25.10.12

Dewasa Dengan Menerima Perbedaan Pendapat

 


oleh : M Hanif Alatas
(Klik Nama diatas untuk berhubung langsung via FB)


“Seorang pakar hidup ditengah kalian”
Pada suatu hari, sahabat Abu Musa al-Asy’ari ra ditanya oleh seorang suami yang menyusu dengan istrinya saat melakukan hubungan intim, beliau berkata “ istrimu menjadi mahrom bagimu ( kau diharamkan atasnya), ia menjadi ibu susumu karena engkau telah menyusu dengannya”  Karena tidak puas dengan jawaban Beliau, suami tadi pergi menuju sahabat Ibnu Mas’ud ra dan mengajukan pertanyaan yang sama, Ibnu Mas’ud ra menjawab “ dia tidak menjadi mahrom bagimu, karena seseorang bisa menjadi mahrom dengan rodho’ah (menyusui) jika berusia dibawah 2 tahun”  mendengar jawaban Ibnu Mas’ud, sang suami bergegas kembali menuju sahabat Abu Musa al-Asy’ari dan mengabarkannya tentang fatwa yang dicetuskan oleh Ibnu Mas’ud ra, mendengar hal tersebut Abu Musa al-Asy’ari berkata “ (inilah hukum yang sesungguhnya) mengapa kalian bertanya kepadaku, padahal ditengah-tengah kalian ada seorang pakar ?”

“Tanpa sosok Ali, Hancurlah seorang Umar”
Pada masa kepemimpinan Sayyidina Umar bin Khottob ra, seorang yang mabuk dibawa mengahadap sang khalifah, karena konsisntensi beliau yang begitu tinggi dalam menerapkan syari’ah, iqomatul had (hukuman cambuk bagi konsumen minuman keras) menjadi pilihan beliau dalam menuntaskan problem ini. Menanggapi hal tersebut, Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra berkata kepada sang Khalifah “ lebih baik kau interogasi terlebih dahulu, mungkin ada Syubhah yang menyebabkan ia tak perlu di hukum !” petunjuk sayyidina Ali dilaksanakan dan ternyata hasil interogasi membuktikan bahwa ada sebab yang menyebabkan ia tak berhak menerima hukuman sehingga sayyidina Umar membebaskannya. Sebagai rasa terima kasih dan salut beliau terhadap Imam Ali, lahirlah ungkapan populer yang diucapkan Sayyidina Umar ra “ laula ‘Ali lahalaka ‘Umar ( tanpa sosok Ali, Hancurlah seorang Umar)” Ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.

Antara as-Syafi’i dan Sufyan at-Tsauri
Sebuah diskusi hebat seputar kesucian kulit bangkai (selain anjing dan babi ) yang disamak telah terjadi antara dua Imam besar, al-Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i dan Imam Sufyan at-Tsauri. As-Syafi’i berpendapat  bahwa kulit bangkai tidak akan pernah suci walaupun dengan cara samak (dabgh), beliau berdalil dengan surat Rasul saw untuk Juhainah yang berisi :

            " إنّي كنت رخّصت لكم في جلود الميتة, فإذا جاءكم كتابي هذا فلا تنتفعوا من الميتة بإهاب ولا عصب " رواه أبو داوود في سننه و أحمد في مسنده

“Dahulu, aku memberikan dispensasi bagi kalian dalam menggunakan kulit bangkai, jika surat ini sampai kepada kalian, maka janganlah kalian memanfaatkan kulit bangkai atau uratnya”( HR Abu Dawud dan Ahmad )
Sementara at-Tsauri berpendapat bahwa kulit bangkai (selain anjing dan babi) dapat disucikan dengan cara disamak, pendapat ini berdasarkan hadits Rasul saw :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَجَدَ شَاةً مَيْتَةً أُعْطِيَتْهَا مَوْلاَةٌ لِمَيْمُونَةَ مِنَ الصَّدَقَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هَلاَّ انْتَفَعْتُمْ بِجِلْدِهَا ». قَالُوا إِنَّهَا مَيْتَةٌ فَقَالَ  إِنَّمَا حَرُمَ أَكْلُه
 رواه مسلم« أَلاَّ أَخَذُوا إِهَابَهَا فَدَبَغُوهُ فَانْتَفَعُوا بِهِ » و في رواية

Diriwayatkan dari Ibnu ‘abbas ra bahwa Rasul saw menemukan sebuah bangkai kambing yang telah disodaqohkan kepada seorang budak milik maimunah, kemudian Rasul saw bertanya “mengapa kalian tidak memanfaatkan kulitnya ?” mereka menjawab”kambing ini adalah bangkai” Rasul Saw bersabda “yang haram hanyalah memakannya” dan dalam sebuah riwayat “ ambillah kulitnya ! kemudian mereka menyamak lalu manfaatkannya “ (HR. Muslim)

Setelah keduanya mengemukakan dalil masing-masing, muncullah hasil diskusi yang mungkin tidak terbesit sedikitpun dibenak kita. Keduanya memandang bahwa argumentasi masing-masing rivalnya lebih kuat dan tepat,  Dengan lapang dada, at-Tsauri seorang Imam besar, menarik fatwanya dan beralih kepada pendapat as-Syafi’i yang mengatakan bahwa kulit bangkai tak akan bisa suci walau dengan cara samak dan sebaliknya, as-Syafi’i yang dikenal sebagai lautan ilmu, dengan bijak menarik pendapatnya dan beralih ke pendapat at-Tsauri yang menjadikan samak (dabgh) sebagai cara untuk mensucikan kulit bangkai.

“beda orang, beda ide”
Sebuah redaksi ayat, hadits atau ungkapan biasa sekalipun, terkadang memiliki penafsiran berbeda yang mengindikasikan kepada perbedaan hukum, hal ini disebabkan karena perbedaan cara memahami sebuah redaksi yang memiliki banyak sudut pandang.” Likulli ro’sin ro’yun (beda orang, beda ide)" sebuah perkataan bijak yang mengajak kita untuk selalu toleransi terhadap pendapat orang lain bahkan menjadikannya sebagai bahan perbandingan dan pertimbangan demi kesempurnaan sebuah wacana atau program.

kisah-kisah di atas menjadi saksi bahwa lapang dada dalam menerima pendapat orang lain merupakan bukti kematangan dan kedewasaan. Tidak mudah bagi seseorang, terlebih yang memiliki reputasi baik dimata masyarakat, lebih tua dari lawan bicara, menyandang jabatan lebih tinggi, status sosial lebih terhormat atau teman sebaya sekalipun  untuk mengakui kebenaran pendapat rivalnya saat bertukar pikiran, apalagi di hadapan umum. namun dengan kematangan dan keluasan ilmu mereka, hal tersebut menjadi sesuatu yang mudah dan sama sekali tidak mengurangi derajat mereka di mata manusia bahkan kebijakan tersebut membuat mereka semakin terhormat.

Dalam konteks agama, Islam sangat menjunjung tinggi perbedaan pendapat dan menyebut keberagaman yang ada sebagai rahmat,  selama berada dalam koridor yang telah digariskan oleh al-qur’an dan sunnah. Bahkan ummat islam wajib toleransi terhadap perbedaan pendapat dalam permasalahan FURU’IYYAH, dan sebaliknya untuk poin-poin mendasar bersifat USHULIYYAH, islam MENUTUP RAPAT-RAPAT pintu toleransi bagi perbedaan pendapat didalamnya.

Dalam kitab ta’limul muta’allim disebutkan bahwa lelaki terbagi menjadi tiga, 1. Lelaki sejati 2. Setengah laki-laki 3. Sama sekali bukan laki-laki. Lelaki sejati adalah mereka yang selalu cermat dalam berpendapat, memiliki banyak inspirasi den mempunyai ide cemerlang, namun senantiasa meminta pertimbangan orang lain dalam mengambil tindakan, sedangkan setengah laki-laki alias banci adalah mereka yang punya pendapat cemerlang namun tidak pernah mendiskusikannya kepada orang lain begitu pula sebaliknya. Adapun orang yang sama sekali tidak punya sifat kejantanan adalah mereka yang tidak punya Ide sama sekali namun tidak pernah meminta pendapat dari orang lain.

Bisa menerima pendapat atau pandangan orang lain, dan tidak memaksakan kehendak, adalah cermin dari kedewasaan, kebijaksanaan dari seseorang. Seseorang yang sudah berpribadi matang, cenderung akan menghargai pendapat orang lain, dan orang yang belum dewasa akan cenderung memaksakan kekuatanya.

Jadi kenapa tidak, kita bergabung bersama untuk mendapat ide yang lebih baik, atau menghargai ide orang lain saat ide kita tidak diterima. Tetapi kita juga janganlah congkak ketika ide kita diterima. Mari kita saling menghargai perbedaan pendapat diantara kita. Karena manusia terdiri dari banyak pemikiran Dan mari kita buat perbedaan menjadi hal yang menyatukan.
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments
'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan