31.1.15

Cita Rasa FIlm

 

Trend politik di sebuah negara bisa dilihat melalui citarasa filmnya. Hollywood jagonya bikin beginian. Tentara AS yang babak belur di Vietnam pun tampil super di bioskop melalui akting Sylvester Stallone dan Chuck Norris. Musuh-musuh di film eksen kalau nggak komunis-Uni Soviet, bisa dipastikan muslim-Arab, sisanya Tiongkok. Persis gambaran paper Samuel Huntington tentang The Clash of Civilizations. Corak yang norak beginian sekaligus menggambarkan ke mana sebenarnya arah politik Amrik dihembuskan. Film "300" langsung terkerek manakala Persia menjadi lawan Sparta. Pas banget saat hubungan AS dan Iran semakin panas. Pun film "Argo"--yang dapat berbagai penghargaan--diluncurkan saat relasi kedua musuh bebuyutan ini meningkat tegang lagi. Lalu disusul film "The Lone Survivor" yang tayang di bioskop mengiringi penarikan pasukan Amrik dari Afganistan. Kemudian, film "Olympus Has Fallen" dan "The Interview" yang diluncurkan manakala hubungan AS dan Korea Utara kembali memanas. Oh my Dog!
Lain lagi dengan Iran. Di sini, kreativitas para sineas bergulir pada tema-tema yang ringan namun dalam; kehidupan, keluarga, dan pergulatan watak manusia. Abbas Kiarostami jago bikin beginian. Unsur politik dan tema kontroversial nyaris tak menjadi pilihan karena sensor politik yang masih ketat.
Kalau Jepang bagaimana? Saya sering mumet nonton bikinan sineas Jepun murni. Rada filosofis dan gemar menyusun puzzle cerita dengan adegan singkat dan kamera yang bergerak lambat. Beberapa film Akira Kurosawa adalah pengecualian. Yang paling gres, trilogi Kenshin Battousai, tentunya. Mengapa demikian? Anasir politik Jepang adem ayem di bawah. Kecuali gonta-ganti kabinet di level elit. Persis doktrin pasifisme Jepang di bidang militer. Landai saja [meski sejak Shinzo Abe memimpin, anggaran militernya naik berpuluh kali lipat].
Tiongkok bagaimana bro? Jelas ikut gaya Hollywood. Apabila dicermati, film-film buatan sineas Hongkong sebelum wilayah ini dikembalikan Inggris ke Tiongkok pada 1997, hanya menyodorkan film seputar dewa judi, triad, dan serial beladiri baik format film maupun tayangan televisi. Nyaris membosankan. Tapi terjadi perubahan tema secara signifikan sejak era 2000-an. Mulailah film bertema kerajaan besar masa lampau diangkat kembali. Epos kolosal digarap. Berderet-deret sejak Hero, Curse of The Golden Flowers, Red Cliff 1 & 2, The Myth, Lost Blade, Saving General Yang, hingga Fall of Ming. Sinematografi bagus. Spesial efeknya di atas rata-rata pula. Sutradara-sutradara Tiongkok yang sebelumnya telah berkiprah di Hollywood seolah melek kembali dengan mengangkat tema lokal untuk diinternasionalkan. Tsui Hark, Ang Lee, Zhang Yi Mou, John Woo, sampai aktor yang merangkap sutradara, Jackie Chan dan Donnie Yen, semua pernah mengerek kembali peradaban Tiongkok di masa lampau ke layar bioskop.
Tiongkok secara ekspansif terus melancarkan kampanye keagungan peradabannya. Ingatan kolektif kebesaran bangsanya sedang digulirkan. Ini jelas indoktrinasi yang sangat bagus.
Sekadar catatan, produksi sinema bertema epos-kolosal meningkat seiring dengan garis kebijakan Tiongkok di bidang ekonomi-industri dan militer yang semakin ekspansif. Anggaran militer saban tahun ditingkatkan dan melalui kebijakan Blue Water Navy, negeri Tirai Bambu semakin menunjukkan gejala menjadi negara adidaya di lautan. Sengketa wilayah laut Tiongkok bergulir dengan klaim mereka atas perairan yang berbatasan dengan Jepang, Indonesia, Vietnam, Taiwan, Brunei, Malaysia, dan Filipina. Klaim sepihak ini semakin meruncing manakala Tiongkok semakin memperbesar armada lautnya.
Entah kebetulan atau tidak, manakala Tiongkok bersinggungan keras dengan Jepang perkara Pulau Senkaku (Diaoyu), film karya Zhang Yi Mou berjudul "The Flowers of War" (2011) nongol. Ini film yang mengundang reaksi dan sentimen anti-Jepang karena Zhang mengangkat kembali tragedi Nanxing, 1937, dan kekejaman serdadu Jepang saat menjajah Tiongkok. Seolah tak mau kalah, Jepang malah memfilmkan pahlawan mereka dalam perang dunia II, Laksamana Isoroku Yamamoto, melalui "Admiral" (2012). Padahal, Yamamoto adalah penjahat perang versi Sekutu dan Tiongkok.
Di Korea Selatan nyaris sama. Produksi sinema bertema perang saudara tak henti diproduksi semenjak kebangkitan industri film ini pada awal 2000-an. Dari "Tae Guk Gi", "Into The Fire", sampai "War Of Arrow" dan "Admiral", Korea Selatan sedang menggali ingatan kolektif bangsanya. Mereka terus mengupas masa lampau bangsanya bukan semata sebagai penanda kebesaran, melainkan juga misi politis, baik positif maupun negatif.
Sekali lagi, bagi para penggerak industri perfilman dan pemerintah, film bukan semata produk industri dan seni, melainkan juga corong propaganda ideologis dan kepentingan terselubung. Setiap film senantiasa membawa misi dan menyediakan pesan di dalamnya.
Lebih dari itu, saya takjub melihat sineas perfilman yang sengaja pergi ke "masa lalu" dan menjadikannya sebagai pijakan melangkah di masa sekarang dan masa depan.
Dari penjelasan di atas, pertanyaannya adalah siapa nama vokalis Nidji:
a. Girang
b. Goreng
c. Garing
d. Gareng


Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments
'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan