22.12.16

Kebohongan yang disebarkan secara massif dan berulang-ulang, lambat laun akan dipercaya sebagai sebuah KEBENARAN

 


Di bulan maulud kayak begini, sejak awal fesbukan saya asyik menthelengi status-status mengenai keluhuran akhlak Rasulullah, keutamaan memperingati kelahiran Baginda, fadhilah shalawat, serpihan ceramah yang menyejukkan mengenai pribadi Kanjeng Rasulullah. Hal-hal semacam ini biasanya ditulis oleh kalangan Aswaja, khususnya yang berlatarbelakang pesantren dan kalangan habaib. Saya fokus menikmatinya dan menghindari debat soal peringatan maulid Nabi karena selain saya nggak menguasai jurus debat, hal yang terakhir ini kesannya malah eyel-eyelan dan nggak mempengaruhi sikap masing-masing pihak yang pro maupun kontra. Pernah melihat debaters berbalik sikap setelah melalui eyel-eyelan satu topik? Halah...!

Tapi itu dulu, sebelum gegeran Prabowo dan Jokowi terjadi, 2014. Setelah itu fesbuk membusuk. Sampah informasi berjejalan sedemikian rupa. Dibutuhkan upaya penyaringan yang ketat agar tidak terpengaruh, apalagi menyebarkan, sebuah informasi yang validitasnya tidak terjamin. Di WA maupun facebook, setiap informasi yang diterima, asalkan sesuai dengan pola pikir dan asumsi awalnya, akan disebarkan sedemikian rupa. Sangat jarang yang menahan diri agar tidak menyebarkan sebuah info yang "dianggap berharga & bermanfaat".
Hingga pada suatu ketika, kita akan merasa bosan berada di beberapa grup WA, di mana pada saat yang sama sebuah informasi yang tidak valid, bohong, dan mengandung fitnah akan disebarkan secara massif. Kalapun kabar tidak jelas ini telah menyebar, kita tidak akan pernah tahu sumber sesungguhnya kabar ini dan apa motif di belakangnya. Hingga pada akhirnya, saya percaya kalimat dari Joseph Goebbels, propaganda Hitler: "Kebohongan yang disebarkan secara massif dan berulang-ulang, lambat laun akan dipercaya sebagai sebuah KEBENARAN..."
Mau tahu bagaimana sebuah kebohongan dan informasi yang tidak jelas bisa mempengaruhi opini khalayak? Saya teringat curhat seorang dokter spesialis yang diuji kesabarannya manakala menangani pasien kanker stadium empat. Perempuan ini datang ke dokter dengan membawa "stok pengetahuan" mengenai penyakitnya yang dia peroleh dari internet. Dia peroleh pula dari info-info yang nggak jelas dari broadcast WA.
Ketika dokter memberikan diagnosa kemudian saran-saran terkait kanker si ibu, apa yang dia katakan. "...tapi dok, info yang saya dapatkan dari internet begini, sedangkan yang saya dapat dari WA itu begini. Kok berbeda dengan yang dokter sarankan ya?"
Seorang dokter spesialis yang berpengalaman, melalui pendidikan yang ketat, ditambah dengan diagnosa mendalam, pada akhirnya dibantah oleh seseorang yang mempercayai informasi yang dia terima hanya karena informasi ini disampaikan SECARA BERANTAI, MASSIF DAN BERULANG-ULANG baik melalui facebook maupun whatsapp.
Bagaimana dalam aspek agama? Anda bisa melihatnya sendiri...
ditulis oleh Rijal Mumazziq Z
Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam

No comments:
Write comments
'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan