18.10.11

Meski 'rumput' tetangga lebih hijau.....

 

Bismillahirrohmanirrohim. . .

            Ku awali catatanku dengan menyebut AsmaNya,,semoga tak hanya terucap di bibir saja, namun tulus berasal dari lubuk hati yang terdalam..sudut hati yang jauh dari kata dusta..dimana tidak ada kepalsuan dan kebohongan yang tertera..

            Wahai kertas yang kosong..Sebenarnya ketika muncul pertanyaan-pertanyaan akan kehidupan disitulah aku memulai tuk mengembara dalam kata-kata..ingin mengungkapkan segalanya dalam kebisuan benda tak berperasaan..Dalam kertas kosong tak bergores, yang tak akan pernah membantah apapun yang aku tuliskan dan adukan..

Aku hanya ingin membebaskan ‘rasa’ yang terikat oleh belenggu-belenggu kekhawatiran. Kekhawatiran akan masa yang akan datang..ketakutan menghadapi segala hal di luar kemampuan..atas dasar keterbatasan pengetahuan, karna hilangnya kemauan untuk selalu meng’optimis’kan diri dengan belajar kepada mereka yang lebih berpengalaman menjalani asam manis kehidupan.

            Terkadang kekalutan akan suatu permasalahan membuatku “mandeg” berpikir..tak ingin lagi menggali ilmu-ilmu Allah yang masih berada dalam kawasan tersembunyi dari sudut pandang ku..Na’udzubillahi min dzalik.. aku tak ingin menjadi orang yang congkak dan sombong..yang mudah puas akan dirinya dan mengabaikan segala hal yang tidak sesuai dengan persepsinya..

Hmmm....
             Bicara soal nikmat Allah, memang tak terhitung banyaknya. Bahkan untuk mengitung nikmat yang kita rasakan selama 5 menit pun, mungkin mulut sampai berbusa. Udara gratis,mata bisa melihat jelas, hidung dapat mencium aroma masakan, lidah bisa mengecap berbagai makanan, tenggorokan masih mau menelan apa yang kita makan dan sampai pada kaki yang masih bisa digunakan untuk meloncat-loncat..


               But why,, Dari dulu hingga sekarang, suatu istilah yang menyebutkan bahwa”rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri” seakan melekat dalam sanubari. Sungguh tidak ku pungkiri, aku sangat setuju akan pernyataan ini. Setiap kali ku memandang sahabat di sekitarku , tak mungkin ada kata syukur dalam hati. Selalu saja berpikir, Ya Rabby mengapa aku tak seberuntung mereka?’’..

              Kalimat inilah yang menemaniku setiap saat. Setiap mereka berbagi kisah kehidupannya.. setiap aku mendengarkan kronologi perjalanan kehidupan mereka.  Ya, mungkin bisa dibilang aku adalah seorang “pendengar setia” akan segala macam hal yang menyangkut serba-serbi keadaan urip neng dunyo. Aku lebih suka memperhatikan dan menganalisa dengan seksama bagaimana kehidupan orang-orang terdekatku. Aku tak suka jika membahas masalah diriku..Tak suka. Bahkan benci.

            Namun bila  ku lihat dari sisi lain..misalnya ketika aku menyaksikan pengemis-pengemis di jalanan, orang-orang cacat di lembaga perlindungan, remaja-remaja yang terlanjur mengonsumsi obat-obatan terlarang, remaja yang nyemplung dalam pergaulan bertema kebebasan..aku jauh lebih beruntung dari mereka..
Dan juga pada mereka yang tak pernah mendapat belaian kasih sayang dari orang tuanya, mereka yang hidupnya selalu diwarnai oleh pertikaian kedua orangtuanya, mereka yang bekerja banting tulang menjadi ‘punggung’ keluarganya..aah aku jauh lebih beruntung dari mereka..

            Lalu mengapa masih saja timbul perasaan-perasaan kufur???apakah karna diriku yang tak mampu membendung hasutan para musuh agama yang nyata..sang ‘aduwwun mubiin’ untuk selalu menyimpang dari kebenaran? ataukah karna memang sudah kodrat manusia tak pernah puas akan segala hal yang dipunya?

            Begini memang watak manusia biasa..tak pernah lepas dari kekhilafan dan dosa.. selalu ingin memiliki apa yang tidak dimiliki, selalu merasa kurang akan pemberian Tuhan..
Namun semoga tak ada seseorang yang memutuskan untuk mengakhiri kehidupan karna merasa tidak mendapat kasih sayang dari Sang Empunya Semesta Alam..Aku yakin segala hal yang terjadi pasti menyimpan hikmah yang tersembunyi..

            Guruku pernah berkata,”jangan kamu merasa iri atau dengki dengan orang-orang yang berada di atasmu..jangan menganggap bahwa kepandaian, kekayaan, keelokan wajah dan fisik atau kedudukannya adalah keberuntungannya..itu semua adalah UJIAN. Dia akan beruntung ketika mampu menghadapinya dengan keRidloan dari Tuhannya atau dengan kata lain dia selalu berada dalam jalan syari’ah, namun sebaliknya bila ia menyalahgunakan kelebihannya dengan mengumbar nafsu dan menyombongkan diri, maka kecelakaan baginya..Ingat  “Inna Akramakum indallohi atqokum’’.......

Nah.. jadi kesimpulannya,,"Meski rumput tetangga lebih hijau, rumput sendiri lebih "sehat dan bergizi"...bila dinikmati dan disyukuri oleh pemiliknya... Mari bersama-sama saling menasehati dalam kebenaran juga dalam kesabaran...

Salam Ukhuwah Fillah......^_^
Ata Fauzun Binti Saif,.,penerbit imtiyaz says ^o^ : "terima kasih untuk beliau yang berkenan menyumbangkan ilmunya demi dakwah amaliyah ilmiyah"

No comments:
Write comments
'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan