28.2.12

MEMBACA PEREMPUAN SEBAGAI SEBUAH TEKS

 


Ia hadir sejenak dalam perjalanan hidupku. Bercanda, bergurau, bercumbu melalui nada-nada kata kehidupan ini. Kebekuan hati dicairkannya melalui seuntas senyum yang selalu terlukis diwajahnya. Aku tak tahu, apakah aku yang tak kuat dan tak tahan menjaga kebekuan hati selama ini, atau memang karena kelihaiannya dalam memainkan nada-nada perhatian melalui sebentuk tanya “lagi apa” dan “di mana”.

Aku mencoba untuk memaknai semua sikapnya, senyumnya, serta tutur katanya. Predikat sebagai animal symbolicum benar-benar aku jalani. Manusia adalah mahluk penafsir, begitu kata pengajarku di kelas Filsafat yang pernah aku ikuti. Peran sebagai penafsir rupanya sangatlah luas. Objeknya tidak hanya sekumpulan teks-teks yang ada dalam kitab suci, buku, dan jagad raya, namun perempuan juga. Dan bagiku, yang paling sulit dijadikan objek penafsiran adalah perempuan..!!!!

Perempuan adalah hypertekstualitas. Multi tafsir terhadap teks kitab suci variabelnya tidaklah semulti penafsiran terhadap perempuan. Bisa di bilang pula membaca perempuan sebagai sebuah teks akan menghasilkan multi-multi tafsir yang akan saling bertumbukan, bertabrakan. Dan jangan coba-coba untuk menafsirkan sikap, senyum serta tutur kata seorang perempuan dengan menyelipkan sedikit saja secuil rasa, sebab itu akan membunuhmu, menjeratmu.

Analisaku ini tidaklah bermaksud untuk melakukan proses diskriminasi gender pada perempuan. Tidak..!!! Saya hanya menyarankan pada para penafsir, khususnya kaum laki-laki, untuk selalu menjadikan rasio sebagai fondasi yang harus di beri ruang yang luas dalam menafsirkan perempuan. Adanya penelitian yang menyebutkan, bahwa sebagian besar kaum pria lebih menggunakan rasio di banding perempuan sepertinya layak di kaji lagi.

Bukan apa-apa, tapi agar hasil penelitian itu bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Sebab banyak bukti pula yang menunjukkan kalau sebagian besar laki-laki juga menggunakan perasaan dalam mengamati dan membaca sesuatu. Mungkin kalian bertanya-tanya apakah tulisan ini muncul karena pengalaman pribadiku?

Ya......Ini pengalaman pribadiku dan pengalaman orang lain yang pernah membaca teks bernama perempuan dengan menggunakan pendekatan perasaan. Rasionalitasku hilang, tumpul. Ia ibarat pisau yang lama tak di asah. Berkarat. Makin menjadi-jadi saja saat teks “perempuan” itu berputar-putar membentuk anak kalimat yang multi makna, multi tafsir.

Kalau membaca teks kitab suci serta menafsirkannya bukanlah hal yang sulit bagiku. Selain karena teks kitab suci adalah sesuatu yang mati, maka kehendak kita untuk menafsirkannya dengan menggunakan metode yang sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tafsir. Namun, hal itu tidak bisa kita gunakan dalam membaca dan menafsirkan teks yang bernama mahluk ‘perempuan’. Teks yang satu ini, tidak mati. Hidup dan bergerak malah. Tidak bergeraknya saja sudah multi tafsir, apalagi bergerak berkait kelindan. Tentu akan makin banyak variabel yang menyelubunginya, dan makin banyak pula pisau analisa yang harus digunakan dalam menafsirkan teks bernama ‘perempuan’ ini.

Hal itu akan semakin menyulitkan penafsir atau laki-laki bila tanpa terlebih dulu menggunakan kerangka teoritik dalam membedah teks ‘perempuan’. Maka jangan heran, banyak sekali sejarah-sejarah para pembesar di masa lalu, mereka takluk dan bertekuk lutut di bawah tapak kaki teks ‘perempuan’. Pembaca tentu ingat khan dengan Gaius Julius Caesar, Sang Penguasa Romawi, betapapun kuatnya dia, pada akhirnya hatinya rapuh juga kala melihat pesona kecantikan dari Cleopatra.

Demikian pula denganku. Kesalahan dalam membaca teks ‘perempuan’, membuatku terperangkap dalam kerasnya permainan hidup yang dipancarkannya melalui seutas senyum dan sejuta tanya. Yaaah,,,,,,hanya teks ‘perempuan’ ini saja yang bisa membuatku menitikkan air mata dalam kesendirianku. Alaaah.....Cengeng banget kamu shof..!!! Mungkin itu hina kalian buatku. Tapi peduli amat.....Ini bukan soal kuat dan rapuhnya hati. Tapi soal berartinya sebuah PERASAAN..!!!!!.....

Air mata diciptakan bukan hanya untuk perempuan. Air mata ada agar siapa saja dapat menumpahkan kesedihan, karena alasan apapun. Mau laki-laki ataupun perempuan jika cinta membuatnya sakit, menangis bukan pertanda cengeng, tapi merupakan berartinya sebuah perasaan”...demikian yang dikatakan oleh mentor menulisku melalui pesan singkatnya.

Aku salah. Aku salah menafsirkan teks ‘perempuan’. Kesalahan itu berakibat fatal buatku. Eksistensiku hilang bersamaan dengan proses hegemoni yang dilakukan teks ‘perempuan’ pada pikiranku. Aku diombang-ambingkannya dalam arus yang begitu kuat menyeretku ke dasar jurang nestapa. Aku terpuruk sendirian dengan hati yang di tindih luka. Luka lama karena kesalahan yang sama dalam menafsirkan teks ‘perempuan’ kini tergores lagi, bahkan aku kira inilah luka yang paling perih yang pernah aku rasakan. Bagaimana mungkin aku akan menjalani sebuah hubungan seperti yang di jalani Jean Paul Sartre dengan Simone Bertrand De Beavouir? Atau seperti tokoh rekaan Robert Alley dalam sebuah karyanya, Last Tango in Paris, Paul dan Jeanne.?

Tak mungkin....!!! Sekali lagi, itu tak mungkin. Namun, aku tak kuasa menolak kehendak-Nya, bila memang ini adalah kuasa-Nya. Aku tak berarti apa-apa dan tak punya daya dan kekuatan apapun....Ya Rabbi,,,Aku tahu. Engkaulah pemilik Tahta Langit dan Bumi. Kekuatan-Mu mengalahkan kekuatan segala yang ada. Segala yang ada, berada dan dan ada karena Ada-Mu. Lalu salahkah hamba bila cinta yang ada dalam diri ini ada dalam diriku karena Ada-Mu dalam hatiku...?. Lempangkanlah jalanku untuk mencoba memaknai dan memecahkan arti hidup dan kehidupan ini....Lalu Putarkanlah jarum kehidupan ini dengan cepat, agar kutahu apa yang ada dalam kotak pandora teks ‘perempuan’ itu. Amien....!!!

Ditulis oleh Shofa As-syadzili  Surabaya, 27 Februari 2012
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments
'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan