pengolah isu secara independen

Posted in 1.11.16
by Imtiyaz

Di era media sosial kayak sekarang, semua orang bisa menjadi penyampai berita dan pengolah isu secara independen. Via sms, WA, fesbuk, twitter, instagram, dan media lainnya. Tabayyun nomor kesekian, yang penting bisa menshare sebuah berita, mengkopipaste sebuah isu, maupun mengkloning sebuah fitnah. Mungkin karena ingin diakui eksis medsos, tercepat dalam mendengar berita, maupun jaminan status sebagai penyampai kabar independen yang membuat sebuah kabar bergulir cepat.
Bahkan isu lawas yang saya jumpai sejak MI, yakni mengenai peringatan dari juru kunci makam Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam soal akhir zaman, maka diperintahkan membaca ini-itu sekian kali, diminta lagi menyebarkan kabar ini ke minimal 10 nomor hape dengan ancaman bakal mendapatkan azab manakala mengabaikan peringatan "penting" tersebut. Sejujurnya hal ini telah saya jumpai saat MI dulu. Bedanya kabar gaib via mimpi dari juru kunci makam Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ini dulu berbentuk SELEMBAR KERTAS fotokopian dengan ancaman celaka bagi siapapun yang enggan memfotokopi dan menyebarkan kertas tersebut. Jika anda pernah membaca selebaran begitu, beberapa tahun silam, berarti masa kecil kita sama. Hahahahaha...
Lucunya lagi, ternyata "kabar gaib" dari jurukunci makam Rasulullah yang bernama Syekh..... (nggak ingat lagi namanya) ini sudah menjadi modus sejak tahun 1920-an! Saat itu bentuknya semacam pamflet yang disebar secara acak baik ditempel maupun disebar dari tangan ke tangan. Wow, ini berarti ada semacam reproduksi isu yang terus dibikin, entah dengan tujuan apa. Kabar yang nggak jelas validitasnya ini lalu direproduksi beberapa periode berikutnya setelah kabar awal muncul, dan saya menjumpainya di ruangan kelas saya saat kelas 3 MI dulu. Mungkin awalnya memang benar, tapi karena sudah berbeda ruang dan waktu, maka kabar ini menjadi basi dan ada orang iseng yang mereproduksinya lagi, entah dengan tujuan apa.
Nah, kini via WA dan fesbuk orang bisa bebas menjadi perawi tunggal tanpa kroscek kebenarannya. Di fesbuk, saya pernah menjumpai sahabat yang dengan atraktif menshare ulang kabar yang dia terima via WA: bahwa di sebelah desanya ditemukan anak kecil yang diculik lalu dimutilasi. Saya membaca kabar ini miris, tapi lebih semriwing lagi melihat komentar di bawahnya yang mengiyakan kabar mengerikan ini dengan bumbu kebohongannya: sang komentator melihat betul jenazah anak yang dimutilasi ini. Lalu keduanya adu kebohongan berikut bumbu-bumbunya biar sedap. Saya nyerobot obrolan, "Mas, kalau benar kabar mengerikan ini, kok tidak ada di tv dan koran? Mustahil sebuah peristiwa mengerikan yang luput dari pantauan berita."
"Kalau nggak percaya ya sudah."
"Saya minta nama desanya dong, saya mau kesitu, boleh? Soalnya ada yang janggal. Saya terima kabar yang njenengan share ini dari beberapa broadcast yang anehnya nama desa tempat kejadian dan kabupatennya berbeda. Ini kan aneh...."
Bagaimana reaksi kedua orang ini? Memblokir saya. Dah!
Dan terbukti ini kabar hoax yang tersebar entah dengan motif apa.
Saya sangat rewel menerima informasi dan kabar berita. Sebab, dulu dengan emosional pernah saya share kabar apabila Saudi Arabia bakal memindah makam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tapi akhirnya saya tahu ini kabar kibulan. Oleh karena itu, setelah kejadian ini, saya minum ramuan Tong Fang....eh, maaf, setelah kejadian itu saya berusaha benar-benar memastikan validitasnya sebelum mengabarkannya, apalagi via sms/wa/fesbuk. Dulu pernah saya tulis di status, kalau saya terima info, bisa 2-3 kali saya kroscek, namun kalau ada simpatisan maupun kader PKS memberi kabar maupun share berita, saya bisa LIMA sampai TUJUH kali kroscek dengan komparasi berita berikut melacak riwayat perawi. Mengapa? Karena saking seringnya mereka nyebar kabar bohong dan nyerempet vietkong, eh fitnah.
Setiap berita rentan diselewengkan, setiap isu juga rawan ditunggangi, dan setiap niat baik juga rawan dibelokkan. Pada hari-hari ini, tensi politik naik, jaga tensi darah dan cek kolesterol, wahai sahabat Kiswinar yang super. Lebih penting lagi, tetaplah jernih memandang persoalan dan cermat melihat akar permasalahan yang terjadi di sekitar kita.
Sambas & Sampit rusuh, Ambon bergolak, Poso berdarah, antara lain, diawali dengan kabar dan isu yang tak jelas validitasnya lalu disebarluaskan dengan amarah dan tergesa-gesa. Akhirnya menang jadi arang kalah jadi abu. Tapi bukan Abu Bakar Baasyir, apalagi Abu Jibril.
Itu!
LikeShow more reactions
CoPosted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

Read more

Menghormati Demo 4 November 2016

Posted in
by Imtiyaz

Saya menghormati teman-teman yang mau demo tanggal 4 Nopember 2016 besok. Demo itu bagian dari hak warga negara. Bebas saja dengan berbagai tuntutannya. Tapi kalau demo ini sudah diarahkan pada aksi bunuh-membunuh, ke arah eksekusi Ahok yang dianggap menista al-Qur'an, ini sudah lain wilayahnya. Istilahnya mengatasi masalah dengan memicu masalah baru yang lebih rumit.
Saya nggak bela Ahok (apalagi dia belum sunat wkwkw), tapi cuma mikir apakah stabilitas negara ini dipertaruhkan cuma gara-gara Ahok. Sebagai penggemar spongebob yang belajar dari stabilitas negeri bawah laut Bikini Bottom, saya melihat apabila aksi-aksi teatrikal bunuh Ahok dalam aksi demo beberapa hari silam mulai memikat pikiran sebagian orang. Silahkan bunuh Ahok, kalau mau, tapi ya siapkan konsekwensi dipenjara lalu dieksekusi di hadapan regu tembak. Kalau masih pede ini wilayah jihad, ya monggo, tapi mbok ya mikir aksi semacam ini tidak menutup kemungkinan menimbulkan aksi balasan di luar Jawa. Islam memang mayoritas di Jawa, tapi di wilayah lain, kaum muslim menjadi minoritas juga. Kalian menyembelih orang di sini, saudara-saudara muslim kita juga terancam dicincang juga di bagian wilayah minoritas muslim. Berlebihankah? Tidak, tuanku. Setiap agama memiliki pengikut yang taat, sekaligus juga menyimpan pengikut sinting yang nekat bertindak tanpa kejernihan akal dan tanpa pertimbangan jangka panjang.
Kembali ke soal demo 4 Nopember. Semoga demo ini nggak anarkis dan nggak disertai ancaman pembunuhan dan provokasi penggal kepala (meskipun tahu sendirilah kalau di A jadi orator segala macam umpatan dan ancaman ini itu bakal meluncur dari bibirnya). Saya ngeri membayangkan masa depan Indonesia. Apakah ini berlebihan, wahai sahabat Kisniwar Teguh yang zuper? Tidak! Demontrasi bisa melahirkan kebaikan tapi lebih sering ditunggangi kebatilan. Sahabat Utsman bin Affan radliyallahu 'anhu, gugur akibat ulah demonstran yang mengepung kediamannya, lalu menyusupkan eksekutor dan merajam tubuh menantu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersebut dengan pedang. Sebaliknya, rezim Umayyah awal menindas kaum demonstran atas nama stabilitas politik bahkan menyerbu kakbah dan menistakan jenazah Abdullah bin Zubair radliyallahu 'anhuma.
Perang saudara Suriah diawali dari demo sekelompok pelajar, lalu ditunggangi sekelompok oposisi, berkembang menjadi runyam saat bumbu agama dan saos sektarian ditambahkan dan semakin ruwet saat orang-orang non Suriah ikut campur. Apa kabar rakyat sipil? 4 juta lebih terlunta-luna di negara tetangga. Sebagian mengungsi ke Eropa. Bagaimana kondisi mereka sekarang? Tambah sengsara karena Perancis bakal menutup Camp Calais dan Uni Eropa membatasi jumlah pencari suaka di negaranya. Nggak usah rewel menyalahkan negara kafir ini, sebaiknya kita introspeksi karena yang berulah di Suriah, Irak, Afganistan, & Libya juga sesama muslim dan korbannya mayoritas muslim juga.
Silahkan bagi yang mau demo. Itu hak. Tapi--sebagaimana pesan di pamflet ajakan demo--- jangan lupa nulis surat wasiat & bawa bekal sendiri. Saya tambahkan satu poin lagi: bayar dulu utangmu sebelum berangkat (hahaha). Dalam hal ini saya nderek Rais Am Syuriah PBNU, KH. Ma'ruf Amin, agar menghormati proses hukum (terhadap Ahok) yang sedang berjalan. Termasuk pula anjuran tidak ikut demonstrasi tanggal 4 Nopember besok.
Akhirnya, saya masih ingat saat seorang santri yang menetap dan berdakwah di wilayah non-muslim urun rembug dalam sebuah komentar status, "Mas mas itu mbok ya nggak usah arogan ancam bunuh kafir, bakar ini itu, sebab kami juga deg-degan sebagai minoritas di wilayah non muslim ini. Kalau masing-masing pihak bertindak di luar kontrol akhirnya malah perang saudara. Di Timur Tengah, saudara-saudara muslim kita ingin menikmati kerukunan dan kedamaian, eh di sini malah ingin perang. Ini yang goblok siapa sih?"
WAllahu A'lam BisshawabPosted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

Read more

Gus Dur, Rumah Dengan Seribu Pintu

Posted in
by Imtiyaz

Gus Dur, bagi saya, adalah sebuah rumah dengan seribu pintu. Tergantung darimana dan bagaimana kita masuk. Kalau "memasuki" pemahaman tentang Gus Dur melalui pemahaman Bapak Riziq Shihab dan Papa Hartono Ahmad Jaiz, jelas Gus Dur sesat menyesatkan. Buta mata, buta hati. Kalau "memasuki" pemahaman tentang Gus Dur melalui pemahaman kelompok JIL, Gus Dur tampak sembrono dalam beragama. Lalu bagaimana saya masuk, melalui pintu pemahaman siapa? Pakde dan bapak saya (allahummarhamhuma). Sesederhana itu.
Pakde saya, KH. Nurul Huda Syafawi, mulai memperkenalkan saya dengan sosok Gus Dur melalui foto jajaran pengurus PBNU hasil 1994 di kalender NU. Saat itu di kalender dengan format sederhana ala kalender Menara Kudus, Gus Dur tampak tambun dengan baju batik yang kekecilan, kopiah hitam yang menyesaki kepalanya, serta kacamata tebalnya. Saya tanya, "Kenapa kok kacamatanya Gus Dur aneh begitu?"
"Itu karena kebanyakan baca buku. Gus Dur adalah cucu Kiai Hasyim Asy'ari dan cucu guruku, Kiai Bisri Syansuri. Gus Dur seorang pembelajar yang baik dan rendah hati."
Ini adalah penjelasan ringkas pakde saya yang mulai merembesi alam bawah sadar. Gus Dur kemudian mulai merajah ingatan saya dengan penampilannya yang unik dan sangat sederhana dalam berbagai edisi majalah AULA dan tabloid Warta.
***
Saya harus mencuci kaki, lalu melepas sandal terlebih dulu, kemudian duduk menundukkan kepala, bersila di depan pintu Gus Dur. Lanjut dengan membuka karyanya yang paling enak dibaca dan perlu, "Kiai Nyentrik Membela Pemerintah" (Yogyakarta: LKiS, 2000). Ini buku tipis berisi esai ringan Gus Dur mengenai para ulama. Total ada 26 esai yang membahas para ulama yang berkesan dan bernilai lebih di mata Gus Dur: Kiai Muchit Muzadi, Kiai Wahab Sulang Rembang, Kiai Adlan Ali Jombang, Kiai Sahal Mahfudz, Muallim Abdullah Syafii, hingga Gus Miek. Tak lupa fenomena ulama ibukota dan bagaimana mereka harus melakukan penyesuaian dakwah di antara kultur hedonisme Jakarta (dalam kumpulan kolom ''Melawan Melalui Lelucon'', Gus Dur menulis kolom berjudul “Kwitang, Kwitang” yang berangkat dari fenomena teriakan sopir angkot yang menawarkan rute ke Kwitang, sentral pengajian di Jakarta sejak era Habib Ali al-Habsyi, yang juga guru KH. A. Wahid Hasyim, ayahanda Gus Dur).
Melalui berbagai ulasan yang disajikan dengan enak dan sedikit anekdotis, Gus Dur menunjukkan puluhan sumur hikmah yang tak pernah kering ditimba. Sumur kearifan Nusantara yang menjadi sumber inspirasi bagi siapapun yang mau datang dengan kerendahan hati. Bagi saya, ini adalah sebuah fenomena unik, di mana pada saat berbagai tulisan mengenai ulama ini dibuat, era 1980-an hingga awal 1990-an, saat itu Gus Dur juga berkutat dengan teori-teori Barat melalui berbagai artikelnya di Prisma.
Jika dicermati, Gus Dur memposisikan diri sebagai seorang santri yang mengulas berbagai perilaku, pemikiran, & tindakan mereka yang beliau anggap sebagai guru. Saat menulis sosok Kiai Sahal Mahfudz, melalui "Kiai Pencari Mutiara", Gus Dur mengawalinya dengan anekdotis lalu mengakhirinya dengan sebuah kesimpulan singkat atas jalan fiqh (sosial) Kiai Sahal, sekaligus menyampaikan kekagumannya kepada KH. Abdullah Salam, pamanda Kiai Sahal. Ada pula Kiai Iskandar, bersekolah di lembaga Muhammadiyah, lalu mondok di Lirboyo, dan sepulang dari mondok dia harus mengemong dua kubu di desanya, kelompok santri dan abangan, lalu dengan "tanpa sengaja" Kiai Iskandar membuat sebuah terobosan yang membuat kaum abangan sangat menghormatinya.
Tak lupa, ada rasionalisasi Kiai Hasbullah Salim, kiai asli Sedan-Rembang yang kemudian tinggal di Denanyar-Jombang dan berpindah ke desa Rejosari, yang berdampingan dengan desa Gadingmangu, basis Darul Hadits (LDII), anak buah Ubaidah. Kiai Hasbullah yang keras harus mengghadapi perdebatan furuiyah melawan dai Darul Hadits. Kiai Hasbullah yang dinyatakan "menang" oleh masyarakat kemudian membuat sebuah traktat khusus dengan lawannya: pengikut Ubaidah tidak diapa-apakan, asal mereka tidak tabligh di desa lain dan sekitarnya, serta tidak membeli tanah di desa Rejosari.
Bagi Gus Dur, Kiai Hasbullah yang lugas bersikap menyimpan kearifannya tersendiri. Pertentangan pendapat tidak semuanya (bisa) diselesaikan, dan lebih-lebih tidak akan terselesaikan dengan melarang begini atau begitu. Adakalanya toleransi lebih memberikan hasil, sebagai upaya menahan perluasan pengaruh lawan, demikian tulis Gus Dur dalam "Kiai Hasbullah dan Musuhnya". Apakah Gus Dur juga mengadopsi kearifan Kiai Hasbullah dalam beberapa kasus yang berkaitan dengan aliran "sesat", sebagaimana yang beliau tulis menyikapi pilihan Kiai Hasbullah saat berhadapan dengan kubu lawannya? Wallahu a'lam.
Dalam "Tokoh Kiai Syukri", Gus Dur mengisahkan sosok Kiai Syukri, asal wilayah selatan Jawa Tengah, yang dihormati kalangan NU dan Muhammadiyah karena sikapnya yang santai dan tenang dalam melihat akar persoalan. Gus Dur menyebut Kiai Syukri sering mencari apa yang terbaik untuk manusia dengan jalan yang manusiawi pula.
Tak lupa, dengan kekagumannya, Gus Dur menulis sosok Kiai Mas'ud, dari Kawunganten, Purwokerto, yang gigih melacak naskah-naskah karya ulama Nusantara yang masih berbentuk makhtutat/manuskrip. Kiai Mas'ud memburu karangan Kiai Ihsan Jampes, Manahijul Imdad, ke berbagai daerah hingga akhirnya dia menemukan naskah ini di tangan santri Kiai Ihsan Jampes, yang tinggal di Pecangakan Bojonegoro. "Kegilaan yang mengesankan: perburuan yang mengagumkan dari seorang kiai yang amat dalam pengetahuan agamanya, tetapi tenggelam dalam keasyikan yang tidak disadarinya memiliki arti penting bagi pengetahuan keislaman di negeri ini." tulis Gus Dur dalam "Syekh Mas'ud Memburu Kitab".
Berbagai kisah mengagumkan seputar orang-orang dari pesantren ini mengingatkan kita pada "Guruku Orang-Orang dari Pesantren", sebuah memoar KH. Saifuddin Zuhri. Hanya Gus Dur menulisnya sepenggal-penggal dalam sebuah kolom yang, uniknya dimuat di Majalah TEMPO dan Harian KOMPAS, sepasang corong sekularisme, bagi sebagian orang. Beliau memperlakukan tokoh-tokoh dalam kumpulan kisah singkat ini dengan hangat dan hormat, sehangat para novelis memperlakukan tokoh-tokohnya. Lagipula, karena ditulis oleh orang yang sejak kecil dididik dalam kultur pesantren, tak bakal kita menemukan distorsi di dalamnya, meskipun di sisi lain kita juga menemukan pandangan kritis Gus Dur atas setiap sosok yang dia bahas.
Sebagai seorang tokoh, Gus Dur memang beberapa kali mengeluarkan statemen kontroversial via lisan--apalagi jiwa wartawannya memelintir statemennya, tambah runyam-- tapi sejauh yang saya pahami nyaris tidak ditemui statemen kontroversial di berbagai tulisan beliau, kecuali memang sejak awal kita mencari-cari kesalahannya. Sebagai seorang cendekiawan, Gus Dur tampil bijak melalui kalimat-kalimatnya yang jernih dan lugas. Belum pernah saya menemukan tulisan Gus Dur yang mengobral laknat, caci maki, hingga pengkafiran mereka yang berbeda dengannya. Dalam menyanggah pendapat orang lain-pun, melalui tulisan, Gus Dur lebih elegan dan dewasa.
Ini di antara salah satu alasan saya menghormati dan mencintai Gus Dur.
Lahul fatihah....Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

Read more

Berita Rancu Social Media

Posted in 25.10.16
by Imtiyaz

Di era media sosial kayak sekarang, semua orang bisa menjadi penyampai berita dan pengolah isu secara independen. Via sms, WA, fesbuk, twitter, instagram, dan media lainnya. Tabayyun nomor kesekian, yang penting bisa menshare sebuah berita, mengkopipaste sebuah isu, maupun mengkloning sebuah fitnah. Mungkin karena ingin diakui eksis medsos, tercepat dalam mendengar berita, maupun jaminan status sebagai penyampai kabar independen yang membuat sebuah kabar bergulir cepat.

Bahkan isu lawas yang saya jumpai sejak MI, yakni mengenai peringatan dari juru kunci makam Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam soal akhir zaman, maka diperintahkan membaca ini-itu sekian kali, diminta lagi menyebarkan kabar ini ke minimal 10 nomor hape dengan ancaman bakal mendapatkan azab manakala mengabaikan peringatan "penting" tersebut. Sejujurnya hal ini telah saya jumpai saat MI dulu. Bedanya kabar gaib via mimpi dari juru kunci makam Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ini dulu berbentuk SELEMBAR KERTAS fotokopian dengan ancaman celaka bagi siapapun yang enggan memfotokopi dan menyebarkan kertas tersebut. Jika anda pernah membaca selebaran begitu, beberapa tahun silam, berarti masa kecil kita sama. Hahahahaha...

Lucunya lagi, ternyata "kabar gaib" dari jurukunci makam Rasulullah yang bernama Syekh..... (nggak ingat lagi namanya) ini sudah menjadi modus sejak tahun 1920-an! Saat itu bentuknya semacam pamflet yang disebar secara acak baik ditempel maupun disebar dari tangan ke tangan. Wow, ini berarti ada semacam reproduksi isu yang terus dibikin, entah dengan tujuan apa. Kabar yang nggak jelas validitasnya ini lalu direproduksi beberapa periode berikutnya setelah kabar awal muncul, dan saya menjumpainya di ruangan kelas saya saat kelas 3 MI dulu. Mungkin awalnya memang benar, tapi karena sudah berbeda ruang dan waktu, maka kabar ini menjadi basi dan ada orang iseng yang mereproduksinya lagi, entah dengan tujuan apa.

Nah, kini via WA dan fesbuk orang bisa bebas menjadi perawi tunggal tanpa kroscek kebenarannya. Di fesbuk, saya pernah menjumpai sahabat yang dengan atraktif menshare ulang kabar yang dia terima via WA: bahwa di sebelah desanya ditemukan anak kecil yang diculik lalu dimutilasi. Saya membaca kabar ini miris, tapi lebih semriwing lagi melihat komentar di bawahnya yang mengiyakan kabar mengerikan ini dengan bumbu kebohongannya: sang komentator melihat betul jenazah anak yang dimutilasi ini. Lalu keduanya adu kebohongan berikut bumbu-bumbunya biar sedap. Saya nyerobot obrolan, "Mas, kalau benar kabar mengerikan ini, kok tidak ada di tv dan koran? Mustahil sebuah peristiwa mengerikan yang luput dari pantauan berita."
"Kalau nggak percaya ya sudah."
"Saya minta nama desanya dong, saya mau kesitu, boleh? Soalnya ada yang janggal. Saya terima kabar yang njenengan share ini dari beberapa broadcast yang anehnya nama desa tempat kejadian dan kabupatennya berbeda. Ini kan aneh...."
Bagaimana reaksi kedua orang ini? Memblokir saya. Dah!
Dan terbukti ini kabar hoax yang tersebar entah dengan motif apa.

Saya sangat rewel menerima informasi dan kabar berita. Sebab, dulu dengan emosional pernah saya share kabar apabila Saudi Arabia bakal memindah makam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tapi akhirnya saya tahu ini kabar kibulan. Oleh karena itu, setelah kejadian ini, saya minum ramuan Tong Fang....eh, maaf, setelah kejadian itu saya berusaha benar-benar memastikan validitasnya sebelum mengabarkannya, apalagi via sms/wa/fesbuk. Dulu pernah saya tulis di status, kalau saya terima info, bisa 2-3 kali saya kroscek, namun kalau ada simpatisan maupun kader PKS memberi kabar maupun share berita, saya bisa LIMA sampai TUJUH kali kroscek dengan komparasi berita berikut melacak riwayat perawi. Mengapa? Karena saking seringnya mereka nyebar kabar bohong dan nyerempet vietkong, eh fitnah.

Setiap berita rentan diselewengkan, setiap isu juga rawan ditunggangi, dan setiap niat baik juga rawan dibelokkan. Pada hari-hari ini, tensi politik naik, jaga tensi darah dan cek kolesterol, wahai sahabat Kiswinar yang super. Lebih penting lagi, tetaplah jernih memandang persoalan dan cermat melihat akar permasalahan yang terjadi di sekitar kita.

Sambas & Sampit rusuh, Ambon bergolak, Poso berdarah, antara lain, diawali dengan kabar dan isu yang tak jelas validitasnya lalu disebarluaskan dengan amarah dan tergesa-gesa. Akhirnya menang jadi arang kalah jadi abu. Tapi bukan Abu Bakar Baasyir, apalagi Abu Jibril.

Itu!Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

Read more

Dhiya al Haddad & Rafli Jerman Dalwa English Club Short Expression (4)

Posted in 24.10.16
by Imtiyaz



Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/Penerbit Buku Buku Islam

Read more

Tentang "Mantan"

Posted in 10.7.16
by Imtiyaz

"Mantan" itu punya sinonim "eks" atau "bekas". Dalam wilayah asmara, katanya, menghapus ingatan soal mantan itu sama sulitnya dengan memahamkan anak-anak era 90-an bahwa huruf "N" dalam bungkus permen karet YOSAN hanyalah impian semu.

Dalam wilayah ideologis, "mantan" itu punya nilai lebih. John Perkins, mantan bandit yang mengulas keculasan dan kerakusan neoliberalisme, melalui "Confession of An Economic Hitman", banyak dipercayai benar-benar tobat dari masa lalunya meski kenyataannya juga embuh.

Di wilayah lain ada Bu Irene Handono, mantan biarawati (beneran nih?), yang isinya juga mengkritisi agama yang dia peluk di masa lampau. Termasuk soal teori konspirasi versi beliau. Ada juga Pak Felix Siaw, yang andaikata tetap di agama masa lalunya niscaya dia senantiasa diteriaki dan dibully berdasarkan etnisnya, ya kayak Ahok lah. Hahaha.

Ada juga Ustadz Mahrus Ali. "Mantan Kiai NU" yang tekstur wajahnya mirip om Jonru (ada yang bilang orang ini mantan Kristen HKBP) dan kebetulan juga sama-sama menyebalkan. Ada juga mantan LDII yang laris manis ditanggap pengajian. Isinya curhat soal penyimpangan LDII. Mantan Ahmadiyah juga laris ditanggap dari majelis ke majelis. Dari sini sudah kelihatan kalau "mantan" itu mengandung daya magnetik, kan?

Mantan pendeta Hindu? Ada. Nama muslimnya Abdul Aziz. Benar nggaknya dia sebagai mantan pendeta, saya juga nggak tahu kebenarannya. Kabarnya dia sering diundang di acara pengajian yang isinya semacam membongkar ajaran Hindu. Beberapa kali juga menyamakan amaliah Nahdliyyin dengan agama Hindu, meski kemudian pengakuannya ini diluruskan oleh pendeta Hindu yang masih loyal pada agamanya.
Di wilayah lain juga ada. Mantan muslim yang jadi pendeta. Mantan katolik yang menyeberang ke ordo Saksi Jehova yang nekat dan norak itu dan para mantan yang telah berkonversi ke ajaran lainnya. Dari alasan ideologis hingga ekonomis semua bisa kita temui.

Herannya, soal "mantan" itu pada akhirnya menjadi semacam penanda "kemenangan" atas yang lain. Ketika penganut Protestan masuk Islam niscaya banyak diapresiasi. Demikian juga sebaliknya. Kaum murtadin juga banyak ditanggap dari seminar ke seminar. Ada yang hanya curhat soal pergulatan batin hingga menemukan "kebenaran", ada juga yang menjelek-jelekkan agama lawasnya. Macam-macam lah.

Yang lebih simpatik bisa kita temukan dalam "Dari Subuh hingga Malam: Perjalanan Seorang Putra Minang Mencari Jalan Kebenaran" karya Abdul Wadud Karim Amrullah, adik Buya Hamka yang berpindah agama dan menjadi pendeta di AS. Saya nggak baca tuntas buku ini karena hanya membaca sambil lalu di salah satu toko buku di Ponorogo. Setahu saya buku ini tidak membahas gelegar perbedaan asasi Kristen dan Islam, tapi lebih banyak pada perjalanan hidup putra Minangkabau itu, termasuk keputusannya berpindah agama. Lucunya, buku otobiografi pendeta ini ditempatkan di rak "agama Islam" di toko buku ini. Mungkin pengelolanya hanya membaca nama penulisnya yang "islami".

Kalau yang agak elegan bisa kita temukan dalam buku karya Prof. Jeffrey Lang, "Aku Beriman, Maka Aku Bertanya". Lang adalah Guru Besar Matematika di Universitas Kansas, Lawrence, Amerika Serikat, yang menjadi muallaf setelah sekian lama mengajukan pertanyaan-gugatan kritis dalam teologi dan berbagai aspek hingga pada akhirnya dia mendapatkan hidayah.

Kapten James "Yusuf" Yee juga menulis "For God and Country". Buku bagus yang edisi Indonesianya dicetak dengan luks ini berkisah awalmula dirinya sebagai warga AS keturunan Tionghoa, masuk West Point--akademi militer bergengsi di AS, ditugaskan di Suriah, kemudian memeluk Islam. Setelah itu dia menghadapi berbagai masalah saat ditugaskan di Guantanamo dan harus mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari sesama rekan tentaranya, karena Yee--sebagai perwira AS--justru memperlakukan tahanan dengan baik. Yee memang tidak berkisah panjang lebar soal awal mula ketertarikannya dengan Islam, tapi cukup memadai untuk menggambarkan pergulatan batinnya hingga sampai pada hidayah.

Bagi saya, setelah nulis ngalor ngidul di atas, hidayah itu istimewa dan keimanan itu sangat esensial. Sebab pergulatan batin dan perjalanan menggapai hidayah itu seringkali menjadikan seseorang lebih dewasa bersikap dan bahkan lebih mendalam menjalankan ajaran agama barunya. Kalaupun ada yang masih emosional, sensitif, kemudian menjual "kejelekan" agama lawas maupun ideologi lamanya ya anggap saja masih belum move on dan masih terbayang-bayang masa lalu. Bukankah ini "wilayah mantan" yang manusiawi dan bisa diolah dengan nilai jual ekonomi(s)?

Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

Read more

Gaya Gus Dur Mendamaikan Kepala Negara yang Berdebat

Posted in 7.7.16
by Imtiyaz

Gaya Gus Dur Mendamaikan Kepala Negara yang Berdebat
----
Para pemimpin sejumlah “negara Islam paling berpengaruh” bertemu di Doha, Qatar, 2001. Diantara mereka adalah Presiden Abdurrahman Wahid dari Republik Indonesia. Mereka bersepakat untuk mengalang pertemuan rutin diantara mereka secara berkala demi meningkatkan kerja sama multilateral dan membicarakan berbagai permasalahan yang melanda dunia Islam pada umumnya.
Telah mereka sepakati pula bahwa pertemuan berikutnya akan diselenggarakan di Jeddah, Arab Saudi. Hanya saja, masih ada perdebatan antara Pangeran Abdullah dari Arab Saudi dan Presiden Pervez Musharaf dari Pakistan. Pangeran Abdullah menganggap cukup pertemuan Jeddah yang akan datang itu disepakati saja tanpa harus disebut secara eksplisit dalam deklarasi yang akan mereka umumkan. Pervez Musharaf ngotot agar hal itu disebut, untuk “menjamin komitmen semua pihak”. Keduanya berdebat begitu sengit sehingga Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, Raja Qatar yang memimpin pertemuan mengalami kesulitan untuk menengahi.

Akhirnya, Presiden Abdurrahman Wahid angkat bicara.
“Ini soal bungkus dan isi”, kata Presiden, “Deklarasi itu bungkus, komitmen kitalah isinya. Marilah kita semua lebih mengedepankan isi. Karena isi itu biasanya lebih penting daripada bungkusnya. Contohnya: BH!”
Semua orang tertawa tergelak-gelak. Sheikh Hamad yang sedang iseng meremas-remas kertas sampai tak sadar melempar kertas itu ke arah Presiden. Lalu buru-buru berdiri, menghampiri Presiden, minta maaf berluang-ulang sambil mengelus-elus pundaknya.
Gelak tawa lebih ramai lagi, menandai dipungkasnya perdebatan.
(Sumber: "Terong Gosong Reloaded" karya Gus Yahya Cholil Staquf, hlm. 30-31)

Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

Read more

KH. Mahsun Masyhudi, Pengasuh PP. Mamba'ul Ihsan

Posted in
by Imtiyaz


Beliau adalah air terjun yang menggelontorkan ribuan liter air, sedangkan saya hanya cangkir yang pontang panting menahan diri agar tidak retak digerojok curahan airnya.
Beliau adalah KH. Mahsun Masyhudi, Pengasuh PP. Mamba'ul Ihsan, Banyuurip, Ujungpangkah, Gresik. Berikut ini adalah beberapa pelajaran dan petuah yang saya dapatkan saat sowan beliau bersama Kakang Ady, 13 September 2013:
"Kalau curhat langsung saja kepada Gusti Allah, bangun malam, munajat, pasti ada jawaban dari-Nya. Dialah yang menggerakkan hati."
"Keikhlasan itu menembus ruang dan waktu. Sirr-nya orang ikhlas itu dikerumuni dan dicintai banyak orang dalam dimensi ruang waktu yang berbeda."
"Addien itu sebagai nilai, esensi. Addunya itu materi. Kita ruku'-sujud yang kita raih adalah substansi. Begitu pula setiap melakoni pekerjaan, niatkan sebagai ibadah. Selanjutnya jangan meremehkan profesi seseorang, sebab kita tidak tahu, jangan-jangan yang kita rendahkan itu waliyullah. Husnudzdzon."
"NU ibarat pohon. Ulama adalah akarnya. Birokrat, teknisi, umara' adalah batang pohonnya. Umat adalah dahan dan ranting. Akar harus menghujam bumi. Jika akar terlampau rapuh dan malah mencuat ke atas, ambruklah pohon itu."
"Seandainya pesantren ini bubar sepeninggal saya, saya tak kecewa, karena saya telah berusaha mengukir sejarah saya sendiri. Giliran panjenengan yang muda-muda yang harus menorehkan sejarah panjenengan sendiri."
"Ya nggak usah membenci orang yang membenci diri kita maupun membenci lembaga pendidikan kita. Mungkin mereka belum paham dengan konsep kita. Terus saja melakukan perjuangan. Ini ujian. Jika bisa melewati ujian ini, sudahlah, Allah bakal mengirim santri dari daerah lain."
"Hidup itu kan untuk terus berproses meningkatkan kualitas pribadi kita. Terus berproses menjadi lebih baik. Jangan sampai menganggap diri kita ini SUDAH BAIK, apalagi menganggap diri LEBIH BAIK DARIPADA ORANG LAIN. Bahaya,"
"Tempat Wudlu untuk 'sesucen' itu biasanya dekat dengan peceren (selokan). Maksudnya apa? Jadi, di sekitar pondok, yang nggak suka sama pondok biasanya juga orang-orang di sekitarnya. Itupun hanya segelintir saja. Ya begitulah hidup. Leres mboten?"
-----
Saat muda, beliau tiga tahun nderek sebagai abdi ndalem KH. A. Juwaini Nuh, Tertek Pare Kediri. Kemudian di ndalem Mbah Ma'shum Lasem selama tiga tahun pula. "Saya tidak bisa ngaji kitab saat itu. Hanya nderek yai," kata beliau dalam suatu kesempatan.

Hingga pada saat memijat kaki Mbah Ma'shum, Mahsun muda diminta pulang.
"Sudah cukup kamu di sini. Sudah saatnya kamu pulang." dhawuh Mbah Ma'shum.

Mahsun hanya diam, bingung karena sejujurnya ia masih ingin mengabdi di ndalem Mbah Ma'shum.
"Sekarang, kamu sudah kuizinkan mengajar kitab. Apapun fan-nya." lanjut Mbah Ma'shum.
Mahsun tambah bingung. Hanya saja ia melaksanakan titah gurunya.
"Lha, ndilalah, biidznillah dan dengan barokah doa Mbah Ma'shum, saya yang awalnya sulit baca kitab kok mulai lancar dan mudah memahami apa yang saya baca dan yang akan saya sampaikan ya. Percaya atau tidak demikian adanya. Logika anak-anak muda sekarang mungkin sulit memahami proses ini, tapi ini yang saya rasakan," kata beliau sambil terkekeh ringan.
Saat ini selain 'mbalah' al-Hikam, Kiai Mahsun juga mengajar Ihya' Ulumiddin dan mengaji Kutubus Sittah secara kontinyu. Setiap hari, beliau keliling desa.
Selain memberi pengajian kepada masyarakat, Kiai Mahsun juga mendorong agar di setiap desa didirikan sebuah pesantren, minimal MTs atau Madrasah Diniyah. Bukan hanya memberi dukungan saja, melainkan secara rutin beliau mendampingi proses pembangunannya dan memberikan pengarahan.
"Pondok, MTs, atau Madrasah Diniyah itu BENTENG. Setiap desa idealnya punya benteng. Kalau tidak ada, berarti tak ada pertahanan. Bisa jebol dengan gampang. Kasihan masyarakat." kata beliau suatu ketika.
"Ini strategi. Ya mirip strategi pasar. Semakin banyak penjual atau toko, semakin banyak pula calon pembeli yang tertarik datang. Demikian pula dengan adanya pesantren di setiap desa. Makin banyak pula orangtua yang tertarik memondokkan anaknya, karena banyak pilihan pesantren."
Uniknya, saat mengajar dan mendapati santrinya tertidur, Kiai Mahsun hanya melirik sekilas, tersenyum, lalu melanjutkan pengajiannya kembali.
Gus Atho', putranya, protes, "Pripun to, bah, kok lare-lare mboten ditegur?"
"Lha wong aku ini ngaji untuk BELAJAR, juga untuk mengamalkan ilmu. Lha arek-arek santri itu kan yang MEMBANTU saya mengaji. Ya, aku ini yang harus berterimakasih kepada mereka." jawab Wakil Rais Syuriah PCNU Gresik ini, enteng.
---
KH. Mahsun Masyhudi, ulama bijak ini, wafat menjelang shalat tahajjud, Sabtu dinihari, 27 Ramadan 1437 H/ 3 Juli 2016.
Lahul Fatihah…
LikeShow more reactions
Comment
53 Comments
Comments
Ahmad Karomi
Ahmad Karomi inna lillahi wainna ilaihi rajiun. lahul fatihah
Miftah Nur Ilmi
Miftah Nur Ilmi
إنا لله وإنا إليه راجعون. اللهم اغفر له وارحمه وعافيه واعف عنه.
Ahmad Karomi
Ahmad Karomi "Seandainya pesantren ini bubar sepeninggal saya, saya tak kecewa, karena saya telah berusaha mengukir sejarah saya sendiri. Giliran panjenengan yang muda-muda yang harus menorehkan sejarah panjenengan sendiri." Dawuh yg max zleb.
Adi Kunuha
Adi Kunuha Innalillahi
M Faqih Fayyad
M Faqih Fayyad Ayo kembali jadi santri
Dea Kajaolalido
Dea Kajaolalido Makin dalam Gus. :-)
Sig't Kristiant
Sig't Kristiant
إنا لله وإنا إليه راجعون. اللهم اغفر له وارحمه وعافيه واعف عنه.
Munir Sofi
Munir Sofi Save pak.....
Agus Sa'id
Agus Sa'id Semoga Allah mengampuni segala dosa beliau, merahmati dan menaikan derajatnya disurga. Amin.
Afif M Halim
Afif M Halim
انا لله و انا اليه راجعون.
اللهم اغفر له و ارحمه و عافه و اعف عنه.
امين يا رب العالمين..
Saiful Anam Arridho
Saiful Anam Arridho
انا لله و انا اليه راجعون.. Mugi pinaringan husnul khotimah 😢 mugi pinaringan suwargonipun Gusti..
Mitra Buku Firdaus
Mitra Buku Firdaus InsyaAllah Jannah... Jannah... Jannah.... Amin. Al-FatihahSee Translation
Qutsam Azharul Laun
Qutsam Azharul Laun Lahul fatihah..
Dedy Wibowo
Dedy Wibowo Al Fatehah..
Aryo Temangsank
Aryo Temangsank Dalem sanget piwulangipun Gus...alfatihah kagem almarhum Mbah Mahsum Masyhudi.😢
Raka Habib
Raka Habib allohummaghfirlahum warhamhum waafiini wa'fu anhum......ijin kulo bagikan,gus....
Nisfi Sitta
Nisfi Sitta alfatihah
Abie Zahira
Abie Zahira Alfatihah...
Imam Subhi Imam
Imam Subhi Imam izin share gus....
Imam Farokhi
Imam Farokhi Innalillahi wainnailaihi rooji'uun
=============
"Seandainya pesantren ini bubar sepeninggal saya, saya tak kecewa, karena saya telah berusaha mengukir sejarah saya sendiri. Giliran panjenengan yang muda-muda yang harus menorehkan sejarah panjenengan sendiri." Dawuh yg max zleb.
Fahmi Ali N H
Fahmi Ali N H Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun... Lahu Al-Faatihah...
Ma'azzah Haifa
Ma'azzah Haifa beruntung sekali panjenengan berkesempatan menerima siraman barakahnya.. lahul fatihah..
Anjaya Wibawana
Anjaya Wibawana
إنا لله وإنا إليه راجعون. اللهم اغفر له وارحمه وعافيه واعف عنه.
Adi Mawardi
Adi Mawardi lahul faatihah...
M Hisyam
M Hisyam Alfatehah
Roni Ahmad Putra
Roni Ahmad Putra Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun... Lahu Al-Faatihah...
Ali Sastra Amijaya
Ali Sastra Amijaya Saya adalah sendok, yang pontang-panting menadahi tetesan-tetesan dari luapan cangkir jenengan gus....lahul fatihah...
Sidrotun Naim
Sidrotun Naim Alfaatihah
Ahmad Lutfian Antoni
Ahmad Lutfian Antoni Wah nek Tiyang sae niku le sedo koyo iso milih dino nggih Gus?!

#ndeprokkarodungkluk
Abd Majid
Abd Majid Baru kali ini ada pemuda, atau org yg blm tua, poto sama seorang ulama' tp org itu sama sekali tdk melihat kamera...mabruk kang...
Wija Narko
Wija Narko "Bola bali nek ciduk, disak soki banyu pirang2 ember dadine yo mg sak ciduk kui...bedo nek karo sumur, disoki banyu pirang2 ember yo ra kebak2..."
Ini dawuh salah satu guru saya yg sekarang masih sugeng,,,yg tdk pernah lagi saya sowani...
Allaahumma paringi sehat lan dowo umur kagem poro kyai wal 'ulama...
...See More
Jeck Danial Aisyah
Jeck Danial Aisyah Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun..
Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa' fuanhu..
Al Fatihah..
Suro Ma Nyung
Suro Ma Nyung
له الفاتحة
RifQi Achmad
RifQi Achmad Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roojiuun
Faizin Adi
Faizin Adi Inna lillahi wa Inna ilaihirojiun
Qoidul Hoir
Qoidul Hoir Izin Membagi cak
Rifa'i Bahtiyar
Rifa'i Bahtiyar Sugeng tindak kiai....allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu.....
Iva Syarîfah Zaýn
Iva Syarîfah Zaýn Loalaa pernah ke pangkah jg tho Gus..??!! Subhanallah..
Nur Hanifansyah
Write a comment...
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

Read more
Copyright @ Penerbit Imtiyaz