16.12.11

Bentrok Suporter, Mengapa Terjadi?

 

Bentrok Suporter, Mengapa Terjadi?
(dimuat di Radar Surabaya, Jumat 16 Desember 2011)
ditulis oleh Rizal Mumazziq Zionis

            Pertandingan Deltras Sidoarjo melawan Persib Bandung di stadion Gelora Delta, sudah berakhir dengann skor kacamata (12/12). Namun pertandingan tersebut meninggalkan amuk suporter: pendukung Persib Bandung, The Viking, yang dibantu Bonekmania,  pendukung Persebaya, melawan suporter Deltamania. Nahas, kerusuhan tersebut meninggalkan jejak kelam dengan tewasnya Kunto (30), seorang Bonekmania (Radar Surabaya/14/12).
            Kepada korban tewas, kita berduka cita dan berbela sungkawa. Kita juga berharap, penegak hukum bertindak sesuai prosedur hukum dalam menangani oknum suporter yang menyebabkan Kunto tewas, sebagaimana tindakan tegas aparat penegak hukum yang memenjarakan beberapa Bonekmania yang menjadi terdakwa penganiayaan dan pembunuhan suporter Persela Lamongan, beberapa bulan silam.
            Bentrokan di atas merupakan eskalasi berbagai faktor. Pertama, dendam kesumat dan api permusuhan antar pendukung klub, yang diwariskan turun temurun selama puluhan tahun. Jamak terdengar, Bonekmania menjalin koalisi dengan Sakeramania (Persekapas) dan The Viking (Persib Bandung). Keduanya memusuhi The Jak (Persija), Aremania (Arema Indonesia), maupun Deltamania. Kasus tersebut juga terjadi di banyak klub lain. Penyebabnya? Sulit ditelisik. Sekali dikipasi, bentrok akan meledak. Kejadian bentrok beberapa hari lalu menjadi tesis yang menguatkan adanya solidaritas salah kaprah antar supporter.
Gustave Le Bon menyebutnya sebagai crowd psychology. Itulah momen ketika bergabung dalam kerumunan massa, identitas dan kepribadian individu lenyap; dan berubah menjadi “kepribadian kolektif” (collective unconscious, dalam bahasa Carl Jung). Kebersamaan yang melumerkan stratifikasi sosial, agama, dan budaya. Konteks persepakbolaan nasional, seolah menjadi perwujudan—meminjam istilah Benedict Anderson--"komunitas imajiner" (imagined community). Komunitas ini ada karena para anggotanya sebenarnya tidak mengenal satu sama lain, namun memandang diri mereka sebagai bagian dari komunitas yang sama. Senasib dan seperjuangan, meski berbeda strata sosial, agama, dan ideologi. Apakah anggota Bonekmania yang jumlahnya puluhan ribu, misalnya, saling mengenal? Tentu tidak. Tapi mereka dipersatukan oleh rasa cinta terhadap satu klub. Demikian juga analogi yang tepat untuk melihat keberadaan suporter lain. Fanatisme lapangan hijau ini dikemas dengan apik oleh sineas dalam negeri melalui The Conductors (tentang Aremania), dan Romeo Juliet (kisah cinta terlarang anggota The Viking dan The Jak).
Faktor kedua, adalah permainan sepakbola itu sendiri. Di sini saya sependapat dengan Guus Hiddink, pelatih Korsel di Piala Dunia 2002, bahwa pesona dan petaka sepakbola ada di kaki pemain. Menonton sepak bola, kata meneer Belanda ini, mirip dengan transaksi beli jasa. Para penonton membeli tiket dengan harapan akan disuguhi pertunjukan bagus. Kalau pertunjukannya bagus dan menarik, mereka akan memuji dan memuja para lakon (baca: pemain). Sebaliknya, cacian dan makian akan terlontar saat pemainnya tampil buruk. Simbiosis mutualisme seperti ini, tanpa disadari, turut mempengaruhi standar perilaku suporter. Pemain dijadikan parameter mengukur tensi pertandingan. Jika pemain berulah, maka penonton bukan mustahil ikut berulah. Pemain kisruh di lapangan, pendukung rusuh di luar stadion. Saya kira sudah saatnya pemain sepakbola di Indonesia tak cuma dilatih soal fisik, tetapi juga soal menahan emosi, menghargai lawan main, dan terutama menghormati keputusan wasit.
Faktor ketiga, di antara penonton terdapat mereka yang terdeprivasi secara sosial. Mereka kehilangan sumber daya kemanusiaannya, tercerabut dari akar sosial, serta kehilangan pertumbuhan kejiwaannya. Mereka inilah yang berpotensi menjadi perusuh. Dalam tinjauan teori psikologi sosial, tindakan mereka hanyalah merupakan bentuk kanalisasi atas frustrasi di kehidupan nyata. Maka, saat mereka terjebak permasalahan sosial, mereka butuh figur atau komunitas yang bisa membantu mereka melupakan permasalahan. Saat menemukan figur atau komunitas yang tepat, mereka tanpa sadar mengusung semangat fanatisme. Seorang fanatik, kata mendiang PM Winston Churchill, tak akan mampu mengubah pikirannya. Bahkan, takkan sanggup melihat perubahan dari apa yang dipikirkannya. Fanatisme, sebenarnya mirip soda kue yang membuat tepung gandum mekar menjadi roti kenyal, dan inilah yang membikin sepak bola naik gengsi dari sekedar pemainan rakyat menjadi hiburan yang memukau.
Sampai di sini, penulis ingat Milan Kundera yang pernah bilang, di stadion stadion sepak bola ada semacam esktasi. Orang terbuai permainan yang saling mengalahkan. Manusia di sana mempertontonkan hasrat purbanya: berlomba untuk menang. Dan proses menuju kemenangan itulah yang lebih penting; yang seringkali berkelindan dengan persoalan sosial, politik, budaya, agama, dan tentu saja ekonomi. Karena telah teracuni oleh beragam faktor di atas, maka nilai sportivitas, semangat kompetitif, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja secara kolektif yang diajarkan sepakbola, mulai pudar.

Posted by Penerbit imtiyaz, http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/

No comments:
Write comments
'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan