23.4.12

Implikasi Perkara Haram Bagi Runtuhya Kehidupan

 

  Ditulis Oleh : Habib Hanif bin Abdurrahman Al Attos

 Korupsi, problematika yang kerap menjadi buah bibir di berbagai lapisan masyarakat ini mengalami peningkatan yang relatif signifikan setiap tahunnya. Indonesia Corruption Watch (ICW) pada Agustus 2010 merilis bahwa lembaga ini menemukan 176 kasus korupsi yang ditangani aparat hukum di level pusat maupun daerah. Nilai kerugian negara dalam kasus-kasus itu ditaksir mencapai Rp 2,102 triliun. ICW juga mencatat jumlah pelaku korupsi yang telah ditetapkan sebagai tersangka di tahun itu sebanyak 441 orang, Sedangkan sepanjang tahun 2009 hanya 217 orang.

    Sama halnya dengan korupsi, beragam praktek ekonomi terlarang dalam persepsi agama seperti riba, manipulasi timbangan, penipuan dan sebagainya, acapkali kita temukan di tengah masyarakat. Bahkan banyak yang berasumsi jika hal tersebut telah menjadi lumrah dan tak perlu diperselisihkan legalitasnya dari segala aspek, sehingga banyak pihak yang tanpa ragu menerapkannya di keseharian mereka.

    Fenomena tragis di atas mengindikasikan minimnya perhatian masyarakat dalam menjaga kehalalan hal-hal yang menjadi bagian vital dari kehidupan manusia lebih spesifiknya sandang, pangan dan papan. Padahal di dalam al-Qur’an Allah Swt. memprioritaskan perintah untuk mengkonsumsi makanan yang halal dari perintah untuk beramal saleh. Allah berfirman :

 “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

 Hal ini dikarenakan amal seorang hamba tidak akan diterima dan bermanfaat bagi dirinya jika bersamaan dengan mengkonsumsi makanan yang diharamkan oleh Allah Swt. dan ini selaras dengan Sabda Rasululloh Saw. “Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang baik dan tidak menerima kecuali yang baik” (HR.Muslim).

Dalam konteks ini, Baik atau tidaknya sesuatu bergantung pada kehalalannya. Sebab, tidak hanya makanan, sesuatu yang halal dapat dipastikan kebaikannya dan sebaliknya, disadari atau tidak apapun yang haram mengandung banyak keburukan di dalamnya.

    Sering kali kita mendengar keluhan banyak orang perihal do’a-do’a mereka yang seakan tidak mendapat respon dari Allah Swt. Tanda tanya besar pun muncul, faktor apa yang menyebabkan demikian? Bukankah Allah Swt. menjanjikan jawaban bagi hamba yang memohon padanya ? Rasul Saw. dalam sebuah riwayat mengisahkan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang sehingga penampilannya kusam dan debu mengotori rambutnya, dalam keadaan yang begitu mengenaskan diapun mengulurkan tangannya seraya bermunajat kepada Allah,“Ya Robb Ya Robb.” Akan tetapi di sisi lain makanannya haram, minumannya haram,sampai pakaiannyapun haram, menanggapi hal tersebut Rasul Saw. berkomentar “Bagaimana doanya bisa dikabulkan?” (HR.Muslim).

    Menyikapi Hadits ini, al Imam Abdulloh Bin Alawi al Haddad berkata : “Semua yang disebutkan dalam hadits ini merupakan faktor-faktor yang mendorong dikabulkannya do’a, sebagaimana diriwayatkan bahwa do’a musafir mustajab. Namun, semua menjadi sia-sia ketika bercampur dengan perkara haram, demikian halnya  amal soleh tidak akan memiliki nilai di sisi Allah jika terkontaminasi dengan perkara haram”. Bahkan Ibn ‘Abbas ra. berkata “Allah Swt. tidak menerima amal sholat seorang hamba sedangkan diperutnya ada sesuatu yang dihasilkan dengan cara haram”

    Tidak kita pungkiri, pada zaman ini kemerosotan moral telah menjadi pemandangan yang sudah lumrah. Anak durhaka pada orang tuanya, bahkan tanpa berpikir panjang cacian pun kerap dilontarkan sang anak kepada ayah dan bunda, seks bebas seakan menjadi budaya dan narkoba beredar dimana-mana. Jika kita renungkan lebih dalam, salah satu faktor kemerosotan yang begitu drastis ini adalah ketidakpedulian manusia kepada label HALAL dan HARAM. Keadaan ini telah tergambarkan dalam sabda Rasululloh Saw. :


“Akan datang pada manusia sebuah zaman yang seseorang tidak peduli lagi dari mana dia mengambil sesuatu,apakah dari halal atau haram ?? (HR.Bukhori).

inilah realita yang terjadi saat ini. Sehingga, raga mereka menolak ketika diarahkan kepada perbuatan baik, akhlakpun cenderung memburuk dan maksiat menjadi rutinitas serta dianggap sebuah kebiasaan. Dalam konteks ini Rasul Saw. bersabda “barangsiapa yang mengkonsumsi makanan haram, mau tidak mau anggota tubuhnya akan bermaksiat”,  dan sebaliknya jika seseorang teliti dalam menyeleksi kehalalan apa yang dikonsumsinya, akhlaknya menjadi baik, perangainya terpuji dan raga pun selalu tunduk dan khusyu’ ketika diajak untuk melakukan amal soleh, karena sabda Rasul Saw. “barang siapa yang selalu mengkonsumsi makanan halal, mau atau tidak anggota tubuhnya akan selalu taat“.

    Para ulama’ mengatakan bahwa seseorang yang tidak mengindahkan Halal dan Haram, jarang sekali diberi taufiq oleh Allah Swt. untuk melakukan kebaikan. Sekalipun secara dzhohir diberi taufiq, pasti amalnya akan rusak oleh penyakit-penyakit hati seperti ujub dan riya’. Disamping itu, harta yang diperoleh melalui jalan yang haram pada umumnya dialokasikan untuk pekerjaan yang dimurkai Allah. Imam Haddad mengatakan “Jika engkau hendak mengetahui status sebuah harta, maka lihatlah untuk apa harta itu dialokasikan, Halal atau Haram ? karena harta enggan untuk dipergunakan kecuali pada hal yang menjadi asalnya”.

Dalam keadaan ini, maksiat mendapat sokongan dana yang luar biasa, dengan mudah seseorang merogoh kocek dengan nominal besar untuk berfoya-foya, membeli minuman keras, melakukan tindak asusila, berjudi dan sebagainya. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika kita katakan bahwa kemerosotan moral yang begitu drastis sangat erat kaitannya dengan minimnya kepedulian ummat akan label halal dan haram.

Alhasil, perkara haram hanya memberikan banyak efek negatif bagi kehidupan pribadi, bermasyarakat, terlebih beragama. Dan puncak dari semua itu adalah kesengsaraan yang tak ada batasnya pada hari pembalasan. Rasulallah Saw. bersabda :“Setiap daging yang tumbuh dari makanan haram, maka neraka lebih layak untuknya”. Semoga Allah menjaga kita dari perkara yang yang haram, dan memberikan kita kemudahan dalam mencari rizki yang halalan thoyyiban, amin ya Robbal ‘alamin.(Hnf).
*artikel ini dimuat di majalah albashiroh edisi Jumadi tsani dalam rubrik Psikosufii
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments
'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan