salah satu rumah mewah di Gang Potlot. Mereka bakal menyiapkan suasana chaos apabila jagonya kalah suara. Setidaknya nggak kalah suara dari suaranya Ridho Rhoma, apalagi Nassar.
Informasi A1 ini juga menyebutkan apabila rombongan Planet Namec ini sudah menyergap Kakek Kura Kura alias Kamesenin di Pulau Pramuka. Mereka menyandera beliau agar ditukar dengan celana dalam motif kotak kotak milik Kuririn. Meskipun Sun Go Ku sudah tahu kabar ini tapi hingga informasi ini saya dapat melalui klik saya di BIN tersebut, Go Ku malah terlihat santai. Dia malah mimpin Hadroh dan latihan tari saman di Masjid KH. Hasyim Asyari Daan Mogot yang baru diresmikan.
Sedangkan Son Go Han bin Son Go Ku malah no comment terkait kabar mengagetkan ini. Kemarin saya lihat dia malah mijitin kaki KH. Fahrurrozi Ishaq alias Bang Oji. Saya yakin Go Han sudah mendengar kabar rahasia ini. Tapi mungkin dia masih belum yakin apabila para penculik itu dipimpin musuh bebuyutan keluarganya: Ten Sinhan, Picvolo, Vegeta, Cell, Mujin Buu, hingga Frieza (bukan Firza loh!).
Jadi, tetap waspada saja dengan pasukan khusus dari Planet Namec ini. Berdasarkan informasi A1 yang dihumpun Joint Task Force BIN, MI6, Mossad, CIA, BMX, BCA, BTN, BRI dan Basurik (Barisan Asu lan Kirik) potensi chaotik Jakarta nyaris menyamai bentrokan antara jomblo dan para pembully-nya.
WAllahul Musta'an


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Indonesia ini negara gugat menggugat, ada yang menggugat kartini

 
Indonesia ini negara gugat menggugat. Dari gugat cerai selebritis, gugat pilkada-pilpres, gugat pencemaran nama baik, dan gugat-menggugat lain. Mungkin itu tulah turun temurun karena Bung Karno pernah menulis pledoi "Indonesia Menggugat" tahun 1930-an awal. Hehehe.
Karena gugat menggugat ini sudah jadi trend, maka apapun yang bisa digugat ya bakal digugat, entah itu serius atau sekadar iseng. Di salah satu sudut, ada gugatan tentang keabsahan peringatan maulid Nabi hingga tahlilan, ada juga gugatan sejarah yang menghasilkan kesimpulan Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman, ada juga gugatan La Nyalla Mattaliti atas Menpora yang dianggap zalim. Jika belum cukup ada juga gugatan kelayakan Kartini sebagai pahlawan nasional. Iseng ataupun serius, nggak penting, lebih penting gaya menggugat.
Nah, yang terakhir ini saya baca di hidayatullah.co.... Intinya menggugat keabsahan Kartini sebagai pahlawan nasional. Pokok perkaranya: masih banyak pahlawan perempuan yang lebih heroik di bandingkan Kartini yang "cuma" curhat ala ABG. Curhatnya ke bule kafir, lagi. Lihatlah perlawanan Tjoet Njak Dhien dan pahlawan perempuan lain yang lebih heroik dan berdarah-darah. Ini kata penulis artikel itu, lho. Kartini lalu dihadap-hadapkan pada kiprah perempuan lain yang telah memainkan fase perjuangan kebangsaan. Intinya, banyak yang lebih jos dibanding anak bangsawan yang gemulai itu. Saya sih nggak tahu apa penulisnya sudah pernah membaca kumpulan surat Kartini ke Abendanon yang--bagi saya--lebih dari sekadar curhat.
Membaca Kartini, bagi saya, bukan sekadar membaca kumpulan surat layaknya kita membaca sms atau pesan berantai di blackberry. Surat yang ditulis di atas kertas adalah gambaran keseriusan, pantulan watak, dan magma gagasan. Lebih dari itu, surat adalah ranah pribadi di mana hanya orang tertentu yang kita percayai untuk membacanya. Nah, Kartini hadir di saat Politik Etis masih menjadi embrio. Ia ada di zaman tatkala inlander--apalagi cewek--dianggap sebagai separuh manusia. Ia lahir di zaman ketika bangsawan Jawa harus menyusu kebijakan pada bule totok. Ia gelisah di saat perempuan (dan laki-laki, tentu saja) tak punya akses pendidikan. Dan, kelebihan Kartini ada pada semangatnya mencatat ide dan keinginannya via surat dan kemauannya menjelajahi segenap ilmu pengetahuan dan keikhlasannya dipoligami [^_^]…
Membaca Kartini secara utuh saya kira lebih manusiawi daripada sekadar membadingkannya dengan perempuan pahlawan lainnya. Apalagi tiba-tiba membandingkannya dengan Sayyidah Khadijah al-Kubra, Sayyidah Aisyah, dan Sayyidah Fathimah Az-Zahra, sekaligus meredahkan Kartini. Ya, itu sama halnya kita secara acak membandingkan Pele dengan Bung Karno, Maradona dengan Rudi Hartono, Mike Tyson dengan Zainuddin MZ, maupun Pramoedya Ananta Toer dengan Nelson Mandela. Mengapa kurang tepat? Karena masing-masing hidup di zamannya, punya dinamika yang berbeda, dan mereka (di)hadir(kan) dengan kiprahnya masing-masing.
Jadi, tenang saja, soal gugat menggugat, lagi-lagi kita nggak perlu takut kekurangan stok penggugat. Kalaupun ada gugatan atas status Kartini-an ini, ya saya jawab: Kartini wafat di usia muda, 25 tahun, andaikata Allah memanjangkan usianya, bukan tidak mungkin jika ia berhasil melaksanakan cita-cita yang terpendam dalam surat-suratnya, dan membawa perubahan besar pada dasawarsa berikutnya.
WAllahu A'lam
220415


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Usai Pilkada DKI fesbuk mulai adem

Usai Pilkada DKI fesbuk mulai adem. Jika ada orang yang masih pengen bertengkar dengan topik lain, saya kira itu sudah watak bawaan alias gawan bayi. Selebihnya kemungkinan dia tidak bahagia di dunia nyata, atau dirundung banyak masalah, dan terbawa ke dunia maya.
Be'e lho yo....


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Prediksi Pipres 2019

 
InsyaAllah, tuduh menuduh "antek" ini-itu, dan berbagai macam fitnah mulai memanas awal Januari 2018, menjelang pilgub, lalu akan berlanjut hingga pilpres 2019. Silahkan ditentukan ayat al-Qur'an untuk mendukung cagub-cawagub kalian juga potongan ayat yang dipakai untuk menghantam lawan yang tidak kalian sukai.
Sampai jumpa lagi di ajang tuduh menuduh, musim fitnah, & ajang pertarungan para buzzer politik, beberapa bulan mendatang. Selamat menikmati kebosanan membaca linimasa fesbuk.


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Saya sudah menulis beberapa poin mengenai pesantren kuno--yang didirikan sebelum 1945, bahkan sebelum 1900--

 
Saya sudah menulis beberapa poin mengenai pesantren kuno--yang didirikan sebelum 1945, bahkan sebelum 1900--yang lokasinya selalu berdekatan, maksimal dalam radius 2 km, dengan stasiun kereta api dan pabrik gula. Mungkin sahabat-sahabat fasbuk bisa ngasih tambahan data melalui kolom komentar status saya ini seputar pesantren, stasiun kecil kereta api, maupun pabrik gula, di daerahnya masing-masing.
Misalnya, Pesantren Tebuireng dekat dengan Pabrik Gula Tjoekir, Denanyar dengan PG Djombang Baru, dll. Di Ponpes Siwalanpanji, Sidoarjo, lokasinya sangat dekat dengan stasiun kecil. Sedangkan pesantren legendaris Gebang Tinatar Tegalsari, Ponorogo, lokasinya tak jauh dari Stasiun Jetis yang sudah roboh.
Monggo....matursuwun (ini belum membahas mengenai relasi harmonis pesantren kuno dan sungai).


ditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan