14.5.17

Bu Risma

 


Bu Risma
-----
Saya pertama kali datang dari Gujarat (hahaha) ke Surabaya, tahun 2003. Saat itu Surabaya masih menjadi kota yang keras, panas, dan terasa kerontang di tengah rimba beton gedung-gedung perkantoran di sana sini, juga di tengah cerobong asap kendaraan bermotor. Panas, nas, nas. Kawan-kawan mengistilahkan kondisi cuaca di kota Pahlawan ini sebagai "neraka bocor".

Mungkin dua tahun setelahnya Surabaya mulai berbenah dari sisi tatakota. Yang pertama kali muncul adalah penanaman (kembali) pohon dan bunga-bunga di beberapa titik strategis, di penggir jalan, dan di pembatas jalan. Pemandangan hijau menyejukkan mulai tampak semarak. Sebelumnya memang ada bunga-bunga di pot besar, tapi dibiarkan merana, berdebu tak terurus. Saat itu barulah saya tahu apabila ada nama Bu Tri Rismaharini yang menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya sejak 2005.
Kalau anda berimajinasi kepala dinas hanya duduk di ruangan ber-AC, nerima upeti, ongkang-ongkang, lalu janjian dengan pengusaha untuk memuluskan tender proyek A, B, C, itu mungkin sesuai dengan gambaran kepala dinas di daerah anda, hahaha, yang kalau kita melaporkan ini-itu baru ditindaklanjuti setahun dua tahun kemudian, atau bahkan nggak digubris sama sekali. Kepala dinas dengan struktur birokrasi gemuk yang lamban dan menjengkelkan, yang merupakan potret sebagian besar birokrat di tanah air.
Tapi, perempuan ini lain. Dia gesit, lincah, blak-blakan dan tegas. Soal karier dia mengawali dari bawah, naik merangkak hingga menjadi pemimpin Surabaya. Sebuah proses meritokrasi birokrasi yang bagus di tengah ketidakjelasan tatanan birokrasi Indonesia.

Surabaya menjadi lebih hijau saat perempuan kelahiran Kediri ini menjabat sebagai kepala dinas kebersihan dan pertamanan. Dia akan marah apabila pohon dan bunga-bunga yang ditanam pasukan kuningnya di titik-titik strategis dirusak. Akhirnya, surabaya mulai mengasyikkan bagi saya sebagai pendatang. Setelah menjadi walikota, 2010, Bu Risma semakin "menggila" dengan berbagai konsep yang secara ril dipraktekkan. Mulai e-governance yang membuat tata kelola keuangan pemkot transparan dan meninimalisir kebocoran koruptif, melanjutkan proyek merapikan trotoar dan menjadikannya manusiawi untuk pejalan kaki, dan membuat berbagai taman dengan memanfaatkan lahan-lahan milik pemkot yang menganggur. Pak Dahlan Iskan menjulukinya "gila taman". Dengan cara ini, Bu Risma berusaha mewujudkan kota yang manusiawi.

Konsekwensinya, dia harus mengalami perlawanan DPRD Surabaya. Mereka menyodorkan proyek pembangunan tol tengah kota dengan menggunakan dana APBN. Bu Risma menolak, sebab dia fokus memperluas pembangunan di pinggiran kota Surabaya. Lagipula, tol tengah kota bakal memperrumit akses transportasi Surabaya dan tentu saja akan menimbulkan masalah baru mengenai ketersediaan lahan. Penolakan Bu Risma ditindaklanjuti dengan ancaman impechment dari DPRD (ya iyalah, proyek menggiurkan kok ditolak?). Ancaman gagal. Bu Risma tetap awet. Kalau anda mencermati, orang yang mau menggeser Bu Risma ini adalah politisi kutu loncat yang tersangkut banyak masalah: dari dugaan korupsi anggaran bimtek, di balik kisruh perpecahan Persebaya dan masalah gaji pemainnya, hingga masuk dalam pusaran korupsi yang dituduhkan kepada Dahlan Iskan. Sopo jenenge wong iki, rek? Golekono dewe ya. Benar-benar kampretos mamamia lezatos domestos nomos orang ini! Hhrrrrrhhh...Yang pasti dari kisruh politik dan polemik tol tengah kota ini kemudian KPK mencium adanya ketidakberesan, sehingga ketika dilacak ketemulah nama Mindo Rosalina Manulang, yang ketika ditelusuri merupakan bagian dari jaringan skandal korupsi anggaran PON Riau yang menjebloskan gubernur Riau ke jeruji besi. KPK melanjutkan pengusutan, lalu ketemulah skandal Candi Hambalang yang menyeret petinggi Partai Bemokrat itu. (liputan soal lika liku korupsi ini pernah menjadi bagian investigatif Majalah Tempo, entah edisi ke berapa).
Kota yang Manusiawi
Oke, kembali ke bahasan Bu Risma. Tahun 2014, saya bersama Pak Karim Raslan (kolumnis Malaysia) dan rombongannya bertemu walikota ini di kantornya. Bu Risma menyuguhkan jajanan tradisional: onde-onde, lemper, apem, cenil, klepon dan sebagainya, sembari menceritakan apabila kue-kue tersebut merupakan bikinan dari "alumni" Dolly yang sudah berhasil dibina oleh Pemkot. Kemudian Bu Risma juga berpromosi mengenai tas dan beberapa kerajinan tangan yang dia letakkan di meja khusus. "Ini adalah produksi dari mbak-mbak yang dulu menghuni Dolly, silahkan kalau mau dibeli, dengan senang hati," kata Bu Risma berpromosi kepada rombongan dari Malaysia. Tawanya renyah, mengalir dan nadanya juga santai. Semanak, kata orang Jawa.
Dolly adalah salah satu pe-er yang berhasil diselesaikan oleh Bu Risma. Perlawanan internal ada, tapi dia cuek. Protes dari PDI-P yang merupakan pengusungnya juga tak digubris. Dolly akhirnya tutup, setelah sebelumnya pemkot menutup lokalisasi yang lebih tua, Bangunsari (KH. Khoiron Syu'aib aktif berdakwah di lokalisasi ini sejak 1984 tanpa caci maki dan pentungan, apalagi penghakiman). Alumni dua lokalisasi ini dibina, dilatih, diberi modal dan dikaryakan. Makanya tadi Bu Risma dengan bangga memamerkan hasil karya perempuan alumni Dolly yang dibina oleh Pemkot. Kepada pada perempuan muda yang pernah menjadi korban traficking, Bu Risma juga memberikan nomor hapenya, semata-mata untuk menerima curhat, atau mungkin laporan terjadinya penjualan manusia. Dan, benar, tahun 2015 silam, beberapa gadis yang pernah menghuni Dolly lalu pensiun, ternyata kembali menjadi korban sindikat traficking. Posisi mereka ada di Batam. Salah satu korbannya kemudian menghubungi Bu Risma pada tengah malam, dan pada saat itu perempuan ini langsung berangkat bersama satuan reserse Hofdberau Polrestabes Surabaya. Kasus terbongkar berkat jalinan emosional antara Bu Risma dengan para gadis ini. Berkat salah satu cara yang paling simpel: nomor hape pemimpinnya!
Sebatas pengetahuan saya, di era Bu Risma ini gaji petugas kebersihan yang menjaga keasrian kota mengalami kenaikan. Saat ini sudah standar upah minimum Surabaya. Selain itu, ada anggaran untuk memberi makan para lansia setiap hari. Dinas Sosial menjadi pelaksana teknis hal ihwal ini. Sedangkan untuk mengendalikan bonek perusuh, Bu Risma memberikan beasiswa bagi mereka untuk bersekolah di Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Surabaya. 17 April silam, ATKP mewisuda 44 taruna Senin (17/4). Dari jumlah itu, 11 wisudawan adalah Bonek. Mereka berhasil menempuh pendidikan selama setahun dengan beasiswa pemkot.
Keberhasilan sebelas Bonek itu menjadi buah kerja sama pemkot dengan GMF Aero Asia Garuda Indonesia. Siswa yang lulus langsung mendapat kontrak kerja. Namun, keberhasilan itu tidak didapat secara instan. Mereka harus mengalahkan ratusan Bonek yang juga mendapat undangan untuk ikut tes.
Pelepasan wisudawan itu terbagi atas dua jurusan. Yakni, 20 orang lulusan avionic dan 24 orang jurusan basic aricraft structure (BAS). Seluruh Bonek yang lulus berasal dari jurusan BAS. Mereka sudah disiapkan menjadi junior mechanic. Nah, keren, kan? Dulu perusuh, kini tetap menjadi bonek bermartabat sebagai mekanik pesawat.
Oke, sikap Bu Risma yang spontan terkadang juga menimbulkan kontroversi. Nggak usah saya sebutkan di sini. Tapi, sebagai pendatang yang merasa kerasan di Surabaya, saya melihatnya bukan sebagai tindakan politis, melainkan spontanitas khas "simbok" di mana ngomel menjadi salah satu fase pelepasan kemarahan atas ketidakberesan. Apalagi ini Surabaya, cuk, eh, cak! Di mana urat leher dan hentakan suara, terkadang, dibutuhkan untuk mengurai kerumitan dan kelambanan.
Selain kontroversi, tentu saja ada banyak prestasi yang diraih Bu Risma. Tak perlu saya sebutkan. Banyak beritanya kok. Banyak pula apresiasi warga Surabaya di fesbuk dan blog atas kinerjanya dalam menata kota. Soal taman, misalnya, oke oce deh! Ruang-ruang publik disediakan untuk memanusiwikan kembali manusia Surabaya. Ada interaksi kemanusiaan di dalam warna-warni taman, antara anak-orangtua, antara sahabat, dan antara unsur masyarakat, bukan hanya interaksi kapitalistik yang berjejalan di gedung-gedung. Taman-taman di Surabaya kembali menjadi wadah pertemuan manusia sebagai makhluk sosial yang berinteraksi secara jujur, bukan interaksi berdasarkan harga dan gengsi sebagaimana yang ditawarkan berbagai mal di Kota Pahlawan ini.
Surabaya memang bukan seperti The Big Apple New York, bukan seperti City of Lights Paris, bukan pula City Of Joy Kolkata, bukan juga City of Dreams Mumbai, tapi Surabaya tetap menjadi City of Heroes, bukan City Nurbaya maupun City Nurhaliza.
WAllahu A'lam Bisshawab
(Di atas Patas Ladju, Jember-Surabayaditulis oleh Rijal Mumazziq Z Posted by Penerbit imtiyaz,http://imtiyaz-publisher.blogspot.com/ Penerbit Buku Buku Islam. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wa Nasyr PCNU Kota Surabaya)

No comments:
Write comments
'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

-

Terbitan




Dgus dur dan sepakbola terbitan penerbit imityaz

ensiklopedia 22 aliran tasawwuf

Hilyah buku cerdas bahasa arab dan inggris

Dari Pesanteren untuk ummat terbitan penerbit imityaz

pengetahuan dasar alqur'an penerbit imityaz



Rasionalisasi Tuhan