CIK GU KARIM RASLAN

Posted in 18.6.11
by Imtiyaz




{Makalah ini adalah pengantar diskusi dan peluncuran buku Ceritalah Indonesia karya Karim Raslan yang dihelat di auditorium rektorat IAIN Sunan Ampel Surabaya, Jumat 8 Oktober 2010}

“Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia bersama rakyatnya dari dekat,” - Soe Hok Gie

Tak ada yang saya ingat dalam perjumpaan perdana saya dengan Karim Raslan, kecuali celutukan santri putri yang duduk beberapa baris di belakang saya, saat ia melihat sosok Karim Raslan. “Whalah, gantengnya orang ini. Lebih cocok kalau jadi bintang sinetron.” Gendang telinga saya juga menangkap celutukan santri putri itu disambut cekikikan teman-temannya. Ya, itulah awal mula saya bertatap muka dengan Pak Karim—demikian saya memanggil kolumnis Malaysia ini. Saat itu, Mei 2004, Pak Karim mengunjungi Ponpes Mahasiswa Annur Surabaya. Didampingi KH. Imam Ghazali Said, pengasuh pesantren, ia mengadakan dialog interaktif dengan para santri putra-putri. Temanya beragam; tentang Siti Nurhaliza, Internal Security Act (ISA), TKI, NU, pesantren, dan tentunya Indonesia—negara yang membuat Pak Karim kembali “pulang”.
Nah, perjumpaan itu seolah menandai kekaguman saya terhadapnya. Ia, warga Malaysia, jatuh cinta dengan anasir Indonesia—saat dimana banyak warga Indonesia yang pesimis dengan ke-Indonesia-annya. Saat mendampinginya mengunjungi Makam Sunan Ampel (2004), Kya-Kya Kembang Jepun (2004), maupun makam Sunan Giri pada pertengahan Juli silam, saya merasakan betapa ia telah melampaui perbatasan identitas. Malaysia adalah tanah kelahirannya, Inggris adalah tempatnya bertumbuh, dan Indonesia adalah negeri di mana ia selalu ingin "pulang". Mungkin karena akarnya dipertautkan oleh cintanya akan kehidupan, tak sulit bagi Pak Karim melihat duduk soal secara lebih terbuka. Untuk itulah, ia terasa ringan saja—tak merasa menjadi orang asing—tatkala ngobrol ngalor ngidul dengan beragam kelas sosial di Indonesia. Ia mendengarkan dengan tulus keluh kesah beragam jenis manusia, merekam, merenungkan, lalu menulisnya dengan citarasa humanis yang subtil nan reflektif.
"Tahun demi tahun, saya jadi seorang pengelana, berpindah dari satu kota ke kota lain, naik-turun kapal laut, mobil dan pesawat terbang. Saya menyadari bahwa seorang pencerita juga harus jadi pengelana; tak henti mencari cerita baru, perspektif yang beda juga orang-orang yang mau mendengarkan ceritanya. Dengan begitu, saya menjadi pengumpul cerita. Para Pekerja Seks Komersial (PSK) di Surabaya, penyanyi, petani sawit, penjual bakso, petani di sawah, bankir, tukang becak, dan guru--semua telah membuka diri pada saya. Karena itulah saya menyusun rangkaian cerita yang tak ada habisnya--kisah-kisah yang secara perlahan tapi pasti telah memberikan keakraban, pemahaman, dan rasa sayang dalam perjalanan saya melintasi Indonesia." Demikian ia menulisnya dalam halaman xviii.
Dalam Ceritalah Indonesia, Pak Karim mengangkat suara-suara lirih dari pelipir Nusantara. Tentang Ustadz Khoiron Syuaib yang berjuang mengentaskan PSK di Lokalisasi Bangunsari; I Mangku Munik yang apolitik akibat trauma sejarah; “pahlawan” bernama Haji Bambang yang berupaya menjaga keharmonisan Islam-Hindu di Bali; atau pun Dendy Dharman yang melalui desainnya membuat Indonesia mampu bersaing dengan raksasa dagang Tiongkok. Dari sudut yang gemerlap, ia mengulas dan menganalisis jagat perpolitikan di Tanah Air; tentang Es Be Ye, Gus Dur, Pak Harto, hingga Megawati.
Ketika Gus Dur wafat, Karim menulis tentang sesuatu yang agaknya absurd, justru karena di dalamnya mengandung sebuah harapan: seandainya sosok seperti Gus Dur ada di Malaysia, negeri yang masih suka disibukkan oleh pandangan-pandangan Islam yang konservatif, ribut perkara rasial, dan sejumlah problem lain yang di Indonesia telah dianggap selesai. Dalam Gus Dur versi Malaysia?, misalnya, ia melihat ada semacam sentimen kerinduan penduduk Malaysia terhadap sosok seperti Gus Dur yang moderat, memahami al-Quran secara mendalam dan intuitif, memiliki komitmen terhadap demokrasi, memperjuangkan kebebasan sipil dan kadilan. Maklum, bertepatan dengan wafatnya Gus Dur, negeri jiran ini disibukkan oleh sentimen-sentimen keagamaan terkait dengan penggunaan lafadz Allah dalam tulisan-tulisan. Sampai akhirnya, masyarakat menilai bahwa Nik Aziz, ulama senior Panmalaysia Islamic Party (PAS). (hal. 126).
Sampai di sini, aroma pemberontakan Karim terhadap negaranya, sesungguhnya bisa kita rasakan sejak awal mula ia menulis sebuah kata Pengantar Penulis. Di situ, ia mengaku, sebagai orang Melayu, pertemuannya dengan Indonesia terjadi begitu mengharukan. Sebab Malaysia-Indonesia begitu terkait dalam banyak hal—bahasa, budaya, agama, makanan, bahkan hingga selera humor sekalipun. Namun, menurut apa yang ia amati dan alami saat blusukan di ketiak Nusantara, adalah bahwa menjadi manusia Indonesia adalah sebuah sikap. Sebuah rasa identifikasi, yang lebih mengutamakan bangsa daripada asal usul etnis. Perasaan ini terus bergerak dan berkembang, tidak statis dan kaku. Ia telah, dapat, dan akan berubah. Dinamis.
Baginya, tiada yang lebih kuat di Indonesia, kecuali aspek keberagamaannya. kemakmurannya yang sekarang tumbuh dari tradisi untuk menoleransi serta merayakan perbedaan dan pluralisme. Ini juga yang menjadi kunci dalam menghadapi dan mengatasi berbagai macam hambatan.
Di sisi lain, tulisan-tulisannya tentang Malaysia sendiri cukup kritis. Ia mengkritik praktik feodalisme dan demokrasi yang dalam praktiknya di Malaysia masih banyak yang bersifat kontradiktif. Tak sungkan ia kecam budaya korup yang masih mengemuka. Pernahkah Pak Karim berurusan dengan otoritas penguasa di sana terkait daya kritisnya? Saya tak tahu. Yang saya tahu, ia memiliki energi saat melakukan otokritik ”ke dalam” sambil melihat ”ke luar”.
Membaca buku Ceritalah Indonesia, yang terdiri dari 29 kolom, esainya yang tampak cerdas, kritis, dan kadang jenaka akan mengajak kita menyongsong masa depan Indonesia dengan optimistis, juga menjembatani hubungan bilateral pemerintah Indonesia-Malaysia ke arah yang lebih bermartabat dan saling menghargai. Beberapa kali insiden kecil yang terjadi antara militer RI dengan Tentera Diraja Malaysia di perbatasan laut, menyebabkan nostalgia ”Ganyang Malaysia” yang dicetuskan Bung Karno, kembali menjadi gumam-gumam di penjuru Indonesia.
Pak Karim melihat insiden-insiden semcam ini dengan menggunakan teori sederhana, bila dua orang berdiri terlalu dekat kemungkinan yang satu akan menginjak kaki yang lain. Relasi RI-Malaysia menurutnya terlalu dekat; hubungan yang kadangkala berakhir antiklimaks. Padahal, terdapat agenda utama bagi dua bangsa serumpun ini agar bergandeng tangan dalam mengamankan Selat Malaka. Baginya, jika Indonesia dan Malaysia tak akur dalam penanganan keamanan di Selat Malaka, maka AS akan semakin bernafsu melakukan penguasaan patroli laut di wilayah ini.
Dari sini, esensi tulisan Pak Karim yang paling utama adalah bagaimana kedua negara bertetangga dekat ini terus berupaya mencari ”titik temu” daripada mencari ”titik tengkar”. Dari sudut pandang ini, konflik Tengku Fahri dan Manohara tak perlu menjadi isu nasional, cukup hanya menjadi konsumsi infotainment kacangan. Selesai dengan kepala dingin, diiringi derai tawa ala Upin, Upin, Jarjit, Mail, Meimei, dan Susanti.
Melalui esai-esai terseleksi --yang meceritakan peristiwa-peristiwa penting di Indonesia dan sosok-sosok yang mengesankan untuk disimak--Pak Karim tidak hanya menyambung kembali hubungan kita dengan saudara serumpun melainkan juga juga mencerminkan pandangan intelektual Malaysia sekaligus penulis tersohor di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik, tentang persoalan-persoalan dalam hubungan dua negeri dan apa yang terjadi di Indonesia pasca-Soeharto.
***
Membaca esai-esai dalam buku ini, seolah melihat betapa kompleksnya nusantara. Pak Karim “menemukan” potensi-potensi anak bangsa yang menunggu dilejitkan. Suparman yang ia sebut sebagai ikon Philip Morris-nya Jawa, radio kayu Singgih Kartono di Temanggung, distro milik Dendy Darman di Bandung, lukisan Jumadil Alfi dam Agus Suwage, Alban Lompor dari Bugis yang kini tinggal di Tawau, hingga kabar kehidupan Deslinarti di pedesaan Lintau Padang. Sungguh asing nian nama-nama di atas bukan? Justru di sinilah letak kecanggihan Pak Karim dalam mengemas dan mengupas cerita-cerita yang tak tersampaikan. Itulah caranya mengenal suatu negeri. Kebudayaan yang bernapas dalam denyut kehidupan manusianya mendorong dia masuk ke tempat-tempat yang tidak banyak diperhatikan di Asia Tenggara. Pun di Indonesia. Ia berusaha menyentuh jantung negeri ini, antara lain dengan memasuki kehidupan di akar rumput agar bisa merasakan getarnya. Ia mencintai Indonesia, karena itulah ia masuk dan berkarib dengan dunia rakyat kecil, sebagaimana kata Soe Hok Gie di awal tulisan ini.
Akhirnya, melihat pengembaraan Pak Karim—menjelajah berbagai negara lalu menuliskan kisah-kisah—mengingatkan saya pada pola yang dilakukan oleh Ibn Bathutah ratusan tahun silam. Datang, mendengar dan mengamati, lalu menulis bak melakukan repotase. Tentu saya tak menyamakan Pak Karim dengan pengembara asal Maroko itu. Masing-masing punya cara yang khas untuk merekam dinamika anak cucu adam di berbagai kawasan.
Dalam perbincangan yang hangat di Hotel Majapahit, Juli silam, Pak Karim mendefinisikan dirinya sebagai warga dunia yang merdeka, tidak diikat oleh isu-isu yang secara politik diciptakan untuk memecah-mecah kemanusiaan. Tempat tinggalnya tidak dibatasi ruang, tetapi oleh rasa. Ia terbang dari satu tempat ke tempat lain untuk merawat sesuatu yang lebih hakiki di dalam diri. Karena itu, pekerjaan ia perlakukan sebagai hobi. Tak pernah membosankan. Sungguh, melihat ngalor ngidul-nya Pak Karim dalam menjelajah lekuk Nusantara, saya teringat kata mutiara dari Imam Syafii: “Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negeri mu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran…"
Mereka yang tidak menyimpan keinginan mengembara, fisik ataupun non-fisik, akan menjadi katak dalam tempurung, menyimpan rasa nyaman yang semu dalam keterbatasan pandangannya. Seperti dituturkan penulis Oscar Wilde: Anyone who lives within their means suffers from a lack of imagination.
Selamat Pagi, Cik Gu Karim Raslan!



Alas Beton Soerabaja, 7 Oktober 2010

Read more

Karya Hanif,

Posted in 16.6.11
by Imtiyaz

' SEGERA TERBIT '



Insya Allah akan Segera Terbit karya karya
"HANIF"

kamus saku HILYAH,.,Perbedaan Bahasa,.,,Ilmu Arudh












Lebih Lanjut Tentang hanif klik gambar hanif di bawah


Penerbit imtiyaz. suara pena hati, buku buku imtiyaz 
generasi anak sarungan yang selalu maju terdepan ^o^
Nur Hanifansyah

Read more

Segera Terbit esai kontemporer

Posted in 14.6.11
by Imtiyaz

' SEGERA TERBIT '




Diterbitkan Oleh Penerbit ImtiyaZ

Read more

Keteladanan dari Sudut Pesantren

Posted in 11.6.11
by Imtiyaz

Menabur Benih Islam Ramah yang menjadi Rahmah
Oleh : Rijal Mumazziq Zionis



Seorang teman, dengan sinis menilai kontribusi pesantren dalam membendung terorisme pantas dipertanyakan. Ia bahkan mencurigai, “diam-diam” pesantren memiliki andil dalam memberi asupan gizi militansi dan kalori ekstrimitas pada teroris berjubah Islam. Ya, bom beberapa kali menyalak pada satu dasawarsa terakhir, menerbitkan kembali kecurigaan bahwa sikap ekstrim dalam beragama dipupuk di pesantren. Benarkah?
Sebagaimana yang dialami para alumni pesantren tatkala mondok dulu, tak ada kurikulum kekerasan di balik bangku-bangku panjang para santri. Semuanya berjalan secara apa adanya, dengan kitab-kitab standar yang sama, pola pengajaran yang tak jauh berbeda, hingga metode pendadaran santri yang khas. Tak ada yang pantas dicurigai dari pesantren. Jaringan-jaringan pesantren yang ada, mengingatkan Penulis pada tesis Bennedict Anderson mengenai Imagined Community (komunitas imajiner). Jenis komunitas ini ada, menurut Anderson, karena para anggota komunitas sebenarnya tidak mengenal satu sama lain, namun memandang diri mereka sebagai bagian dari komunitas yang sama. Ia adalah himpunan yang kurang lebih homogen, baik pada level “ruang” atau “waktu”.
Sebagai pewaris kejayaan keilmuan Islam masa klasik, pemahaman masyarakat bersarung terhadap khazanah keilmuan klasik secara komprehensif justru menghasilkan kemampuan khas untuk menyelesaikan persoalan rumit dengan bahasa yang sederhana. Pergulatan kiai, sebagai pemukanya, dengan khazanah kitab kuning (yang sering dituduh out of date) ternyata menghasilkan sebuah fleksibilitas dan efektifitas pengambilan hukum aktual-kontekstual yang dikalkulasikan atas pertimbangan hukum yang bermuara pada aspek mashlahah dan mafsadah.
Akan tetapi, kondisi pesantren adakalanya mengalami pasang surut di setiap zaman. Pesantren, ada saatnya manunggal dengan keraton sebagaimana yang terjadi pada masa Kerajaan Demak, menjadi oposisi pada masa-masa berikutnya, maupun menjadi jembatan antara keraton dan rakyat pada masa selanjutnya. Kondisi, kebutuhan dan keadaan-lah yang biasanya membuat pesantren mampu beradaptasi di segala zaman.
Akan tetapi, terdapat sebuah hubungan yang kurang mengenakkan antara pesantren dengan pemerintah, tatkala Orde Baru pada awal 1970-an mulai mengusung proyek developmentalisme. Islam Tradisional (gerbong masyarakat pesantren) yang sebelumnya cukup dekat dengan Orde Lama, kali ini harus mundur halus. Sebab, untuk mendukung keberhasilan proyek developmentalisme-nya, Orde Baru memilih bergandengan tangan dengan Islam Modernis, yang dianggap punya kemampuan manajerial lebih baik dibandingkan Islam Tradisional. Sejalan dengan itu, ruang gerak Islam Tradisionalis mulai dimampatkan, baik secara politis, sosial, kultural maupun birokratikal.
Modernisme Islam yang macet?
Hingga akhirnya, proyek Modernisme Islam yang hendak menggusur dan menggeser elemen Tradisionalisme Islam, nyatanya hanya berhenti para dimensi tanwir al-uqul (pencerahan akal) saja, yang berusaha mencapi simetrisme alias kesejajaran antara ajaran Islam dengan capaian-capaian teknologi modern dan konstruksi “penyeragamaan” ala masyarakat modernis. Ia mempromosikan sebuah sikap beragama yang “kota”, jauh dari tradisi-tradisi khas Islam “desa”. Proyeksi ini seolah cocok dengan klasifikasi Ernest Gellner mengenai Islam “tradisi tinggi” dan Islam “tradisi rendah”. Untuk itu, gerakan ini agak alergi dengan sufisme dan ritual yang dianggap kental dengan nuansa sinkretis.
Namun, proyek modernisme Islam ini mengalami kemacetan pada akhir 1980-an, seiring dengan memuncaknya efek samping kegagalan developmentalism. Dari sisi esoteris, Modernisme Islam gagal memberikan pijakan makna hidup kepada masyarakat urban yang mengalami—meminjam istilah Seyyed Hossein Nasr—“kesengsaraan spiritual”. Akhirnya, masyarakat urban mulai berpikir untuk melakukan sebuah rekonstruksi arah keagamaannya, dengan kembali melirik Islam “tradisi rendah” yang kaya akan dimensi tasawwuf, yang memiliki tawaran tanwir al-qulub, pencerahan hati. Akhirnya, tradisi dan ritual khas Islam tradisional perlahan-lahan diusung ke kawasan urban. Istighasah, dzikir akbar, dan parade keagamaan dirayakan secara ekstravagan di ruang publik perkotaan.
Ironisnya, proyek modernisme Islam yang yang macet ditambah dengan efek developmentalism yang gagal, juga melahirkan varian keagamaan lain. Varian gerakan keagamaan ini jumlahnya minoritas, namun militan, lincah dan memiliki jangkauan global. Mereka juga meneguhkan diri dengan penandaan identitas yang mencolok seperti jenggot, gamis, celana cingkrang, cadar, dll. Disebut berjangkauan global, karena mereka mengusung isu-isu internasional. Apalagi pada awal 1990-an, peristiwa memilukan yang menimpa negara-negara Islam mencapai puncaknya. Perang Teluk I, Konflik Palestina-Israel, Perang Afghanistan, Perang Balkan, dan kelaparan massal di beberapa negara muslim di Afrika, adalah “jualan isu” yang efektif mengatrol kuantitas varian baru ini.
Serentak dengan itu, Orde Baru mulai bersikap lunak terhadap Umat Islam dengan memberikan celah dibentuknya ICMI yang menandai “Islamisasi birokrasi” (untuk menandingi militer yang mulai menarik dukungan pada Pak Harto). Akhirnya, celah ini dimanfaatkan sebagai peluang untuk menyuburkan kajian ke-Islaman yang tersentrum di beberapa kampus “sekuler”, meskipun masih belum mencolok.
Akhirnya, tatkala Reformasi tiba, gerakan-gerakan Islam yang sebelumnya bergerak secara klandestein kembali menghidupkan isu-isu lama, seperti negara Islam Indonesia, menghidupkan kembali Piagam Jakarta, Formalisasi Syariat Islam, hingga Khilafah Internasional. Beberapa ormas kecil terbentuk dengan jumlah anggota tak seberapa namun sangat aktif dalam mendukung isu-isu di atas.
Namun, dari beberapa varian tersebut, sebenarnya ada gerakan sempalan yang sangat berbahaya. Mereka seolah mengalami egosentrisme religius dengan menafikan the others. Kebenaran hanya milik mereka. Sebuah logika hitam putih yang melahirkan vernunft trubung (pengeruhan akal), kata Emil Dofivat. Sebuah pandangan dikotomis yang pada akhirnya membuat pandangan picik. Mereka inilah yang berjuang dengan memakai kekerasan. Jaringannnya sangat luas, dengan pola sel terputus, dana melimpah, serta militansi, ekstrimitas dan loyalitas anggota yang tak perlu diragukan lagi. Gerakan inilah yang menjadi benalu di tubuh ummat Islam. Ia ibarat kanker; tak terdeteksi namun mematikan. Gerakan ekstrem ini kembali memakan korban kala beraksi di Masjid Polres Cirebon beberapa waktu silam. La’natullah alahi.
Kuncinya Pada masyarakat Bersarung
Kunci sebenarnya untuk membendung gerakan berbahaya ini ada pada the silent majority, kalangan mayoritas yang (seolah-olah diam) karena memang memakai strategi sepi ing pamrih rame ing gawe. Mereka inilah yang sebenarnya juga memiliki andil dalam membendung ekstrimitas beragama melalui lembaga pesantren sebagai basis gerakan, dengan kiai sebagai mastermind. Sistem pengajaran pesantren yang nonstop itu telah terbukti mencerdaskan santri secara utuh. Semua sasaran pendidikan, sebagaimana diungkapkan oleh Benjamin S Bloom, yaitu kognitif (pikiran atau hafalan), afektif (feeling atau emosi), dan psikomotorik (tindakan) telah digarap dalam sistem pengajaran pesantren yang demikian mengakar selama ratusan tahun.
Kaum bersarung inilah yang, dalam pandangan Sidney Jones, menjadi akar penguat agar moderatisme Islam tak ambruk. Mereka memilih menjadi mayoritas yang diam, di antaranya juga karena keterbatasan mereka dalam penguasaan media. Selain itu juga terkait dengan komitmen moral dan ajaran yang mereka yakini bahwa sikap tawaddlu adalah sesuatu yang mulia, dan sebaliknya sikap menonjolkan diri adalah sikap yang tidak sejalan dengan apa yang dicontohkan para ulama terdahulu. Aksi-aksi sosial membantu orang yang tidak mampu, mendidik orang yang tidak tahu, menumbuhkan spirit kemandirian di tengah masyarakat adalah dakwah bil hal yang kesemuanya didedikasikan sebagai ibadah. Sangatlah tidak elok jika ibadah sosial tersebut dipamerkan kepada orang lain sehingga akan mengurangi nilainya.
Mengapa harapan ini diletakkan pada komunitas bersarung? Sebab, berbeda dengan golongan (firqah) keagamaan yang lain, pandangan dunia pesantren (dan NU) menggabungkan tiga perspektif, yaitu dimensi teologis atau spiritual, dimensi akhlak atau tasawuf, dan dimensi hukum atau fiqh. Semuanya diposisikan saling menunjang dan melengkapi, bukan terpisah atau saling berhadapan.
Dimensi teologis berfungsi mengukuhkah ketauhidan serta membawa kesadaran akan fungsi manusia sebagai khalifatullah. Dimensi akhlak atau tasawuf dikembangkan untuk membangun suatu kultur yang berbasis pada nilai-nilai kesantunan, kebijaksanaan, dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Terakhir, dimensi hukum atau fiqh dikembangkan untuk menopang proses bagaimana hukum diterapkan. Ketiga dimensi di atas merupakan satu kesatuan, tidak bisa dikedepankan salah satu aspeknya saja. Beberapa hal di atas itulah yang menyebabkan akademisi Barat termehek-mehek jatuh hati pada dunia pesantren.
Ketiganya juga bisa dipakai sebagai acuan memahami kompleksitas pesantren. Ketiganya berfungsi sebagai “teropong” yang digunakan untuk menilai dan mempertimbangkan aspek masfsadah dan mashlahah segala sesuatu. Untuk itulah, pesantren hingga saat ini tidak gampang terjebak sikap tatharruf dan taasshub. Inilah yang saya kira menjadi kunci untuk mengkampanyekan “Islam ramah” yang menjadi “rahmah” bagi seluruh alam.
Mercusuar kampanye Islam rahmatan lil alamin dalam pengamatan saya memang sangat pas jika disematkan di pundak pesantren. Sebab pesanrtren memiliki posisi unik. Ia seperti berada di wilayah periferi kekuasaan negara, sekaligus hadir di jantung masyarakat. Dan, sebagai figur sentral pesantren dan masyarakat, kiai dituntut bersikap kontekstual, fleksibel dan elastis menyikapi dinamika sosial, sekaligus menjaga agar jatidiri dan sistem nilai pesantren tak luntur. Dalam strategi sosial kebudayaan, kepercayaan diri self confidence yang berkelindan dengan sikap pertahanan diri (self defensive) seperti ini, akan memberikan landasan kuat bagi transformasi sosial.
Strategi di atas, memungkinkan pesantren untuk melihat persoalan kemasyarakatan dengan prinsip dan nilai-nilai Islam. Dalam pandangan KH. Abdurrahman Wahid, lembaga yang dilahirkan dari strategi ini tidak akan menjadi institusi yang eksklusif, melainkan berupa institusi umum yang diterima oleh seluruh masyarakat.
Lebih dari itu, dalam berbagai pengamatan para ”orientalis pesantren” (Hirokoshi, Feillard, Jones, Bruinessen, hingga Geertz dll) ada dwifungsi vital pesantren sebagai centre of excellence yang menjadi kawah candradimuka pemikir agama (religious intellectual) sekaligus fungsi sebagai agent of development yang menangani pembinaan pemimpin masyarakat (community leader). Apabila fungsi pertama memaksa pesantren untuk berkembang menjadi pusat studi keagamaan dan kemasyarakatan, maka fungsi terakhir menuntut pesantren menjadi pionir dalam program-program pengembangan masyarakat itu sendiri. Pada titik ini, pesantren telah menahbiskan diri sebagai institusi pendidikan, dakwah sekaligus lembaga sosial.
Keberadaan kiai dan pesantrennya di wilayah rural memungkinkannya untuk selalu merasakan denyut nadi masyarakat marginal. Secara sosial-ekonomi-politik-budaya, masyarakat seperti ini jelas tak punya daya tawar pada negara yang hegemonik. Di sinilah, barangkali, posisi strategis pesantren dalam memberikan kontribusi besar pada social engineering dan transformasi sosial.
Maka, dalam catatan sejarah, muncullah nama-nama kiai dari sudut pesantren yang memiliki loyalitas tinggi mentransformasikan misi profetik. Tak perlu Penulis menyebutkannnya satu persatu, sebab halaman dalam makalah ini terasa tak cukup menampung nama-nama para kiai yang berjasa menancapkan akar Aswaja di bumi Nusantara serta menyumbang blue print Indonesia merdeka. Merekalah yang menjadi pionir, transformator, reformer, hingga tentu saja sebagai ulama pewaris nabi (Mohon maaf, saya sama sekali tak bernafsu meNuhankan kiai sebagaimana dikampanyekan penulis spesialis caci maki melalui buku “Bila Kiai Dipertuhankan”).
Ngrasani Kiai memang nagihi. Ia menjadi magnet bagi masyarakat santri. Posisinya-- meminjam istilah Abid al-Jabiri—adalah "istana imajiner", yang diidamkan banyak orang karena posisinya yang strategis dalam bidang agama, sosial, kultural, (dan politik?). Untuk itulah ada orang yang berusaha keras “mengkiaikan diri” meskipun masyarakat belum tentu mengamininya. Gelar kekiaian merupakan sebuah saripati budaya masyarakat Islam Jawa dalam menghormati tokoh (maupun benda). Namun demikian, tak ada lembaga resmi yang berhak menganugerahkan maupun mencabut gelar ini. Ia bersifat honoris causa dengan masyarakat sebagai tim penguji sekaligus promotornya.
Gelar “kiai” juga merupakan sebuah gelar yang indegenous Jawa (sebutan ini memiliki varian lain sesuai sosial-budaya setiap suku). Di negara-negara Islam bagian Arab dan Eropa, sulit dibedakan antara kiai dan pemikir. Sebab tidak berlakunya kultural gelar “kiai“ di sana, dan adanya perbedaan sistem Islam di lapangan, misalnya tidak berlakunya Islam sinkretik (kajian Clifford Geertz) atau Islam akulturatif (kajian Woodward) dan seterusnya. Umumnya bagi figur religius bangsa Arab berlaku gelar “syaikh“, atau “profesor“ di negara-negara Eropa/Amerika –lazimnya gelar akademisi.
Ada pendapat menyentil yang dikemukakan Arief Budiman, sosok yang bukan dari kalangan pesantren dan tidak begitu dekat dengan kiai. Dia membuat kategorisasi menarik, kiai itu ada tiga: Kiai produk masyarakat, Kiai produk pemerintah, Kiai produk pers. Kalau mau lebih detail, tambah KH. Mustofa Bisri dalam sebuah tulisannya, sebenarnya masih ada dua jenis kiai lagi; yaitu kiai produk politisi dan kiai produk sendiri. Dan, dari kategorisasi di atas, kita semua berharap ada sedikit harapan bahwa kiai yang benar-benar kiai masih dapat kita temui di masayarakat. Agar umat seperti kita dapat mencecap segala kealimannya, menguras segala kearifannnya, dan mengurai ajaran-ajaran damainya bagi seluruh alam.
Mustahil kiranya mewujudkan Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam tanpa melibatkan unsur pesantren. Ia adalah pewaris kegemilangan Islam di masa klasik. Akhirnya, hanya sejarah-lah yang akan menjadi hakim penentu (only history will be able to judge) atas upaya masyarakat pesantren dalam membangun tatanan sosial untuk kemaslahatan bersama. Wallahu a’lam bisshawab.

Alas Beton Soerabaia. 24 April 2011

Read more

ABOUT ME

Posted in
by Imtiyaz


Nama    : Rijal Mumazziq Zionis (Lelaki Penghancur zionis, Sorry  !! jangan pernah berfikir q orang zionis ^o^)


direktur utama penerbit buku imtiyaz
Tempat, tgl, lahir    : Jember, 30 April 1984...
Pekerjaan    : Penjual Buku, Radaktur Majalah AULA Nahdlatul Ulama, Direktur Penerbit Imtiyaz 
"Penerbit Buku Imtiyaz, Berupaya menerbitkan Suara Pena Hati anda secara "imtiyaz" (berbeda / istimewa) dan "mumtaz" (istimewa / berbeda) ^o^ "
Alamat    : Jl. Jemurwonosari Gg 4 Nomor 5 Wonocolo Surabaya



Riwayat Pendidikan
1.    MI Maarif II     Di Jember  Tahun 1996
2.    MTs Mabdaul Maarif   Di  Jember   Tahun 1999
3.    MA Al-Islam    Di  Ponorogo    Tahun 2002
4.    IAIN Sunan Ampel   Di  Surabaya  Lulus 2009
5.    Pascasarjana IAIN Sunan Ampel    2009-sekarang

Pengalaman Organisasi
1.    Menteri Advokasi Mahasiswa BEM-F Syariah 2005-2006
2.    Wakil Presiden BEM-Fakultas Syariah 2006-2007
3.    Ketua Divisi Pengembangan Intelektual PMII Syariah Cabang Surabaya
4.    Ketua Organisasi Santri Pesantren Mahasiswa An-Nur Surabaya

Pengalaman Jurnalistik
1.    Redaktur Pelaksana Rubrik Khazanah Pesantren Harian Bangsa 2004
2.    Wartawan Majalah Politik & Hukum Koridor 2007
3.    Redaktur Majalah AULA Nahdlatul Ulama  (2006-2010)
4.    Menulis di berbagai media cetak maupun maya












Karya Tulis :
1.    Cermin Bening Dari Pesantren: Potret Keteladanan Para Kiai
2.    Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis
3.    Antologi Cerpen Santri “Sekuntum Nyawa Untuk Sahabat”
4.    Mozaik Gus Dur (segera terbit)











Email : rizziq_zio84@yahoo.com
Contact person : 085645311110


Motto : ”Tanya Kenapa?”


Read more

Anak-anak Belajar dari Kehidupannya

Posted in
by Imtiyaz

Puisi karya Dorothy Law Nolte,
“Children Learn What They Live”
(Anak-anak Belajar dari Kehidupannya)

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan CINTA dan persahabatan…
Monggo, kita renungkan...

"Nggawe anak kuwi penak tur huennak, ning ndidik anak kuwi abot ra keukur...(Bikin anak itu gampang dan nikmat, tapi mendidiknya itu beratnya tak terukur)"
(Cak Agus, Tukang Ojek Terminal Ponorogo)

Read more

Acara Bedah Buku "Pengantin Teroris", oleh Imtiyaz

Posted in
by Imtiyaz

Memoar Singkat “Mujahid” Cengeng[1] 
(Tinjauan atas Novel “Pengantin Teroris: Memoar Jihad NA”)
 Oleh : Rijal Mumazziq Zionis[2]

bedah buku pengantin teroris karya tulis abu ezza yang diadakan oleh penerbit imtiyaz


Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, maka binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya” QS. Al-Mu’minun : 71

Dunia terorisme di Indonesia, jika diamati, sulit diberantas karena dua faktor; pemahaman dan interpretasi teks suci yang dilakukan secara serampangan, yang didukung kondisi ekonomi, sosial, politik di Indonesia yang masih labil. Faktor lainnya adalah pihak aparat masih menerapkan pendekatan kekerasan dalam memberantas aksi terorisme berkedok agama. Sungguhpun metode ini berhasil, namun efek yang dihasilkan tak kalah mengerikan. Bibit-bibit teroris muncul bak jamur di musim hujan, mereka ditempa di organisasi bawah tanah yang menggunakan metode penggemblengan melalui brainwashing, perekrutan terbatas, penggunaan sistem sel, yang didukung logistik memadai. Ironisnya, para perekrut gerakan ini di antaranya, adalah bekas-bekas narapidana tindak terorisme. Terbukti, jika penjara tak membuat mereka jera, tapi malah membuat mereka lebih canggih (karena selnya pun ditempatkan bersama-sama dengan terpidana terorisme lainnya).
Dan, aksi penyadaran anggota teroris agar kembali ke siratal mustaqim, ternyata bukan menggunakan cara-cara kekerasan, karena mereka akan terus melakukan aksi perlawanan, melainkan dengan menggunakan cara-cara yang lembut nan elegan. Dan, dalam novel Penganten Teroris inilah, saya menemukan kisah “taubat”nya seorang mantan teroris justru bukan dengan digebuki dan dicuci otak, tetapi menyentuh simpul-simpul hatinya. Sukree, eks-mujahid Afghanistan asal Malaysia, yang sepulangnya dari Afghanistan melanjutkan ekspansi “jihad”nya ke Indonesia pada medio 1990-an hingga tahun 2003, menebar terror bom bunuh diri dalam aksi Bom JW. Marriot Jakarta. Tentu bukan dirinya yang melakukan aksi itu, tetapi dua orang anak didiknya, yang pengetahuan agamanya masih polos tapi memiliki semangat beragama yang menggebu.  Mereka inilah yang menjadi “pengantin”, sandi bagi calon pengebom bunuh diri, yang konon, dijanjikan dinikahkan dengan bidadari surga. Hasil gemblengan Sukree inilah yang banyak menebar terror bom di Indonesia.
Konon, organisasi Jamaah Islamiyah, organisasi yang menjadi induk semang Sukree, ini adalah otak di balik aksi pengeboman di Tanah Air. Menurut Syekh Ali Muhammad Syarief dan Syekh Najih, dua anggota JI yang telah “murtad” dari kelompok ini, ada empat hal yang sangat berbahaya dari organisasi ini. Pertama, fanatik terhadap pendapat sendiri dan menolak pendapat orang lain. Pola pikir yang keras di antara mereka tak jarang berujung pada pemaksaan pemahamannya sehingga berujung pada kekerasan pula. Kedua, memahami teks agama secara harfiyah, misalnya, dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat mengenai ayat perang tanpa mengindahkan tujuan dan sebab turunnya ayat tersebut. Ketiga, mereka biasanya berlebih-lebihan dalam pengharaman. Dalam perspektif mereka, segala sesuatu yang tidak berlandaskan syariah adalah haram. Keempat, mereka sangat mudah sekali mengkafirkan orang lain atau pemerintah (h.120-121). Nah, faktor terakhir inilah yang membahayakan, sebab poin ini dijadikan alasan dan legitimasi pengeboman yang terjadi di Indonesia. Jika seseorang telah (dianggap) kafir, maka kekerasan atau pertumpahan darah, adalah “diperbolehkan”.
Poin-poin di atas, secara sekilas bisa mengingatkan kita pada ekstrimis Khawarij yang hidup beberapa abad silam. Secara organ gerakan, kelompok ini telah punah, tetapi secara pemikiran dan ideologi, Neo-Khawarij dengan pola gerakan yang lebih canggih telah menjadi orok yang membahayakan Islam sendiri.
Dan, Sukree, tokoh novel ini adalah bagian dari gerakan Neo-Khawarij yang secara kasat mata bernama Jamaah Islamiyah. Sebagai anggota kelompok ini, empat faktor di ataslah yang dia pakai sebagai landasan pengkaderan. Sebagai orang yang ditempa di medan perang selama beberapa tahun, nalar yang ia gunakan adalah logika kekerasan. Tak heran jika Sukree menyebut pemerintah Malaysia, Indonesia dan negara-negara lain yang tak memakai sistem Islam(i) sebagai Taghut (setan). Alhasil pemerintah “beginian” ini hukumnya, menurut mereka, boleh diperangi. Pola pikir yang dianut Sukree ini merupakan landasan dasar epistemologi mereka dalam melancarkan aksinya. Dasar epsitemologi inilah yang rata-rata menjadi ruh gerakan organisasi-organisasi Islam ekstrem. Memang, setelah perang Afganistan usai, para veteran mujahidin ini pulang ke negaranya masing-masing. Ada yang berdakwah secara damai, ada pula yang bergabung dalam organisasi-organisasi khas “mujahid”, seperti NII, Jamaah Islamiyah, dan Majelis Mujahidin Indonesia (saat ini bermatamorfosis menjadi Jamaah Ansharut Tauhid). Dan di antara yang paling militan adalah Jamaah Islamiyah.
Setelah banyak mengkader beberapa “mujahid” di Indonesia, Sukree akhirnya menemukan kesadaran kembali ke jalan Islam damai. Bukan pentungan polisi yang menyadarkannya, bukan peperangan yang membuatnya kembali, bukan penangkapan teman-temannya yang membuatnya “taubat”, tetapi justru perlakuan penjaga penjara-lah yang membuatnya merenung tentang aksi “jihad”nya selama ini. Setelah tertangkap dan ditahan, seorang sipir penjara; tua, beruban, ramah, dan beragama Nasrani (!) memperlakukannya secara lembut ketika ia mau shalat. Perlakuan inilah yang menggetarkan nuraninya; seorang Nasrani yang menghormati ibadah pemeluk agama lain dan mempercayainya meskipun ia seorang tersangka teroris. Getaran hati ini sebenarnya jauh hari pernah ia rasakan tatkala adiknya, Salmah, mengkritisi cara “Jihad”nya.
Melalui novel ini, Sukree, yang disampul ditulis dengan inisial NA,[3] digambarkan sebagai seorang Mujahid (tatkala di Afghanistan) yang agak “cengeng” dan perasa. Lihatlah bagaimana sebagai calon petempur meratapi kepergian Rahman (teman masa kecilnya yang gagal jadi Mujahid di Afganistan gara-gara kangen anak istri). Lihat pula bagaimana novel ini berakhir dengan perenungan Sukree terhadap aksi yang banyak merugikan orang lain (yang membuatnya “taubat”), setelah ia diperlakukan dengan hormat oleh penjaga penjara yang nasrani tua. Atau bagaimana perasaannya yang mengharu biru tatkala meninggalkan orangtua dan adik perempuannya tatkala mau pergi Jihad ke Indonesia.
Dalam banyak hal, novel ini kurang memiliki deskripsi karakter tokoh yang kuat. Semuanya ditampilkan kurang detail. Selain itu beberapa kontradiksi juga terjadi, misalnya orang tua Sukree di banyak halaman awal ditulis dengan nama Masdikun dan Miranah, namun di halaman akhir banyak tertulis menggunakan nama Pak Abas dan Bu Saemah (sejak halaman 114), calon tunangan Sukree yang diawal bernama Azizah, di halaman pertengahan hingga akhir banyak ditulis dengan menggunakan nama Indah.
Namun, kemampuan Abu Ezza mengeksplorasi sisi lain terorisme di Indonesia memang pantas diapresiasi. Ini adalah upaya bagaimana mengungkap aspek terorisme dari aspek yang lain. Seorang “Mujahid” ternyata tak setangguh aksinya di beberapa epos. Pejuang, teroris, mujahid, tukang perang, pemberontak, atau apaun sebutannya, tetaplah manusia. Ia memiliki nurani. Kalaupun saat ini kita berupaya mencegah dan memberantas aksi terorisme, bukan dengan cara kekerasan, kawan! Caranya? Sentuh hatinya! Demikianlah Abu Ezza mengajarkan kepada kita melalui novel Pengantin Teroris. Wallahu A’lam Bisshawab.


mass rizal direktur lagi membedah buku pengantin teroris karya abu ezza, pembedah buku pengantin teroris rizal mumazziq zionis






[1] Makalah ini dipersembahkan dalam diskusi dan bedah novel “Pengantin Teroris: Memoar Jihad NA” karya Abu Ezza, yang dilaksanakan di Pesantren al-Husna Surabaya, Selasa 1 Maret 2011)


[2] Bakul Buku Keliling sekaligus Direktur Penerbit IMTIYAZ Surabaya. 085 645 311 110. Email: rizziq_zio84@yahoo.com



[3] Kalau tak salah tebak, NA adalah inisial dari Nasir Abbas. Beberapa nama dalam novel ini memang menggunakan nama samara, misalnya (kalau tak salah tebak), Abdullah Sungkar disamarkan menjadi Abdussamad, Abu Bakar Ba’asyir disamarkan menjadi Abdul Halim, dan sebagainya.


mass rizal direktur lagi membedah buku pengantin teroris karya abu ezza, pembedah buku pengantin teroris rizal mumazziq zionis

Read more

Dari Pesantren Untuk Umat

Posted in 6.6.11
by Imtiyaz







Dunia pesantren begitu menarik untuk diteliti. Sudah banyak pemikir, dari dalam maupun luar negeri, yang memusatkan kajian mereka pada lembaga pendidikan indegenous Indonesia ini. Sekadar menyebut beberapa di antara mereka adalah Martin Van Bruinessen (Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat); Karel A Steenbrink (Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dan Kurun Modern); Manfred Ziemek (Pesantren dalam Perubahan Sosial); Zamakhsyari Dhofier (Tradisi Pesantren); Nurcholish Madjid (Bilik-bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan); Mastuhu (Dinamika dan Sistem Pendidikan Pesantren); dan lainnya. Dan, satu tarikan nafas dengan itu, buku Prof Dr H Babun Suharto SE MM ini mencoba untuk mengeksplorasi dinamika masyarakat global dengan berbagai tantangan nyata yang sedang dan akan dihadapi oleh dunia pesantren.

Tidak disangkal, dunia sekarang ini—meminjam istilah Alvin Toffler—memasuki apa yang disebut sebagai era informatika. Era ini dilambangkan oleh silikon dan microchip sebagai komponen teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence), seperti komputer, internet, kamera, ponsel, dan lainnya. Dengan demikian, power paling canggih sekarang ini bukan lagi yang ditopang oleh kekuatan fisik atau mesin, melainkan ilmu pengetahuan dan sistem (M Husnaini: 2010).

Fakta inilah yang harus dijawab dengan segera dan cerdas oleh dunia pendidikan di Indonesia, terutama pesantren. Sebagai satu-satunya lembaga pendidikan tertua di bumi nusantara, pesantren harus mampu menangkap dan memaknai pesan ini secara tepat dan bijak. Jika tidak, pelan-pelan masyarakat akan mengucap good bye pada pesantren, karena sistem pendidikannya dianggap tidak mampu melahirkan sumber daya umat (SDU) yang senafas dengan tuntutan zaman. SDU yang dimaksud oleh penulis buku ini adalah segenap energi, potensi, bakat, kemampuan, dan keterampilan umat Muslim yang dapat digunakan untuk tujuan-tujuan dirinya dan kepentingan bangsa, negara, dan agama dalam bingkai tanggungjawab sebagai hamba dan khalifah Allah (hal 60).

Memang, akibat pengaruh globalisasi, tugas yang dipikul pesantren tidak lagi ringan. Pesantren kini tidak boleh hanya sekadar menelorkan santri-santri yang mampu menggali khazanah keislaman dari literatur-literatur yang berbahasa Arab (Kitab Kuning), tetapi juga harus sanggup menggali aneka ilmu pengetahuan dari literatur-literatur yang berbahasa Inggris (Kitab Putih). Ini penting dilakukan, agar kelak lahir generasi bangsa yang unggul di bidang agama dan master di bidang sain dan teknologi. Dan, pesantren tidak mengalami—seperti kata Abd Rachman Assegaf—intellectual deadlock (kebuntuan intelektual).

Dalam rangka ini, penulis lalu mengusulkan sebuah konsep yang sangat kontekstual: agar pesantren menerapkan link and match dalam kurikulumnya. Artinya, harus terdapat kesesuaian antara pendidikan pesantren dan kebutuhan dunia kerja. Tegasnya, antara fiqh-based education dan scientific-based education harus terjalin secara seimbang. Inilah, kata penulis, perwujudan dari kredo yang sangat bagus itu, al-muhafadlatu ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

Meski sangat bersemangat dengan gagasan link and match, penulis mengakui bahwa link and match adalah sebuah istilah yang bukan berasal dari dirinya, tetapi Prof Wardiman Djojonegoro (Mendikbud 1993-1998). Seperti umumnya konsep hasil “ijtihad” manusia, penulis tidak lupa menyertakan beberapa kritik dari banyak pemikir pendidikan. Oleh Darmaningtyas, dalam buku Pendidikan Rusak-Rusakan, misalnya, dikatakan bahwa konsep link and match hanya akan menjadikan lembaga pendidikan sebagai pasar atau swalayan. Ia hanya dipakai sebagai instrumen penyuplai buruh dan kuli industri, bukan instrumen untuk mencerdaskan dan mendewasakan anak bangsa (hal 113).

Dan, sebagai jawaban atas kritik itu, penulis kemudian meluruskan bahwa dugaan link and match akan menjadikan lembaga pendidikan hanya berorientasi untuk memenuhi kebutuhan dunia industri adalah tidak tepat. Untuk itu, penulis berargumen bahwa yang dimaksud kebutuhan pasar di sini adalah bagaimana agar pendidikan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berbagai aspeknya, seperti pertanian, perikanan, perbankan, arsitektur, seni, dan lain seterusnya. Jadi, bukan dalam bidang industri saja (hal 114).

Dari sudut pandang Islam, gagasan yang diajukan penulis ini juga memperoleh pembenaran. Dalam al-Quran, Allah sudah mewanti-wanti umat Muslim agar dapat meraih kebahagiaan akhirat tanpa harus mengabaikan kenikmatan dunia (Lihat Qs al-Qashash, 77). Juga, kita bisa simak pesan lain yang senada dengan itu dalam ayat, “Wahai orang-orang beriman. Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila shalat telah dilaksanakan, menyebarlah kamu di bumi. Carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung (Qs al-Jumuah, 9-10). Ayat-ayat ini jelas menyiratkan makna agar kita selalu menjaga keseimbangan, dan ini juga dapat tarik ke dalam ranah pendidikan, terutama pesantren.

Kita harus ingat ungkapan Anthony Giddens. Ia menyatakan bahwa dunia sekarang sedang berlari kencang mengejar perubahan yang begitu cepat. Sebab itu, sebagai sebuah solusi alternatif untuk meneguhkan eksistensi pesantren di tengah cepatnya perubahan akibat arus globalisasi itu, kehadiran buku ini patut disambut secara positif. Terlebih, buku ini ditulis oleh seorang yang tidak saja peduli, tetapi juga pakar dan tahu secara persis lika-liku kehidupan kaum bersarung. Selamat membaca!

* Penulis dan Editor Buku, Sarjana Pendidikan Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya
 
Judul Buku: Dari Pesantren untuk Umat, Reinventing Eksistensi Pesantren di Era Globalisasi
Penulis: Prof Dr H Babun Suharto SE MM
Penerbit: Imtiyaz, Surabaya
Cetakan: I, Januari 2011
Tebal: xviii + 161 halaman
Peresensi: M Husnaini

Read more
Copyright @ Penerbit Imtiyaz