8.5.12

SETIA HATI. mengalir bukan berarti pasrah

 


 Ditulis Oleh Syamsudin Samudra Kyai

Mengalir bukan berarti pasrah.

Filsafat kehidupan dengan berfilosofi ilmu padi dan air yakni Semaikin berisi semakin merunduk. Semakin seseorang bertambah ilmu semakin dia menyadari betapa dia mesti lebih banyak menundukkan kepala. Sehingga matanya tidak tertuju ke atas untuk mendongak. Melainkan melihat ke bawah ke arah hati.  lalu mengalir bak air dimana air selalu mempunyai sifat dan karakter berjalan sesuai kodrat iramanya. Selalu mencari celah untuk bergerak. Saat bergerak dia selalu menghindari batu cadas  yang menghalangi. Namun sesekali batu itu akan hanyut oleh terpaan dahsatnya air. Begitulah air. air tak pernah kalah dalam situasi dan kondisi apapun. Mengalir bukan berarti pasrah.

Menyadari hakikat padi dan air yang selalu berjalan sesuai kodrat iramanya selalu tunduk kepada titah sakwantah  yang tunduk  terhadap pemberlakuan hukum  tuhan.  adil terhadap manusia, adil terhadap alam, dan adil terhadap tuhan dengan selalu menjaga hubungan baik terhadap ketiga komponen, seorang setia hati akan menjadi manusia setia hati yang tunduk kepada perintah nurani yang bersumber bisikan tuhan. Ia sosok yang dapat mengamalkan memayu hayuning bawono. Yakni menjaga kelestarian dunia.

Berikut titah sakwantah filosofi  jawa

Ha-Na-Ca-Ra-Ka yakni utusan hidup berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, dan kewajiban manusia (sebagai ciptaan)

Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan saatnya dipanggil tidak boleh sawala atau mengelak. manusia dengan segala konsekuensinya harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup (Khalik) dengan yang diberi hidup. Maksdunya padha atau sama, sesuai, jumbuh, cocok, jodoh. tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu bermakna menang, unggul sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan.

Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

closing statemen.
“Bahwa hidup harus menerima.(awoh ing pandum) dengan pengertian yang benar. hidup harus memahami dengan pemahaman yang tulus. Tidak peduli dari mana penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang, Tidak masalah mesti lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.sebab tidak ada yang perlu disesali. Tidak ada yang perlu ditakuti.
Karena daun yang jatuh tak pernah membenci angin.”

27,28,29 april 2012. prigen pasuruan  jatim


Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments
'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan