Tentang "Mantan"

Posted in 10.7.16
by Imtiyaz

"Mantan" itu punya sinonim "eks" atau "bekas". Dalam wilayah asmara, katanya, menghapus ingatan soal mantan itu sama sulitnya dengan memahamkan anak-anak era 90-an bahwa huruf "N" dalam bungkus permen karet YOSAN hanyalah impian semu.

Dalam wilayah ideologis, "mantan" itu punya nilai lebih. John Perkins, mantan bandit yang mengulas keculasan dan kerakusan neoliberalisme, melalui "Confession of An Economic Hitman", banyak dipercayai benar-benar tobat dari masa lalunya meski kenyataannya juga embuh.

Di wilayah lain ada Bu Irene Handono, mantan biarawati (beneran nih?), yang isinya juga mengkritisi agama yang dia peluk di masa lampau. Termasuk soal teori konspirasi versi beliau. Ada juga Pak Felix Siaw, yang andaikata tetap di agama masa lalunya niscaya dia senantiasa diteriaki dan dibully berdasarkan etnisnya, ya kayak Ahok lah. Hahaha.

Ada juga Ustadz Mahrus Ali. "Mantan Kiai NU" yang tekstur wajahnya mirip om Jonru (ada yang bilang orang ini mantan Kristen HKBP) dan kebetulan juga sama-sama menyebalkan. Ada juga mantan LDII yang laris manis ditanggap pengajian. Isinya curhat soal penyimpangan LDII. Mantan Ahmadiyah juga laris ditanggap dari majelis ke majelis. Dari sini sudah kelihatan kalau "mantan" itu mengandung daya magnetik, kan?

Mantan pendeta Hindu? Ada. Nama muslimnya Abdul Aziz. Benar nggaknya dia sebagai mantan pendeta, saya juga nggak tahu kebenarannya. Kabarnya dia sering diundang di acara pengajian yang isinya semacam membongkar ajaran Hindu. Beberapa kali juga menyamakan amaliah Nahdliyyin dengan agama Hindu, meski kemudian pengakuannya ini diluruskan oleh pendeta Hindu yang masih loyal pada agamanya.
Di wilayah lain juga ada. Mantan muslim yang jadi pendeta. Mantan katolik yang menyeberang ke ordo Saksi Jehova yang nekat dan norak itu dan para mantan yang telah berkonversi ke ajaran lainnya. Dari alasan ideologis hingga ekonomis semua bisa kita temui.

Herannya, soal "mantan" itu pada akhirnya menjadi semacam penanda "kemenangan" atas yang lain. Ketika penganut Protestan masuk Islam niscaya banyak diapresiasi. Demikian juga sebaliknya. Kaum murtadin juga banyak ditanggap dari seminar ke seminar. Ada yang hanya curhat soal pergulatan batin hingga menemukan "kebenaran", ada juga yang menjelek-jelekkan agama lawasnya. Macam-macam lah.

Yang lebih simpatik bisa kita temukan dalam "Dari Subuh hingga Malam: Perjalanan Seorang Putra Minang Mencari Jalan Kebenaran" karya Abdul Wadud Karim Amrullah, adik Buya Hamka yang berpindah agama dan menjadi pendeta di AS. Saya nggak baca tuntas buku ini karena hanya membaca sambil lalu di salah satu toko buku di Ponorogo. Setahu saya buku ini tidak membahas gelegar perbedaan asasi Kristen dan Islam, tapi lebih banyak pada perjalanan hidup putra Minangkabau itu, termasuk keputusannya berpindah agama. Lucunya, buku otobiografi pendeta ini ditempatkan di rak "agama Islam" di toko buku ini. Mungkin pengelolanya hanya membaca nama penulisnya yang "islami".

Kalau yang agak elegan bisa kita temukan dalam buku karya Prof. Jeffrey Lang, "Aku Beriman, Maka Aku Bertanya". Lang adalah Guru Besar Matematika di Universitas Kansas, Lawrence, Amerika Serikat, yang menjadi muallaf setelah sekian lama mengajukan pertanyaan-gugatan kritis dalam teologi dan berbagai aspek hingga pada akhirnya dia mendapatkan hidayah.

Kapten James "Yusuf" Yee juga menulis "For God and Country". Buku bagus yang edisi Indonesianya dicetak dengan luks ini berkisah awalmula dirinya sebagai warga AS keturunan Tionghoa, masuk West Point--akademi militer bergengsi di AS, ditugaskan di Suriah, kemudian memeluk Islam. Setelah itu dia menghadapi berbagai masalah saat ditugaskan di Guantanamo dan harus mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari sesama rekan tentaranya, karena Yee--sebagai perwira AS--justru memperlakukan tahanan dengan baik. Yee memang tidak berkisah panjang lebar soal awal mula ketertarikannya dengan Islam, tapi cukup memadai untuk menggambarkan pergulatan batinnya hingga sampai pada hidayah.

Bagi saya, setelah nulis ngalor ngidul di atas, hidayah itu istimewa dan keimanan itu sangat esensial. Sebab pergulatan batin dan perjalanan menggapai hidayah itu seringkali menjadikan seseorang lebih dewasa bersikap dan bahkan lebih mendalam menjalankan ajaran agama barunya. Kalaupun ada yang masih emosional, sensitif, kemudian menjual "kejelekan" agama lawas maupun ideologi lamanya ya anggap saja masih belum move on dan masih terbayang-bayang masa lalu. Bukankah ini "wilayah mantan" yang manusiawi dan bisa diolah dengan nilai jual ekonomi(s)?

Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

Read more

Gaya Gus Dur Mendamaikan Kepala Negara yang Berdebat

Posted in 7.7.16
by Imtiyaz

Gaya Gus Dur Mendamaikan Kepala Negara yang Berdebat
----
Para pemimpin sejumlah “negara Islam paling berpengaruh” bertemu di Doha, Qatar, 2001. Diantara mereka adalah Presiden Abdurrahman Wahid dari Republik Indonesia. Mereka bersepakat untuk mengalang pertemuan rutin diantara mereka secara berkala demi meningkatkan kerja sama multilateral dan membicarakan berbagai permasalahan yang melanda dunia Islam pada umumnya.
Telah mereka sepakati pula bahwa pertemuan berikutnya akan diselenggarakan di Jeddah, Arab Saudi. Hanya saja, masih ada perdebatan antara Pangeran Abdullah dari Arab Saudi dan Presiden Pervez Musharaf dari Pakistan. Pangeran Abdullah menganggap cukup pertemuan Jeddah yang akan datang itu disepakati saja tanpa harus disebut secara eksplisit dalam deklarasi yang akan mereka umumkan. Pervez Musharaf ngotot agar hal itu disebut, untuk “menjamin komitmen semua pihak”. Keduanya berdebat begitu sengit sehingga Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, Raja Qatar yang memimpin pertemuan mengalami kesulitan untuk menengahi.

Akhirnya, Presiden Abdurrahman Wahid angkat bicara.
“Ini soal bungkus dan isi”, kata Presiden, “Deklarasi itu bungkus, komitmen kitalah isinya. Marilah kita semua lebih mengedepankan isi. Karena isi itu biasanya lebih penting daripada bungkusnya. Contohnya: BH!”
Semua orang tertawa tergelak-gelak. Sheikh Hamad yang sedang iseng meremas-remas kertas sampai tak sadar melempar kertas itu ke arah Presiden. Lalu buru-buru berdiri, menghampiri Presiden, minta maaf berluang-ulang sambil mengelus-elus pundaknya.
Gelak tawa lebih ramai lagi, menandai dipungkasnya perdebatan.
(Sumber: "Terong Gosong Reloaded" karya Gus Yahya Cholil Staquf, hlm. 30-31)

Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

Read more

KH. Mahsun Masyhudi, Pengasuh PP. Mamba'ul Ihsan

Posted in
by Imtiyaz


Beliau adalah air terjun yang menggelontorkan ribuan liter air, sedangkan saya hanya cangkir yang pontang panting menahan diri agar tidak retak digerojok curahan airnya.
Beliau adalah KH. Mahsun Masyhudi, Pengasuh PP. Mamba'ul Ihsan, Banyuurip, Ujungpangkah, Gresik. Berikut ini adalah beberapa pelajaran dan petuah yang saya dapatkan saat sowan beliau bersama Kakang Ady, 13 September 2013:
"Kalau curhat langsung saja kepada Gusti Allah, bangun malam, munajat, pasti ada jawaban dari-Nya. Dialah yang menggerakkan hati."
"Keikhlasan itu menembus ruang dan waktu. Sirr-nya orang ikhlas itu dikerumuni dan dicintai banyak orang dalam dimensi ruang waktu yang berbeda."
"Addien itu sebagai nilai, esensi. Addunya itu materi. Kita ruku'-sujud yang kita raih adalah substansi. Begitu pula setiap melakoni pekerjaan, niatkan sebagai ibadah. Selanjutnya jangan meremehkan profesi seseorang, sebab kita tidak tahu, jangan-jangan yang kita rendahkan itu waliyullah. Husnudzdzon."
"NU ibarat pohon. Ulama adalah akarnya. Birokrat, teknisi, umara' adalah batang pohonnya. Umat adalah dahan dan ranting. Akar harus menghujam bumi. Jika akar terlampau rapuh dan malah mencuat ke atas, ambruklah pohon itu."
"Seandainya pesantren ini bubar sepeninggal saya, saya tak kecewa, karena saya telah berusaha mengukir sejarah saya sendiri. Giliran panjenengan yang muda-muda yang harus menorehkan sejarah panjenengan sendiri."
"Ya nggak usah membenci orang yang membenci diri kita maupun membenci lembaga pendidikan kita. Mungkin mereka belum paham dengan konsep kita. Terus saja melakukan perjuangan. Ini ujian. Jika bisa melewati ujian ini, sudahlah, Allah bakal mengirim santri dari daerah lain."
"Hidup itu kan untuk terus berproses meningkatkan kualitas pribadi kita. Terus berproses menjadi lebih baik. Jangan sampai menganggap diri kita ini SUDAH BAIK, apalagi menganggap diri LEBIH BAIK DARIPADA ORANG LAIN. Bahaya,"
"Tempat Wudlu untuk 'sesucen' itu biasanya dekat dengan peceren (selokan). Maksudnya apa? Jadi, di sekitar pondok, yang nggak suka sama pondok biasanya juga orang-orang di sekitarnya. Itupun hanya segelintir saja. Ya begitulah hidup. Leres mboten?"
-----
Saat muda, beliau tiga tahun nderek sebagai abdi ndalem KH. A. Juwaini Nuh, Tertek Pare Kediri. Kemudian di ndalem Mbah Ma'shum Lasem selama tiga tahun pula. "Saya tidak bisa ngaji kitab saat itu. Hanya nderek yai," kata beliau dalam suatu kesempatan.

Hingga pada saat memijat kaki Mbah Ma'shum, Mahsun muda diminta pulang.
"Sudah cukup kamu di sini. Sudah saatnya kamu pulang." dhawuh Mbah Ma'shum.

Mahsun hanya diam, bingung karena sejujurnya ia masih ingin mengabdi di ndalem Mbah Ma'shum.
"Sekarang, kamu sudah kuizinkan mengajar kitab. Apapun fan-nya." lanjut Mbah Ma'shum.
Mahsun tambah bingung. Hanya saja ia melaksanakan titah gurunya.
"Lha, ndilalah, biidznillah dan dengan barokah doa Mbah Ma'shum, saya yang awalnya sulit baca kitab kok mulai lancar dan mudah memahami apa yang saya baca dan yang akan saya sampaikan ya. Percaya atau tidak demikian adanya. Logika anak-anak muda sekarang mungkin sulit memahami proses ini, tapi ini yang saya rasakan," kata beliau sambil terkekeh ringan.
Saat ini selain 'mbalah' al-Hikam, Kiai Mahsun juga mengajar Ihya' Ulumiddin dan mengaji Kutubus Sittah secara kontinyu. Setiap hari, beliau keliling desa.
Selain memberi pengajian kepada masyarakat, Kiai Mahsun juga mendorong agar di setiap desa didirikan sebuah pesantren, minimal MTs atau Madrasah Diniyah. Bukan hanya memberi dukungan saja, melainkan secara rutin beliau mendampingi proses pembangunannya dan memberikan pengarahan.
"Pondok, MTs, atau Madrasah Diniyah itu BENTENG. Setiap desa idealnya punya benteng. Kalau tidak ada, berarti tak ada pertahanan. Bisa jebol dengan gampang. Kasihan masyarakat." kata beliau suatu ketika.
"Ini strategi. Ya mirip strategi pasar. Semakin banyak penjual atau toko, semakin banyak pula calon pembeli yang tertarik datang. Demikian pula dengan adanya pesantren di setiap desa. Makin banyak pula orangtua yang tertarik memondokkan anaknya, karena banyak pilihan pesantren."
Uniknya, saat mengajar dan mendapati santrinya tertidur, Kiai Mahsun hanya melirik sekilas, tersenyum, lalu melanjutkan pengajiannya kembali.
Gus Atho', putranya, protes, "Pripun to, bah, kok lare-lare mboten ditegur?"
"Lha wong aku ini ngaji untuk BELAJAR, juga untuk mengamalkan ilmu. Lha arek-arek santri itu kan yang MEMBANTU saya mengaji. Ya, aku ini yang harus berterimakasih kepada mereka." jawab Wakil Rais Syuriah PCNU Gresik ini, enteng.
---
KH. Mahsun Masyhudi, ulama bijak ini, wafat menjelang shalat tahajjud, Sabtu dinihari, 27 Ramadan 1437 H/ 3 Juli 2016.
Lahul Fatihah…
LikeShow more reactions
Comment
53 Comments
Comments
Ahmad Karomi
Ahmad Karomi inna lillahi wainna ilaihi rajiun. lahul fatihah
Miftah Nur Ilmi
Miftah Nur Ilmi
إنا لله وإنا إليه راجعون. اللهم اغفر له وارحمه وعافيه واعف عنه.
Ahmad Karomi
Ahmad Karomi "Seandainya pesantren ini bubar sepeninggal saya, saya tak kecewa, karena saya telah berusaha mengukir sejarah saya sendiri. Giliran panjenengan yang muda-muda yang harus menorehkan sejarah panjenengan sendiri." Dawuh yg max zleb.
Adi Kunuha
Adi Kunuha Innalillahi
M Faqih Fayyad
M Faqih Fayyad Ayo kembali jadi santri
Dea Kajaolalido
Dea Kajaolalido Makin dalam Gus. :-)
Sig't Kristiant
Sig't Kristiant
إنا لله وإنا إليه راجعون. اللهم اغفر له وارحمه وعافيه واعف عنه.
Munir Sofi
Munir Sofi Save pak.....
Agus Sa'id
Agus Sa'id Semoga Allah mengampuni segala dosa beliau, merahmati dan menaikan derajatnya disurga. Amin.
Afif M Halim
Afif M Halim
انا لله و انا اليه راجعون.
اللهم اغفر له و ارحمه و عافه و اعف عنه.
امين يا رب العالمين..
Saiful Anam Arridho
Saiful Anam Arridho
انا لله و انا اليه راجعون.. Mugi pinaringan husnul khotimah 😢 mugi pinaringan suwargonipun Gusti..
Mitra Buku Firdaus
Mitra Buku Firdaus InsyaAllah Jannah... Jannah... Jannah.... Amin. Al-FatihahSee Translation
Qutsam Azharul Laun
Qutsam Azharul Laun Lahul fatihah..
Dedy Wibowo
Dedy Wibowo Al Fatehah..
Aryo Temangsank
Aryo Temangsank Dalem sanget piwulangipun Gus...alfatihah kagem almarhum Mbah Mahsum Masyhudi.😢
Raka Habib
Raka Habib allohummaghfirlahum warhamhum waafiini wa'fu anhum......ijin kulo bagikan,gus....
Nisfi Sitta
Nisfi Sitta alfatihah
Abie Zahira
Abie Zahira Alfatihah...
Imam Subhi Imam
Imam Subhi Imam izin share gus....
Imam Farokhi
Imam Farokhi Innalillahi wainnailaihi rooji'uun
=============
"Seandainya pesantren ini bubar sepeninggal saya, saya tak kecewa, karena saya telah berusaha mengukir sejarah saya sendiri. Giliran panjenengan yang muda-muda yang harus menorehkan sejarah panjenengan sendiri." Dawuh yg max zleb.
Fahmi Ali N H
Fahmi Ali N H Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun... Lahu Al-Faatihah...
Ma'azzah Haifa
Ma'azzah Haifa beruntung sekali panjenengan berkesempatan menerima siraman barakahnya.. lahul fatihah..
Anjaya Wibawana
Anjaya Wibawana
إنا لله وإنا إليه راجعون. اللهم اغفر له وارحمه وعافيه واعف عنه.
Adi Mawardi
Adi Mawardi lahul faatihah...
M Hisyam
M Hisyam Alfatehah
Roni Ahmad Putra
Roni Ahmad Putra Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun... Lahu Al-Faatihah...
Ali Sastra Amijaya
Ali Sastra Amijaya Saya adalah sendok, yang pontang-panting menadahi tetesan-tetesan dari luapan cangkir jenengan gus....lahul fatihah...
Sidrotun Naim
Sidrotun Naim Alfaatihah
Ahmad Lutfian Antoni
Ahmad Lutfian Antoni Wah nek Tiyang sae niku le sedo koyo iso milih dino nggih Gus?!

#ndeprokkarodungkluk
Abd Majid
Abd Majid Baru kali ini ada pemuda, atau org yg blm tua, poto sama seorang ulama' tp org itu sama sekali tdk melihat kamera...mabruk kang...
Wija Narko
Wija Narko "Bola bali nek ciduk, disak soki banyu pirang2 ember dadine yo mg sak ciduk kui...bedo nek karo sumur, disoki banyu pirang2 ember yo ra kebak2..."
Ini dawuh salah satu guru saya yg sekarang masih sugeng,,,yg tdk pernah lagi saya sowani...
Allaahumma paringi sehat lan dowo umur kagem poro kyai wal 'ulama...
...See More
Jeck Danial Aisyah
Jeck Danial Aisyah Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun..
Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa' fuanhu..
Al Fatihah..
Suro Ma Nyung
Suro Ma Nyung
له الفاتحة
RifQi Achmad
RifQi Achmad Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roojiuun
Faizin Adi
Faizin Adi Inna lillahi wa Inna ilaihirojiun
Qoidul Hoir
Qoidul Hoir Izin Membagi cak
Rifa'i Bahtiyar
Rifa'i Bahtiyar Sugeng tindak kiai....allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu.....
Iva Syarîfah Zaýn
Iva Syarîfah Zaýn Loalaa pernah ke pangkah jg tho Gus..??!! Subhanallah..
Nur Hanifansyah
Write a comment...
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

Read more
Copyright @ Penerbit Imtiyaz